Ketegangan di Laut China Timur Meningkat, Aksi China Dinilai Perkuat Kerja Sama Negara-Negara First Island Chain
Ketegangan di Laut China Timur kembali meningkat setelah kapal Penjaga Pantai China dan Jepang berhadapan di sekitar Kepulauan Senkaku/Diaoyu pada peringatan 89 tahun Insiden 7 Juli. Di saat yang sama, Filipina meningkatkan kesiapsiagaan militernya menyusul meningkatnya aktivitas China di Laut China Selatan. Pengamat menilai langkah Beijing justru dapat memperkuat kerja sama keamanan negara-negara di kawasan First Island Chain.
Ketegangan kembali terjadi di perairan sekitar Senkaku Islands pada 7 Juli, bertepatan dengan peringatan 89 tahun Insiden Jembatan Marco Polo (Insiden 7 Juli), yang menjadi salah satu titik awal Perang Tiongkok-Jepang Kedua.
Menurut otoritas Jepang, kapal Penjaga Pantai China mendekati kapal nelayan Jepang Zuihō Maru yang sedang beroperasi di sekitar kepulauan tersebut. Insiden itu memicu konfrontasi dengan kapal patroli Japan Coast Guard yang kemudian menghalau kapal-kapal China dari lokasi.
Jepang Sebut Kapal China Membawa Meriam
Penjaga Pantai Jepang menyatakan dua kapal Penjaga Pantai China yang memasuki kawasan tersebut dilengkapi senjata meriam dan berusaha mendekati kapal nelayan Jepang.
Selain itu, dua kapal Penjaga Pantai China lainnya juga dilaporkan beroperasi di zona berdekatan. Menurut pihak Jepang, ini merupakan hari ke-235 secara berturut-turut kapal pemerintah China terdeteksi berada di sekitar Kepulauan Senkaku.
Sementara itu, pemerintah China menyatakan kapal nelayan Jepang telah memasuki wilayah yang diklaim sebagai perairan China di sekitar Pulau Chiwei (Akao) dan menyebut tindakan aparatnya sebagai langkah penegakan hukum.
Sengketa Kedaulatan Masih Berlangsung
Kepulauan Senkaku dikuasai oleh Jepang, tetapi juga diklaim oleh China dan Taiwan.
Setelah Perang Dunia II, berdasarkan Treaty of San Francisco, administrasi Kepulauan Ryukyu, termasuk Senkaku, berada di bawah Jepang. Namun, sengketa kedaulatan atas kepulauan tersebut hingga kini belum terselesaikan.
Sejumlah pakar menilai masing-masing pihak menggunakan dasar hukum dan sejarah yang berbeda dalam mengajukan klaim wilayah tersebut.
Pengamat: Aktivitas China Sudah Menjadi Pola Rutin
Peneliti dari Institute for National Defense and Security Research (Taiwan), Shen Ming-shih, menilai patroli kapal China di sekitar Senkaku bukanlah hal baru.
Menurutnya, aktivitas tersebut telah berlangsung secara rutin dengan tujuan mempertahankan klaim Beijing sekaligus menguji respons aparat Jepang. Ia menilai pemilihan tanggal 7 Juli memberikan dimensi simbolis secara politik, namun pola operasinya sendiri sudah menjadi kegiatan yang berulang.
Jepang Dinilai Makin Tegas
Pengamat militer Taiwan, Chi Le-yi, mengatakan hubungan Jepang dan China dalam beberapa tahun terakhir semakin tegang.
Ia menilai Jepang memperkuat kerja sama keamanan dengan Amerika Serikat serta mengadopsi kebijakan pertahanan yang lebih tegas dibandingkan sebelumnya. Meski demikian, ia memperkirakan kedua negara tetap berupaya menghindari konflik militer terbuka.
Laut China Selatan Juga Memanas
Di saat yang sama, situasi di South China Sea juga terus menjadi perhatian.
Presiden Bongbong Marcos meminta militer Filipina meningkatkan kemampuan pencegahan menghadapi aktivitas China yang dinilai terus meningkatkan tekanan di kawasan.
Tahun ini juga menandai satu dekade sejak putusan Mahkamah Arbitrase Permanen di Den Haag yang menyatakan bahwa klaim "sembilan garis putus-putus" (nine-dash line) China tidak memiliki dasar hukum berdasarkan hukum internasional. China hingga kini tetap menolak putusan tersebut dan terus memperluas aktivitas militernya di Laut China Selatan.
Pengamat: Tekanan Beijing Bisa Berdampak Sebaliknya
Sejumlah analis menilai meningkatnya aktivitas China di Laut China Timur dan Laut China Selatan justru berpotensi memperkuat kerja sama pertahanan negara-negara di kawasan First Island Chain, termasuk Jepang dan Filipina.
Menurut Shen Ming-shih, perkembangan situasi dapat mempercepat implementasi berbagai kerja sama pertahanan, termasuk pengiriman kapal perang Jepang kepada Filipina yang sebelumnya dijadwalkan beberapa tahun mendatang.
Kesimpulan
Insiden terbaru di sekitar Kepulauan Senkaku kembali menunjukkan tingginya ketegangan maritim di Asia Timur. Bersamaan dengan meningkatnya dinamika di Laut China Selatan, sejumlah pengamat menilai langkah-langkah China dapat mendorong negara-negara di kawasan memperkuat koordinasi keamanan dan kerja sama pertahanan. Meski demikian, berbagai pihak juga menilai seluruh aktor yang terlibat masih berupaya menghindari eskalasi menjadi konflik bersenjata terbuka.
#China #Jepang #KepulauanSenkaku #Diaoyu #LautChinaTimur #LautChinaSelatan #Filipina #FirstIslandChain #Geopolitik #BeritaInternasional #KeamananRegional

0 comments