Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Tembus US$80; Bursa AS dan Eropa Kompak Melemah


Ketegangan di Timur Tengah kembali memicu gejolak pasar global. Harga minyak dunia melonjak menembus US$80 per barel, sementara pasar saham Amerika Serikat dan Eropa mengalami penurunan. Investor khawatir lonjakan harga energi dapat mendorong inflasi dan suku bunga lebih tinggi.


Harga Minyak Melonjak di Tengah Konflik

Eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak dunia naik tajam pada Kamis (5/3).

Hingga pukul 14.00 waktu Pantai Timur AS, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 8,22% menjadi US$80,80 per barel.

Sementara itu, minyak mentah Brent Crude naik 4,66% ke US$85,19 per barel.

Sebelumnya sempat muncul laporan bahwa Iran bersedia bernegosiasi dengan Amerika Serikat, yang sempat menahan kenaikan harga minyak pada Rabu.

Namun pemerintah Iran kemudian membantah kabar tersebut dan menegaskan tidak pernah mengirim pesan kepada Amerika Serikat maupun meminta gencatan senjata dengan Israel. Setelah klarifikasi itu muncul, harga minyak kembali melonjak.


Serangan di Teluk Persia Picu Kekhawatiran Pasokan

Dengan meningkatnya konflik, sejumlah kapal tanker dilaporkan diserang di kawasan Teluk Persia.

Selain itu, drone Iran bahkan dilaporkan memasuki wilayah udara Azerbaijan, yang menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas dan mengancam negara-negara produsen minyak lainnya.

Situasi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.


Bursa Saham AS dan Eropa Turun

Kekhawatiran terhadap inflasi dan kenaikan suku bunga membuat pasar saham Amerika Serikat melemah.

Hingga pukul 15.20 waktu New York, indeks utama Wall Street mencatat penurunan:

  • Dow Jones Industrial Average turun 1,84%
  • S&P 500 turun 0,94%
  • Nasdaq Composite turun 0,71%

Di Eropa, indeks STOXX Europe 600 turun 1,3%.

Sektor industri memimpin pelemahan dengan penurunan sekitar 2,4%, sementara saham perusahaan seperti Siemens Energy jatuh sekitar 6%.

Saham perusahaan pertahanan seperti Rolls-Royce Holdings dan Rheinmetall juga turun lebih dari 5%.


Pasar Asia Bergerak Beragam

Sementara itu, pasar saham Asia menunjukkan pergerakan campuran.

Indeks KOSPI di Korea Selatan melonjak hampir 10% setelah pemerintah meluncurkan dana stabilisasi pasar senilai US$68 miliar yang diumumkan oleh Presiden Lee Jae-myung.

Di sisi lain, indeks Nikkei 225 di Jepang naik hampir 2%.


Dolar Menguat, Emas Terkoreksi

Di pasar mata uang, US Dollar Index menguat 0,44% ke level 99,24 setelah sempat melemah sehari sebelumnya.

Sementara itu, harga emas mengalami koreksi ringan:

  • Gold Spot Price turun 0,98%
  • Kontrak berjangka emas AS turun 1,25%

Di saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat terus naik untuk hari keempat berturut-turut.


Kesimpulan

Lonjakan harga minyak akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar keuangan global. Investor kini khawatir bahwa harga energi yang terus meningkat dapat memicu inflasi baru, memperlambat pertumbuhan ekonomi, serta mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Perkembangan situasi geopolitik di kawasan tersebut diperkirakan akan terus menjadi faktor utama yang mempengaruhi pergerakan pasar energi dan keuangan dunia dalam waktu dekat.


0 comments