Xi Jinping Hantam 10 “Macan Besar” dalam Sebulan, Pucuk Pimpinan Militer China Dihabisi
![]() |
| Ilustrasi |
Sepanjang Januari 2026, pemimpin PKC Xi Jinping menggencarkan gelombang penindakan terhadap pejabat tinggi, dengan menjatuhkan sedikitnya 10 “macan besar”, termasuk dua petinggi militer. Dalam tiga tahun terakhir, pembersihan besar-besaran di tubuh militer China telah menumbangkan 133 jenderal, memicu analisis bahwa kampanye antikorupsi kini berubah menjadi konsolidasi kekuasaan politik dan loyalitas personal.
Januari 2026: Sepuluh Pejabat Elite Tumbang
Pada 31 Januari 2026, situs resmi Komisi Pusat Inspeksi Disiplin dan Komisi Pengawas Nasional China mengumumkan penyelidikan terhadap Menteri Manajemen Darurat Wang Xiangxi. Dengan pengumuman ini, jumlah pejabat tingkat pusat (zhongguan ganbu) yang tumbang sepanjang Januari mencapai delapan orang, lima di antaranya sudah pensiun.
Jika digabung dengan penangkapan Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (CMC) Zhang Youxia dan anggota CMC Liu Zhenli, maka dalam satu bulan Xi Jinping telah menjatuhkan 10 “macan besar”, termasuk dua petinggi militer aktif.
Pembersihan Besar di Tubuh Militer China
Dalam tiga tahun terakhir, militer China mengalami pembersihan yang digambarkan para pengamat sebagai “pemusnahan kolektif tingkat atas”. Total 133 jenderal telah tumbang, termasuk:
- 4 mantan Panglima Pasukan Roket yang semuanya dipromosikan langsung oleh Xi Jinping
- 3 “sekretaris besar militer” atau tangan kanan elite militer
- sedikitnya 18 jenderal aktif berpangkat tertinggi
- lebih dari 20 jenderal bintang empat yang “menghilang” dari publik
Beberapa analis bahkan menyebut Xi Jinping telah melakukan sesuatu yang “bahkan militer Amerika Serikat pun sulit lakukan”: memenggal pucuk komando militernya sendiri.
Tuduhan Politik di Balik Tuduhan Korupsi
Kepala Divisi Strategi dan Sumber Daya Institute for National Defense and Security Research Taiwan, Su Ziyun, menilai bahwa penindakan ini memberi Xi Jinping legitimasi politik dengan dalih “antikorupsi”, tetapi substansinya sarat muatan politik.
Menurutnya, tanpa sistem peradilan dan media independen, publik tidak dapat memastikan apakah para pejabat yang dituduh korupsi benar-benar melanggar hukum atau hanya menjadi korban konflik kekuasaan.
Ia menyoroti kasus Zhang Youxia dan Liu Zhenli, yang secara resmi dituduh “merusak sistem tanggung jawab ketua komisi militer”—sebuah tuduhan yang secara langsung menyasar loyalitas politik, bukan sekadar kejahatan finansial.
Kematian Misterius Tiga Jenderal Senior
Menjelang dan setelah kejatuhan Zhang Youxia, tiga jenderal senior PKC dilaporkan meninggal dunia berturut-turut, yaitu:
- Liao Xilong, mantan anggota CMC dan mantan kepala logistik militer
- Kui Fulin, mantan wakil kepala staf umum PLA
- Wang Zheng, mantan wakil komisaris politik Angkatan Laut
Dua di antaranya merupakan atasan langsung Zhang Youxia. Beredar kabar bahwa Liao Xilong meninggal akibat tekanan berat, bahkan disebut “meninggal karena marah”.
Angka Penindakan Terus Melonjak
Data internal menunjukkan:
- 64 jenderal militer diselidiki sepanjang 2025
- 31 pejabat dijatuhi hukuman pidana dalam kasus korupsi bernilai ratusan juta yuan
- sejak Xi Jinping berkuasa, hampir 5 juta pejabat ditangani aparat disiplin
Dalam sepuluh tahun pertama kekuasaannya saja, 160+ jenderal militer telah tumbang, termasuk dua mantan Wakil Ketua CMC: Guo Boxiong dan Xu Caihou.
Loyalitas Pribadi Jadi Ukuran Utama
Su Ziyun menegaskan bahwa fokus Xi Jinping kini bukan lagi sekadar disiplin institusional, melainkan kesetiaan pribadi kepada Xi.
Hal ini terlihat jelas sejak akhir 2024, ketika media militer China menerbitkan artikel yang menekankan “kepemimpinan kolektif dan demokrasi terpusat”, yang ditafsirkan sebagai tantangan terhadap otoritas personal Xi Jinping. Sejak itu, penindakan bernuansa politik di tubuh militer meningkat drastis.
Target Politik: Konsolidasi dan Taiwan
Pengamat militer dari kanal “Mark Space-Time”, Mark, menilai bahwa pembersihan militer ini berkaitan erat dengan ambisi Xi Jinping untuk:
- melanggengkan kekuasaan pada Kongres PKC ke-21, dan
- mempersiapkan opsi militer terkait Taiwan.
Menurutnya, Xi tidak puas terhadap jenderal-jenderal yang dianggap enggan berperang atau tidak sejalan dengan agenda politiknya, sehingga memilih “mengosongkan papan” dan membangun ulang struktur militer sesuai kehendaknya.
Kesimpulan
Gelombang penindakan terhadap 10 “macan besar” hanya dalam satu bulan, disusul pembersihan sistematis terhadap ratusan jenderal, menunjukkan bahwa kampanye antikorupsi PKC semakin sulit dipisahkan dari pertarungan kekuasaan internal. Alih-alih memperkuat stabilitas, tindakan ini justru menyingkap krisis kepercayaan, loyalitas, dan ketakutan di puncak kekuasaan militer China.
#XiJinping #China #PKC #MiliterChina #Antikorupsi #PolitikChina #PLA #GeopolitikAsia #IsuTaiwan #BeritaInternasional

0 comments