AS Tuduh PKC Lakukan Uji Coba Nuklir Rahasia, Dorong Perjanjian Kontrol Senjata Global Baru


Amerika Serikat menuding Partai Komunis China (PKC) telah melakukan uji coba nuklir rahasia dan mempercepat perluasan persenjataan nuklirnya. Setelah perjanjian pengendalian senjata nuklir AS–Rusia berakhir pada 5 Februari, Washington mendesak pembentukan perjanjian militer baru yang lebih komprehensif, dengan menuntut agar China ikut dimasukkan. Isu ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan global, termasuk insiden penembakan terhadap pejabat intelijen tinggi Rusia di Moskow.


AS Dorong Perjanjian Nuklir Baru, Libatkan China

Setelah Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis Baru (New START) antara Amerika Serikat dan Rusia resmi berakhir pada 5 Februari, pemerintahan Presiden Donald Trump menyerukan agar tidak sekadar memperpanjang perjanjian lama tersebut.

Trump menyatakan bahwa dunia membutuhkan perjanjian baru yang lebih modern dan menyeluruh, yang mampu mengatur perkembangan senjata nuklir jangka panjang dan mencakup negara-negara lain, terutama China.


AS Ungkap Dugaan Uji Coba Nuklir Rahasia PKC

Dalam Konferensi Perlucutan Senjata di Jenewa, Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Pengendalian Senjata dan Keamanan Internasional, Thomas DiNanno, mengungkapkan tudingan serius terhadap PKC.

“Pemerintah Amerika Serikat mengetahui bahwa China telah melakukan uji coba ledakan nuklir, termasuk persiapan uji coba dengan daya ledak ratusan ton,” ujar DiNanno.

Ia menyebut bahwa PKC diduga melakukan uji coba nuklir rahasia pada 22 Juni 2020, serta berusaha menyamarkan ledakan tersebut untuk menyembunyikan pelanggaran terhadap komitmen pelarangan uji coba nuklir.

Pernyataan ini memicu kekhawatiran besar di kalangan perwakilan negara-negara yang hadir.


China Diprediksi Miliki 1.000 Hulu Ledak Nuklir

Menurut pejabat AS, PKC tengah melakukan ekspansi besar-besaran terhadap arsenal nuklirnya dan diperkirakan akan memiliki lebih dari 1.000 hulu ledak nuklir sebelum tahun 2030.

DiNanno juga menuding bahwa Rusia membantu China dengan menyediakan dukungan teknis untuk pengembangan bahan fisil tingkat senjata, yang berperan penting dalam pembuatan senjata nuklir.


Insiden Penembakan Pejabat Intelijen Rusia

Di tengah ketegangan global ini, Rusia diguncang oleh upaya pembunuhan terhadap perwira tinggi militer. Pada 6 Februari pagi waktu Moskow, terdengar tembakan di sebuah apartemen di wilayah barat laut Moskow.

Korban diketahui adalah Letnan Jenderal Vladimir Alexeyev, pejabat nomor dua di Direktorat Intelijen Militer Rusia (GRU). Ia ditembak beberapa kali di bagian lengan, kaki, dan dada, lalu dilarikan ke rumah sakit. Pelaku masih buron.

Alexeyev dikenal sebagai figur penting dalam perang Ukraina, termasuk keterlibatannya dalam pengepungan Mariupol tahun 2022 dan negosiasi dengan pimpinan kelompok Wagner, Yevgeny Prigozhin, sebelum pemberontakan Wagner pada 2023.


Rusia Tuding Ukraina, Bukti Belum Disajikan

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menuding Ukraina berada di balik percobaan pembunuhan tersebut, dengan tujuan menggagalkan proses perdamaian. Namun, tidak ada bukti yang disampaikan, dan pihak Ukraina belum memberikan tanggapan resmi.


AS Nilai New START Sudah Tidak Relevan

Menurut Washington, New START memiliki banyak kelemahan, termasuk:

  • Tidak mencakup seluruh senjata nuklir yang telah dikerahkan
  • Tidak melibatkan China

“Singkatnya, perjanjian ini cacat. China tidak termasuk di dalamnya,” tegas DiNanno.

Amerika Serikat kini mendorong perjanjian baru yang lebih luas, modern, dan realistis terhadap kondisi geopolitik saat ini.


Kesimpulan

Tuduhan Amerika Serikat terhadap uji coba nuklir rahasia PKC menambah ketegangan geopolitik global. Dengan berakhirnya perjanjian New START, AS menilai sudah saatnya membentuk perjanjian kontrol senjata baru yang mencakup China. Di tengah meningkatnya ancaman nuklir dan insiden kekerasan terhadap pejabat tinggi Rusia, dunia kini menghadapi tantangan serius dalam menjaga stabilitas dan keamanan internasional.


#China #PKC #SenjataNuklir #UjiCobaNuklir #NewSTART #KeamananGlobal #KontrolSenjata #ASvsChina #Geopolitik #BeritaInternasional #AncamanNuklir

0 comments