Dorongan China untuk Mandiri Chip Berisiko Memperdalam Isolasi Teknologi
![]() |
| Para teknisi sedang mengerjakan peralatan pemrosesan cip di pabrik manufaktur semikonduktor di Suqian, Provinsi Jiangsu, Tiongkok, pada 20 Oktober 2025. STR/AFP via Getty Images |
China semakin agresif mengejar kemandirian industri semikonduktor untuk mengurangi ketergantungan terhadap teknologi Amerika Serikat dan negara-negara Barat. Namun, para pakar memperingatkan bahwa ambisi tersebut juga berisiko membuat industri teknologi China semakin terisolasi dari ekosistem teknologi global, terutama jika Beijing semakin membatasi penggunaan komponen, peralatan, dan teknologi asing.
BEIJING, CHINA — China terus mempercepat upayanya membangun kemandirian semikonduktor di tengah perang teknologi dengan Amerika Serikat. Beijing mendorong perusahaan domestik untuk mengembangkan chip, peralatan produksi, perangkat lunak, dan material semikonduktor sendiri.
Langkah tersebut bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap teknologi asing yang selama ini menjadi salah satu titik rentan industri teknologi China.
Namun, sejumlah pakar menilai strategi tersebut memiliki konsekuensi lain. Semakin China berusaha membangun rantai pasokan chip yang berdiri sendiri, semakin besar pula risiko industri teknologinya terpisah dari ekosistem teknologi global.
Perang Teknologi AS-China Mempercepat Kemandirian Chip
Dorongan China menuju kemandirian semikonduktor bukanlah kebijakan baru. Beijing telah berinvestasi besar-besaran dalam industri chip selama bertahun-tahun.
Namun, pembatasan ekspor teknologi yang diberlakukan Amerika Serikat dan sejumlah negara sekutu sejak 2022 membuat program tersebut semakin mendesak.
Kontrol ekspor AS ditujukan untuk membatasi akses China terhadap chip canggih untuk kecerdasan buatan serta peralatan manufaktur semikonduktor berteknologi tinggi.
Menurut Center for Strategic and International Studies (CSIS), kebijakan tersebut memang menghambat akses China terhadap teknologi terdepan dalam jangka pendek, tetapi pada saat yang sama justru mempercepat upaya Beijing menggantikan teknologi asing dengan produk dalam negeri.
Dengan kata lain, perang teknologi yang dimaksudkan untuk memperlambat kemajuan China juga memberikan dorongan kuat bagi Beijing untuk membangun kemampuan sendiri.
Beijing Dorong Penggunaan Peralatan Buatan China
Salah satu aspek penting dari strategi tersebut adalah pengembangan peralatan manufaktur wafer dan chip.
China telah mendorong perusahaan semikonduktor domestik untuk meningkatkan penggunaan peralatan buatan dalam negeri. Sejumlah laporan menyebut adanya kebijakan yang mengarahkan fasilitas manufaktur chip baru untuk menggunakan porsi tertentu dari peralatan domestik.
Langkah ini dimaksudkan untuk menciptakan pasar bagi produsen peralatan semikonduktor China sehingga mereka dapat meningkatkan produksi, memperoleh pengalaman dan memperbaiki teknologi.
Perusahaan seperti NAURA Technology dan Advanced Micro-Fabrication Equipment Inc. (AMEC) menjadi bagian dari upaya China mengembangkan peralatan manufaktur chip sendiri.
Namun, kemampuan China belum merata di seluruh rantai produksi.
Litografi Masih Menjadi Titik Lemah
Salah satu tantangan terbesar adalah teknologi litografi, yaitu proses yang sangat penting untuk mencetak pola sirkuit berukuran sangat kecil pada wafer silikon.
Teknologi litografi paling maju saat ini sangat sulit dikuasai dan membutuhkan kombinasi teknologi optik, sumber cahaya, perangkat lunak, material, serta sistem kontrol yang sangat kompleks.
China masih menghadapi kesenjangan besar dalam teknologi tersebut.
Perusahaan Belanda ASML merupakan pemain dominan dalam teknologi litografi canggih, khususnya mesin Extreme Ultraviolet (EUV) yang diperlukan untuk memproduksi chip pada node paling maju.
Pembatasan akses terhadap teknologi tersebut menjadi salah satu hambatan utama bagi ambisi China untuk mencapai kemandirian penuh.
Laporan pemerintah AS sebelumnya juga menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan China masih tertinggal dalam pengembangan peralatan yang diperlukan untuk manufaktur semikonduktor canggih.
Kemajuan China Tetap Signifikan
Meski menghadapi berbagai hambatan, China tidak dapat dianggap gagal dalam membangun industri semikonduktornya.
China telah meningkatkan kemampuan dalam sejumlah bidang, termasuk:
- produksi chip dengan proses manufaktur yang lebih matang;
- peralatan etching dan deposition;
- pengemasan dan pengujian chip;
- desain chip;
- chip untuk kecerdasan buatan;
- material semikonduktor;
- serta berbagai peralatan manufaktur chip.
Brookings Institution mencatat bahwa chip AI buatan perusahaan China telah meningkatkan pangsa pasarnya secara signifikan. Pada 2025, chip AI domestik China diperkirakan mencapai hampir 41 persen pasar China, dengan Huawei menyumbang sekitar separuh dari penjualan tersebut.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pembatasan teknologi Barat tidak sepenuhnya menghentikan industri chip China.
Sebaliknya, pembatasan tersebut mendorong Beijing dan perusahaan-perusahaan China untuk mempercepat investasi dalam teknologi alternatif.
Risiko Teknologi China Semakin Terisolasi
Persoalan yang muncul adalah apakah kemandirian teknologi dapat dicapai tanpa mengorbankan manfaat dari ekosistem teknologi global.
Industri semikonduktor pada dasarnya merupakan industri yang sangat terintegrasi secara internasional.
Satu chip dapat melibatkan desain dari satu negara, perangkat lunak dari negara lain, mesin manufaktur dari Eropa, material dari Jepang, produksi wafer di Taiwan atau Korea Selatan, dan pengemasan di negara lain.
Karena itu, membangun seluruh rantai pasokan secara mandiri merupakan pekerjaan yang sangat mahal dan kompleks.
Economics Observatory menilai bahwa kebijakan China menghadapi dilema antara kemandirian teknologi dan manfaat dari integrasi global. Dorongan menuju swasembada dapat memperkuat keamanan pasokan, tetapi juga berpotensi membuat China lebih terisolasi dari perkembangan teknologi internasional dan mempercepat fragmentasi pasar teknologi global.
Risiko Terjadi Dua Ekosistem Teknologi
Jika tren tersebut berlanjut, dunia teknologi dapat semakin terbagi menjadi dua ekosistem.
Ekosistem pertama dipimpin Amerika Serikat dan mencakup sejumlah negara sekutu serta perusahaan teknologi Barat.
Ekosistem lainnya akan semakin berpusat pada China dan perusahaan-perusahaan yang menggunakan standar, komponen, perangkat lunak, dan peralatan yang dikembangkan di China.
Fenomena tersebut dapat menciptakan apa yang sering disebut sebagai technology bifurcation, yaitu terpecahnya standar dan rantai pasokan teknologi menjadi dua kelompok yang berbeda.
Para ekonom dan analis telah memperingatkan bahwa dunia dapat menghadapi rantai pasokan dan aliran teknologi yang semakin terfragmentasi akibat persaingan teknologi antara AS dan China.
China Mengandalkan Investasi Negara
Untuk mengejar kemandirian tersebut, Beijing menggunakan kekuatan negara melalui subsidi, investasi pemerintah, kebijakan industri, dan dukungan terhadap perusahaan strategis.
Pendekatan tersebut memungkinkan perusahaan China mengembangkan teknologi yang mungkin sulit dikembangkan hanya berdasarkan pertimbangan keuntungan komersial.
Namun, strategi tersebut juga memiliki risiko.
Investasi negara yang sangat besar dapat menyebabkan perusahaan mengejar target politik dibandingkan efisiensi ekonomi. Selain itu, jika banyak perusahaan mengembangkan teknologi yang sama secara bersamaan, risiko kelebihan kapasitas dan pemborosan investasi dapat meningkat.
China sebelumnya juga pernah mengalami berbagai kegagalan dan masalah dalam investasi besar-besaran di sektor semikonduktor.
Huawei Berperan Besar
Huawei menjadi salah satu perusahaan yang paling penting dalam strategi kemandirian teknologi China.
Perusahaan tersebut mengembangkan prosesor AI dan berbagai teknologi chip yang dirancang untuk mengurangi ketergantungan terhadap perusahaan asing.
Perkembangan tersebut juga mendorong perusahaan China lainnya untuk membangun rantai pasokan domestik.
Laporan terbaru menunjukkan Huawei semakin aktif mendukung produsen peralatan semikonduktor domestik, termasuk perusahaan yang mengembangkan teknologi litografi dan komponen penting lainnya.
Namun, perusahaan China masih menghadapi kesenjangan teknologi dalam sejumlah komponen utama.
Kemandirian Tidak Berarti Bebas dari Ketergantungan
Para analis menilai bahwa China kemungkinan besar dapat terus meningkatkan tingkat kemandirian semikonduktornya.
Namun, mencapai kemandirian penuh dalam seluruh rantai pasokan merupakan tantangan yang jauh lebih besar.
Teknologi chip modern membutuhkan ribuan komponen dan teknologi khusus yang dikembangkan melalui jaringan perusahaan dari berbagai negara.
Bahkan ketika China mampu memproduksi mesin atau chip tertentu secara domestik, masih terdapat kemungkinan bahwa beberapa komponen di dalam mesin tersebut berasal dari luar negeri.
Dengan demikian, istilah "kemandirian" perlu dilihat secara hati-hati karena kemampuan memproduksi chip di dalam negeri tidak otomatis berarti seluruh teknologi yang digunakan dalam proses tersebut juga berasal dari China.
Ambisi 2030 dan Tantangan Jangka Panjang
China telah menetapkan ambisi menjadi salah satu kekuatan teknologi terbesar dunia dalam beberapa dekade mendatang.
Pemerintah China juga memasukkan semikonduktor sebagai sektor strategis dalam perencanaan ekonomi jangka panjang.
Rencana tersebut kembali mendapat momentum melalui Rencana Lima Tahun ke-15 untuk periode 2026–2030.
Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional China (NDRC) pada Agustus 2026 bahkan menyatakan keamanan rantai pasokan industri chip domestik telah meningkat secara signifikan dan China mulai bergerak dari sekadar terobosan teknologi individual menuju koordinasi rantai industri yang lebih menyeluruh.
Namun, pernyataan tersebut belum berarti China telah mencapai kemandirian penuh.
Kesimpulan
Upaya China membangun kemandirian industri semikonduktor merupakan respons langsung terhadap meningkatnya tekanan teknologi dari Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya.
Strategi tersebut telah menghasilkan kemajuan nyata. China semakin mampu memproduksi chip, peralatan manufaktur, material, dan teknologi AI secara domestik. Kontrol ekspor Barat bahkan secara tidak langsung telah mempercepat proses tersebut.
Namun, terdapat paradoks dalam strategi Beijing.
Semakin China berusaha menghilangkan ketergantungan terhadap teknologi asing, semakin besar kemungkinan industri teknologinya berkembang dalam ekosistem yang terpisah dari jaringan global. Jika tren ini berlanjut, persaingan AS-China tidak hanya akan menjadi persaingan antarnegara, tetapi dapat menghasilkan dua ekosistem teknologi yang semakin berbeda.
Bagi industri global, perkembangan tersebut berarti rantai pasokan semikonduktor kemungkinan akan menjadi semakin strategis, mahal, dan terfragmentasi. Sementara bagi China, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana memproduksi lebih banyak chip, tetapi bagaimana menguasai teknologi paling maju tanpa kehilangan akses terhadap ekosistem inovasi global.
#China #ChipChina #Semikonduktor #TeknologiChina #PerangTeknologi #ASChina #Huawei #ChipAI #AI #Semiconductor #ASML #SMIC #Teknologi #KemandirianTeknologi #ChipCanggih #PerangChip #EkonomiChina #TeknologiGlobal #RantaiPasokan #China2026 #BeritaChina #BeritaDunia #TruthMedia

0 comments