Nekat Rekam Kamp Xinjiang Secara Diam-Diam, Aktivis China Guan Heng Dapat Suaka Politik di AS
Dissiden China, Guan Heng, yang pernah merekam dan memublikasikan video kamp penahanan di Xinjiang secara diam-diam, akhirnya memperoleh suaka politik di Amerika Serikat. Setelah lebih dari lima bulan ditahan otoritas imigrasi AS, Guan kini dibebaskan. Dalam wawancara eksklusif, ia dan ibunya membagikan kisah perjuangan, risiko, dan keyakinan di balik keputusannya mengungkap rekaman tersebut.
Suaka Politik Disetujui, Bebas dari Tahanan Imigrasi
Pada 28 Januari, permohonan suaka politik Guan Heng resmi disetujui. Ia kemudian dibebaskan dari pusat tahanan imigrasi pada 3 Februari, setelah menjalani lebih dari lima bulan penahanan karena sebelumnya memasuki Amerika Serikat melalui jalur tidak resmi.
Guan menyebut masa penahanan itu sebagai salah satu periode paling sulit dalam hidupnya. Sementara itu, ibunya, Luo Yun, mengaku baru bisa merasa lega setelah mendengar kabar persetujuan suaka.
“Saat melihat anak saya, rasanya sangat terharu. Akhirnya semua ketegangan dan kekhawatiran selama lebih dari seratus hari benar-benar berakhir,” ujar Luo Yun.
Awal Mula: Dokumentasi Perjalanan hingga Isu Sosial
Kisah ini bermula pada 2018, ketika Guan mulai mendokumentasikan perjalanan pribadinya dan membuat video tentang isu-isu sosial di China.
Pada 2020, ia secara diam-diam merekam lokasi yang disebut sebagai “pusat pelatihan” di Xinjiang—yang oleh banyak pihak internasional disebut sebagai kamp penahanan massal.
Video tersebut kemudian dipublikasikan pada 2021, memicu perhatian luas.
Guan mengatakan bahwa sebagai warga negara yang kebebasan berpendapatnya dibatasi pemerintah China, ia merasa simpati terhadap orang-orang yang diduga ditahan.
“Sebagai warga biasa yang kebebasan berbicaranya dibatasi pemerintah China, saya bersimpati dengan nasib mereka,” ujarnya.
Temuan di Lapangan: “Sekolah” dengan Kawat Berduri
Dalam kunjungannya, Guan menemukan bangunan yang secara resmi disebut sebagai “sekolah pelatihan”, tetapi memiliki ciri-ciri berbeda dari sekolah pada umumnya.
Salah satu lokasi yang ia lihat tampak seperti sekolah, tetapi:
- Dikelilingi pagar tinggi dengan kawat berduri
- Pengamanan sangat ketat
- Tidak terlihat seperti fasilitas pendidikan biasa
Di Urumqi, ia juga melihat beberapa bangunan tanpa papan nama dan tanpa penanda di peta digital, tetapi dijaga secara ketat. Saat itu, Guan menyadari bahwa aktivitas perekamannya sangat berisiko.
Untuk menghindari pemeriksaan, ia menyembunyikan kartu memori (SD card) di sudut-sudut tersembunyi di dalam mobilnya.
“Jika saya memublikasikan video itu di China, saya pasti akan ditangkap. Dan jika ditangkap, saya yakin akan mengalami penyiksaan,” katanya.
Memilih Meninggalkan China
Menyadari risiko besar tersebut, Guan akhirnya memutuskan meninggalkan China.
“Kalau videonya tidak bisa dipublikasikan, lalu apa gunanya semua ini? Setelah Mei, saya memutuskan harus pergi ke tempat di mana saya bisa mengunggah video itu,” jelasnya.
Keputusan itu membawanya ke Amerika Serikat, meski harus menghadapi proses hukum dan penahanan imigrasi sebelum akhirnya mendapatkan suaka.
“Saya Tidak Pernah Menyesal”
Meski menghadapi ancaman dan masa tahanan yang berat, Guan menegaskan bahwa ia tidak pernah menyesali tindakannya.
“Saya tidak pernah menyesal. Ketika melihat kembali apa yang saya lakukan, saya percaya semua itu bermakna,” ujarnya.
Kesimpulan
Kasus Guan Heng kembali menyoroti isu kebebasan berekspresi dan kontroversi terkait kamp penahanan di Xinjiang. Perjalanannya—dari perekaman diam-diam di bawah risiko tinggi, melarikan diri dari China, hingga memperoleh suaka politik di Amerika Serikat—menggambarkan kompleksitas persoalan hak asasi manusia dan tekanan politik yang masih menjadi perhatian dunia internasional.
#Xinjiang #KampXinjiang #China #PKC #HakAsasiManusia #SuakaPolitik #DissidenChina #KebebasanBerekspresi #BeritaInternasional #ASChina

0 comments