Rusia dan Ukraina Kembali ke Meja Perundingan Damai, Tarik-Ulur Global Jadi Sorotan
Rusia dan Ukraina kembali menggelar perundingan damai pekan ini dan mencapai kesepakatan pertukaran tawanan perang. Namun, konflik utama terkait wilayah strategis masih menemui jalan buntu. Di tengah proses negosiasi tersebut, dinamika geopolitik global—mulai dari peran Amerika Serikat, Eropa, India, hingga China—ikut memengaruhi arah perang Rusia–Ukraina.
Pertukaran Tawanan Disepakati, Wilayah Masih Buntu
Rusia dan Ukraina sama-sama duduk di meja perundingan pekan ini dan menyepakati pertukaran 314 tawanan perang. Meski demikian, isu krusial seperti kendali wilayah Donetsk dan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia tetap menjadi titik sengketa. Kedua pihak tidak mencapai kesepakatan dan masih saling mempertahankan posisinya.
Perundingan tiga pihak antara Amerika Serikat, Rusia, dan Ukraina yang digelar pada 4 Februari di Uni Emirat Arab pun berakhir tanpa terobosan berarti selain pertukaran tawanan.
Serangan Rusia Tetap Berlanjut di Tengah Negosiasi
Meski pembicaraan damai berlangsung, serangan militer Rusia tidak berhenti. Dua hari sebelum perundingan, Rusia meluncurkan 71 rudal dan sekitar 450 drone tempur, menargetkan berbagai infrastruktur energi di kota-kota besar Ukraina.
Akibat serangan tersebut, warga Ukraina harus bertahan dalam suhu ekstrem hingga minus 15 derajat Celsius, sambil berupaya memperbaiki pasokan listrik dan pemanas yang rusak.
Juru bicara Gedung Putih menyebut Presiden Donald Trump menyatakan keprihatinan, namun tidak terkejut atas serangan tersebut. Sementara itu, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mempertanyakan keseriusan Rusia dalam mencari perdamaian.
Peran Amerika Serikat dan Tenggat Negosiasi
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengungkapkan bahwa Amerika Serikat mengusulkan agar tim negosiator Rusia dan Ukraina kembali bertemu sepekan kemudian di AS. Ia juga menyebut Washington berharap seluruh proses perundingan bisa diselesaikan sebelum akhir Juni.
NATO sendiri diperkirakan akan menyediakan bantuan hingga 15 miliar dolar AS tahun ini, yang dapat digunakan Ukraina untuk membeli senjata buatan Amerika Serikat.
Eropa Hentikan Energi Rusia, India Disorot
Uni Eropa telah menyepakati langkah untuk menghentikan impor gas alam cair (LNG) Rusia pada akhir tahun ini, serta menghentikan sepenuhnya impor gas pipa Rusia paling lambat September 2027.
Sementara itu, Presiden Trump mengumumkan pembatalan tarif 25% terhadap India setelah India disebut berkomitmen menghentikan pembelian minyak Rusia. Namun, Rusia menyatakan belum menerima pemberitahuan resmi dari pemerintah India terkait hal tersebut.
Rusia Perkuat Hubungan dengan China
Sehari setelah isu India mencuat, Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan pembicaraan dengan pemimpin PKC. Putin menegaskan bahwa hubungan Rusia–China bersifat stabil, strategis, dan “hangat di sepanjang musim”, menandakan kedekatan kedua negara di tengah tekanan Barat.
Perjanjian Nuklir AS–Rusia Berakhir
Perjanjian New START antara Amerika Serikat dan Rusia resmi berakhir pada 5 Februari. Perjanjian ini membatasi kepemilikan maksimum 1.550 hulu ledak nuklir serta jumlah rudal dan pembom strategis yang dikerahkan.
Putin sebelumnya menyatakan kesediaan memperpanjang perjanjian selama satu tahun jika disetujui Trump. Namun, Trump menginginkan China juga dilibatkan, dengan alasan pengembangan senjata nuklir China dinilai tidak transparan dan tidak dibatasi perjanjian internasional.
Keraguan Warga Ukraina dan Insiden Baru
Di tengah proses damai, banyak warga Ukraina tetap skeptis. Lebih dari setengah penduduk menolak pengorbanan wilayah dan meragukan niat Rusia untuk benar-benar menghentikan perang.
Selain itu, pada 6 Februari, Wakil Kepala Intelijen Militer Rusia (GRU), Vladimir Alexeyev, dilaporkan mengalami serangan bersenjata. Pelaku melarikan diri, dan Rusia menuduh Ukraina berada di balik insiden tersebut, meski Kyiv belum memberikan tanggapan resmi.
Peristiwa ini dikhawatirkan dapat mengganggu kelanjutan perundingan damai.
Kesimpulan
Kembalinya Rusia dan Ukraina ke meja perundingan memberikan secercah harapan bagi perdamaian, namun realitas di lapangan menunjukkan konflik masih jauh dari selesai. Serangan militer yang berlanjut, sengketa wilayah strategis, serta tarik-menarik kepentingan global—melibatkan Amerika Serikat, NATO, Uni Eropa, India, dan China—menjadikan masa depan perang Rusia–Ukraina tetap penuh ketidakpastian.
#RusiaUkraina #PerundinganDamai #PerangRusiaUkraina #GeopolitikGlobal #AmerikaSerikat #NATO #UniEropa #China #PKC #NewSTART #EnergiRusia #BeritaInternasional

0 comments