Pakar: Serangan AS–Israel Dinilai Efektif, Rezim Iran Disebut Melemah Drastis


Memasuki pekan keempat konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, sejumlah analis menilai operasi militer yang berlangsung menunjukkan hasil signifikan. Seorang pakar Timur Tengah menyebut kemampuan balasan Iran melemah, bahkan mengindikasikan struktur kekuasaan rezim mulai runtuh. Namun, ancaman senjata strategis masih menjadi perhatian utama.


Operasi Militer Masuk Pekan Keempat

Operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang disebut sebagai “operasi kemarahan epik”, kini telah memasuki minggu keempat. Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa tujuan utama operasi hampir tercapai dan perang dapat diakhiri kapan saja.

Meski demikian, sejumlah analis menilai situasi di lapangan masih membutuhkan perhatian serius sebelum keputusan penghentian konflik diambil.


Pakar: Iran Kehilangan Kemampuan Serangan Balik

Analis Timur Tengah dari lembaga think tank Center for Security Policy, David Wurmser, menyatakan bahwa operasi militer berjalan lebih lancar dari perkiraan awal.

Menurutnya, Iran kini telah kehilangan kemampuan untuk melakukan serangan balasan secara efektif. Namun, ia menegaskan bahwa perang belum seharusnya diakhiri saat ini.

Ia mengungkapkan bahwa Iran masih memiliki sekitar 460 kilogram uranium yang diperkaya tingkat tinggi, serta ratusan rudal yang meskipun peluncurnya telah dihancurkan, tetap menjadi ancaman jika tidak diamankan.


Selat Hormuz Mulai Kembali Terbuka

Wurmser juga menilai bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz secara bertahap mulai kembali normal.

Namun, ia mengkritik sikap negara-negara Eropa yang sebelumnya dinilai kurang mendukung inisiatif pengamanan jalur tersebut. Menurutnya, hal ini mencerminkan menurunnya kesiapan pertahanan di Eropa.

Ia berpendapat bahwa banyak negara Eropa enggan terlibat langsung dalam konflik karena khawatir aset mereka menjadi target serangan, serta keterbatasan kemampuan militer untuk mempertahankan diri.


Inggris Dinilai Terlambat Beri Dukungan

Terkait keputusan Inggris yang baru pada Jumat mengizinkan AS menggunakan pangkalan militernya, Wurmser menilai langkah tersebut terlambat.

Ia menyebut bahwa sebagai sekutu dekat selama hampir dua abad, Inggris seharusnya dapat memberikan dukungan lebih awal dalam situasi krisis.

Menurutnya, keterbatasan akses pangkalan membuat AS harus menempatkan pesawat di lokasi yang lebih rentan seperti Israel atau wilayah yang lebih jauh, sehingga:

  • Waktu tempuh misi meningkat hingga lima kali lipat
  • Efektivitas operasi menurun drastis
  • Durasi perang menjadi lebih panjang

Klaim: Struktur Kekuasaan Iran Mulai Runtuh

Dalam analisisnya, Wurmser juga menyebut bahwa rezim Iran mengalami kemunduran serius hingga kehilangan pusat kekuasaan yang jelas.

Ia menggambarkan situasi di mana berbagai elemen—mulai dari anggota Garda Revolusi, pejabat pemerintah, hingga kelompok oposisi—tidak lagi memiliki rujukan kepemimpinan yang kuat.

Kondisi ini dinilai:

  • Melemahkan moral pihak yang mendukung pemerintah
  • Mendorong semangat kelompok oposisi
  • Menciptakan kekosongan kekuasaan yang berpotensi memicu ketidakstabilan lebih lanjut

Kesimpulan

Meskipun serangan militer Amerika Serikat dan Israel dinilai efektif dalam melemahkan kemampuan Iran, situasi di lapangan masih jauh dari stabil. Ancaman dari sisa persenjataan strategis serta ketidakpastian politik dalam negeri Iran menjadi faktor penting yang perlu diperhitungkan.

Pernyataan bahwa rezim Iran “telah runtuh sepenuhnya” masih merupakan analisis dari pihak tertentu dan belum tentu mencerminkan kondisi aktual secara menyeluruh. Oleh karena itu, perkembangan konflik ini tetap perlu dipantau secara hati-hati dengan mempertimbangkan berbagai sudut pandang.


0 comments