Banyak Negara Eropa Tangkap Mata-Mata PKC, Pakar: Dunia Mulai Melawan Ancaman Komunis China
![]() |
Yunani Tangkap Perwira AU yang Mengaku Jadi Mata-mata PKC
Pada Kamis lalu, Staf Umum Pertahanan Nasional Yunani mengumumkan penangkapan seorang kolonel Angkatan Udara Yunani. Perwira tersebut dituduh membocorkan informasi rahasia NATO kepada “pihak ketiga”.
Dalam pemeriksaan, sang perwira mengakui telah bekerja untuk PKC dan terlibat dalam aktivitas spionase.
Sebelumnya, pada Juli tahun lalu, empat warga negara China juga ditahan karena kedapatan memotret jet tempur Rafale dan fasilitas militer di sekitar Pangkalan Udara Tanagra, Yunani.
Pakar: Spionase adalah Strategi Lama PKC
Mantan pengacara Beijing sekaligus akademisi independen, Lai Jianping, menyatakan bahwa spionase merupakan metode lama yang digunakan PKC untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan.
“Dulu PKC merebut kekuasaan dengan menyusupkan agen ke dalam militer dan elite politik Kuomintang. Kini, demi mempertahankan rezimnya, PKC melakukan infiltrasi ke seluruh dunia,” ujarnya.
Menurutnya, negara-negara Barat kini semakin menyadari ancaman nyata yang ditimbulkan oleh aktivitas PKC.
Prancis Bongkar Kasus Spionase Data Satelit Starlink
Kasus serupa juga terjadi di Prancis. Kantor Kejaksaan Paris mengumumkan penangkapan empat orang yang diduga terlibat dalam aktivitas spionase untuk PKC, termasuk dua warga negara China.
Penyelidikan menyebutkan bahwa para tersangka masuk ke Prancis untuk mencuri data satelit jaringan Starlink, terutama data yang berkaitan dengan entitas militer, dengan tujuan mengirimkan informasi tersebut ke China.
Spionase Data, AI, dan Antariksa Jadi Fokus Baru
Peneliti Institut Riset Keamanan Nasional Taiwan, Shen Ming-shih, menjelaskan bahwa fokus pengumpulan intelijen PKC kini telah bergeser.
“Negara-negara Barat sudah terbangun. Sikap Eropa terhadap ancaman China kini jauh lebih keras,” katanya.
Ia menambahkan bahwa perang Rusia–Ukraina menjadi pelajaran penting.
“Konflik tersebut menunjukkan betapa krusialnya data satelit, Starlink, kecerdasan buatan, dan teknologi antariksa. Ini menjadi sasaran utama perang intelijen modern.”
Jaringan Mata-Mata PKC Meluas ke Warga Lokal
Sejak 2024, negara-negara seperti Yunani, Prancis, Ceko, Jerman, Inggris, Swedia, Norwegia, Belgia, dan Belanda telah mengungkap berbagai kasus spionase yang terkait dengan PKC.
Berbeda dengan pola lama, PKC kini tidak hanya mengandalkan mata-mata profesional, tetapi juga:
- Merekrut akademisi lokal,
- Pebisnis,
- Insinyur dan tenaga teknis,
- Hingga warga setempat sebagai agen bayaran.
Lai Jianping memperingatkan bahwa metode ini jauh lebih berbahaya.
“Mereka sangat tersembunyi. Karena berasal dari kalangan akademisi atau profesional lokal, mereka jarang dicurigai. Dampaknya jauh lebih besar dibandingkan spionase tradisional.”
Peringatan untuk Diaspora China dan Akademisi
Para pakar mengingatkan warga China di luar negeri dan kalangan akademisi agar menjauh dari upaya perekrutan PKC.
Shen Ming-shih menegaskan bahwa PKC kerap menggunakan:
- Program riset bersama,
- Sponsor penelitian,
- Hingga program Thousand Talents Plan,
untuk menjebak para ilmuwan dan profesional asing agar menjadi bagian dari jaringan intelijen.
“Begitu seseorang bekerja sama sekali, selanjutnya akan sulit melepaskan diri. Karena itu, sangat penting untuk berhati-hati agar tidak terjebak,” ujarnya.
Kesimpulan
Penangkapan mata-mata PKC di berbagai negara Eropa menunjukkan perubahan besar dalam sikap internasional terhadap China. Dunia semakin memahami ancaman nyata dari spionase PKC, terutama di bidang militer, data satelit, dan teknologi canggih. Meski kasus yang terungkap baru sebagian kecil, langkah tegas negara-negara Eropa menandai awal perlawanan global terhadap infiltrasi dan pengaruh PKC.
#China #PKC #Spionase #MataMataChina #KeamananEropa #Starlink #Intelijen #AncamanChina #BeritaInternasional #NATO #KeamananGlobal

0 comments