Menjelang Perundingan, Konflik Internal Iran Memanas: Garda Revolusi Diduga Ingin Ambil Alih Kekuasaan


Ketegangan di Timur Tengah belum mereda menjelang perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Di balik upaya diplomasi tersebut, konflik internal di tubuh pemerintahan Iran justru semakin memanas. Garda Revolusi dilaporkan berupaya memperluas pengaruh dan bahkan mengambil alih kendali, sementara Amerika memperkuat kesiapan militernya jika negosiasi gagal.


AS Siaga, Negosiasi Bisa Berujung Konflik Baru

Menjelang perundingan damai yang direncanakan berlangsung dalam waktu dekat, Presiden AS, Donald Trump, kembali mengeluarkan peringatan keras kepada Iran. Ia menyatakan bahwa kapal perang Amerika di kawasan telah kembali dipersenjatai dan siap bertindak jika jalur diplomasi tidak membuahkan hasil.

Komando Pusat AS juga merilis foto-foto terbaru yang menunjukkan jet tempur F-35 lepas landas dari kapal serbu amfibi USS Tripoli, menegaskan bahwa kekuatan militer AS tetap berada dalam posisi siap tempur penuh.


Konflik Internal Iran Meningkat

Di sisi lain, situasi di dalam negeri Iran dilaporkan semakin tidak stabil. Menurut sumber yang dikutip media, terjadi perpecahan di kalangan elite pemerintahan terkait komposisi tim negosiasi.

Komandan Garda Revolusi, Ahmad Vahidi, disebut berusaha melemahkan pengaruh Menteri Luar Negeri Iran serta Ketua Parlemen. Ia juga mendorong agar tokoh baru, Mohammad Bagher Zolghadr, dimasukkan ke dalam tim perunding.

Namun, usulan tersebut ditolak oleh tim negosiasi karena dianggap kurang berpengalaman dan baru menjabat.

Lebih lanjut, Garda Revolusi juga bersikeras menolak pembahasan terkait program rudal Iran dalam agenda negosiasi, yang berpotensi memperumit jalannya perundingan.


Syarat Iran dan Ancaman Gagalnya Perundingan

Iran sebelumnya menyatakan tidak akan melanjutkan perundingan kecuali dua syarat utama dipenuhi:

  • Pencairan aset Iran yang dibekukan
  • Gencatan senjata di Lebanon

Ketua Parlemen Iran mengklaim bahwa kedua hal tersebut sebelumnya telah disepakati dengan pihak AS, dan memperingatkan bahwa negosiasi tidak akan dimulai jika komitmen itu tidak ditepati.


Ketegangan Regional Masih Tinggi

Sementara itu, konflik di kawasan terus berlanjut. Kelompok Hizbullah kembali meluncurkan rudal ke wilayah Israel, yang memicu sirene serangan udara di sejumlah kota termasuk Tel Aviv.

Militer Israel merespons dengan serangan balasan terhadap sekitar 10 titik peluncuran rudal. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa negaranya tidak akan tinggal diam terhadap setiap serangan.


Dampak Diplomatik Meluas

Ketegangan juga merembet ke hubungan internasional. Israel dilaporkan mengambil langkah tegas terhadap Spanyol karena sikapnya yang menentang operasi militer AS-Israel.

Spanyol sebelumnya:

  • Menolak kerja sama militer dengan Israel
  • Menutup wilayah udaranya bagi pesawat militer AS
  • Menarik duta besar dari Israel

Langkah ini semakin memperkeruh hubungan diplomatik di tengah konflik yang sudah kompleks.


Kesimpulan

Menjelang perundingan damai, situasi justru semakin tidak menentu. Di satu sisi, Amerika Serikat menunjukkan kesiapan militer penuh jika diplomasi gagal. Di sisi lain, konflik internal Iran—khususnya peran Garda Revolusi—berpotensi menghambat proses negosiasi.

Dengan meningkatnya ketegangan regional dan tekanan politik internal, peluang tercapainya kesepakatan damai masih penuh ketidakpastian. Dunia kini menanti apakah jalur diplomasi mampu meredakan konflik, atau justru membuka babak eskalasi baru di Timur Tengah.


#Iran #AmerikaSerikat #DonaldTrump #TimurTengah #GardaRevolusi #PerundinganDamai #KonflikGlobal #Israel #Geopolitik #BeritaDunia

0 comments