Virus PKT Mendisrupsi Apa Saja, Me-restart Peradaban ke Titik Nol

Wabah virus PKT (Covid-19) mendisrupsi dunia | Sumber Foto:(Shutterstock)
#PuisiSaidMuniruddin #virusCorona #VirusPKT #CCPVirus #COVID19 #nCoV2019 #lockdown #socialdistancing #isolasidiri

ISWAHYUDI

BUBARNYA AGAMA
 Oleh Said Muniruddin
Makkah sepi
Madinah sunyi
Kakbah dipagari
Masjid tutup
Jamaah bubar
Jumat batal
Umrah di stop
Haji tak pasti
Lafadz adzan berubah
Salaman dihindari
Corona datang
Seolah-olah membawa pesan
Ritual itu rapuh!
Ketika Corona datang
Engkau dipaksa mencari Tuhan
Bukan di tembok Kakbah
Bukan di dalam masjid
Bukan di mimbar khutbah
Bukan dalam thawaf
Bukan pada panggilan azan
Bukan dalam shalat jamaah
Bukan dengan jabat tangan
Melainkan,
Pada keterisolasianmu
Pada mulutmu yang terkunci
Pada hakikat yang tersembunyi
Corona mengajarimu,
Tuhan itu bukan (melulu) pada keramaian
Tuhan itu bukan (melulu) pada syariat
Tuhan itu ada pada jalan keterputusanmu
Dengan dunia yang berpenyakit
Corona memurnikan agama
Bahwa tak ada yang boleh tersisa
Kecuali Tuhan itu sendiri!
Temukan Dia
___________________
Banda Aceh, 16 Maret 2020

Itulah sebuah puisi yang akhir-akhir ini beredar dan viral di berbagai platform media sosial bersamaan dengan fenomena wabah virus PKT (Covid-19) yang semakin menyebar tak terbendung di seluruh penjuru dunia. Horor yang diciptakan wabah corona ini ratusan bahkan ribuan kali bila dibandingkan aksi teror yang pernah ada dalam sejarah. Dan ketakutan ini belum bisa dipastikan kapan akan berakhir. Peradaban manusia menghadapi musuh tak kasat mata (invisible enemy) yang memporak-porandakan tatanan yang sudah ada. Negara-negara terjangkit ramai-ramai melakukan lockdown, social distancing, dan isolasi diri masif untuk mencegah wabah ini menjadi lebih buruk lagi. Tak peduli biaya ekonomi yang harus dibayar, asalkan warganya bisa bertahan dan masih tetap bernafas di hari esok.

Puluhan maskapai penerbangan rontok dan ikon-ikon pariwisata dunia sunyi-senyap bak kuburan. Bursa-bursa saham di penjuru dunia rontok. Para Taipan yang bergelimang uang dan pongah kehilangan kekayaannya bertriliun-triliun. Kerja keras dan hasil berbisnis puluhan tahun mengerut. Semua tak berarti kecuali sehelai masker dan hand sanitizer. Anti virus belum ditemukan. Ramai-ramai menghibur diri dengan ramuan rempah dedaunan sekenanya, dengan harapan bisa membius kepanikan. Aroma kematian merebak dimana-mana.

Corona tak pandang bulu bisa menjangkiti siapa saja, dari pengamen sampai seorang presiden, dari mantri hewan sampai ke menteri. Dari TKI sampai tokoh-tokoh terkenal berkelas tinggi. Baik si pasien maupun petugas medis yang mencoba menyembuhkannya, semua bisa terinfeksi.

Tiba-tiba secara global manusia dipaksa untuk melakukan “ritual nyepi” dengan tidak bepergian (amati lelungan), tidak bekerja (amati karya) alias work for Home, dan tidak berpesta-pora (amati lelanguan). Manusia dipaksa mengoreksi harapan, impian, dan passion yang selama ini mereka perjuangkan. Pernak-pernik tentang lifestyle berakhir seketika. How to survive adalah yang terpenting. Manusia diajak berfikir untuk menemukan maknanya makna. Tak cukup untuk menemukan makna dari satu peristiwa tapi menemukan makna dari kumpulan peristiwa yang mengguncang tak kunjung henti. Kenapa turbulensi kehidupan tak pernah reda malah semakin menggila? Perang dagang, demonstrasi dan amuk massa yang merebak di penjuru dunia, wabah virus PKT yang belum ada antivirusnya, dan terakhir perang minyak antara Saudi dan Rusia membuat penderitaan umat manusia semakin lengkap. Sepertinya ada sesuatu kebenaran yang terlupakan atau fakta terabaikan atau sumpah janji yang diingkari. Atau dunia telah salah arah? Sehingga harus ada wabah global yang dapat memberikan pelajaran keras. Tepatnya adalah sebuah hardikan tongkat. Hardikan tongkat bukan hanya untuk seseorang warga negara atau untuk warga sebuah negeri saja, tapi sebuah hardikan tongkat bagi seluruh umat manusia. Itulah pekerjaan rumah yang harus dijawab oleh penduduk planet biru ini.

Pada tahun akhir-akhir ini orang-orang gegap gempita dan terlena dengan isu tentang disrupsi digital yang tak terbendung, dunia dalam genggaman tangan, globalisasi, global connectivity dan lain-lain. Para elite dunia menganggap bahwa disrupsi teknologi digital adalah sebuah keniscayaan. Semua yang berbau konvensional dan tradisional adalah masa lalu. Tatanan Dunia baru telah datang, dan selamat tinggal masa lalu. Semua orang meyakini bahwa disrupsi digital ala globalisasi ini tak terbendung. Tak ada kekuatan di muka bumi yang bisa menghentikannya. Namun wabah virus PKT, mematahkan semua kredo itu. Sebuah gelombang disrupsi digital ala globalisme telah ter-disrupsi oleh pandemi. Sebelumnya, Saya sendiri sempat berfikir apakah ada kekuatan yang bisa mendisrupsi gelombang disrupsi digital. Ternyata ini jawabannya. Sebuah disrupsi pandemi yang me-restart peradaban manusia ke titik nol atau kembali ke basic. Pertanyaan selanjutnya untuk tujuan apa? Sebelum menjawab pertanyaan ini harus sepakat dulu bahwa pandemi ini bukan muncul dari ruang kosong. Ada sebab dan musababnya, bukan sesuatu yang stokastik (model matematik yang gejalanya dapat diukur dengan derajat kepastian yang tidak stabil), acak atau kebetulan. Sebagai manusia yang percaya akan kekuatan yang lebih tinggi, yaitu Tuhan, bahwa wabah ini adalah Dia yang gerakkan. Kalau ini sudah disepakati. Pertanyaan untuk tujuan Apa bisa bersama-sama dicari dan direnungkan. Ada beberapa kemungkinan jawaban yang bisa dipertimbangkan.

Pertama, untuk mengingatkan bahwa arah peradaban manusia sudah melenceng jauh dari blue print yang digariskan Tuhan.

Sebelum pandemi ini merebak, mata dunia dan kiblat dunia ramai-ramai mengarah ke RRT di bawah rezim komunis Tiongkok. RRT dipandang sebagai keajaiban ekonomi abad kini dan patut dijadikan role model bagi arah dunia ke depan. Separuh lebih negara di dunia terbius dengan ambisi kebangkitan jalur sutra baru dan mereka dengan senang hati menjadi bagian dari mimpi besar ini. Bahkan kebanyakan negara-negara itu rela membayar sangat mahal, mulai terkikisnya kedaulatan, tersandera hutang, pembunuhan nurani secara masif, pelan-pelan mengonversi ideologi cenderung ke kiri yang ateis dan anti tradisi. Isu kepedulian nurani pada pejuang nurani yang tertindas di Tiongkok seperti Falun Gong dan Muslim Uighur berani mereka remehkan demi ilusi kemakmuran ekonomi yang dijanjikan rezim komunis Tiongkok. Dan mimpi indah ini mulai terwujud, global connectivity yang dipimpin rezim komunis sudah mulai tersambung. Banyak yang telah menandatangani BRI (Belt Road Initiatives) atau OBOR (One Belt One Road) dan tatanan dunia baru ala komunis benar-benar bisa diwujudkan. Namun mimpi indah itu buyar. Yang ada adalah mimpi buruk. Berupa wabah yang berasal dari Wuhan yang diyakini oleh banyak ahli sebagai senjata biologis komunis yang bocor alias senjata makan tuan. Global connectivity yang ciptakan membawa kemakmuran, sontak menjadi pandemic connectivity yang menyebabkan wabah penyakit pneumonia wuhan ini menemukan jalannya untuk menjangkiti seluruh dunia. Kontan saja, negara-negara pemuja itu ramai-ramai meninggalkan RRT, kecuali beberapa yang nekad menjadi sahabat setianya sampai mati seperti Iran, Italia dan beberapa lainnya. Negara-negara yang setia pada komunis telah terkonfirmasi terjangkit wabah ini dengan sangat parah walaupun secara geografis terentang ribuan mil. Sementara negara yang dekat dengan Tiongkok yaitu Taiwan yang mengerti watak dasar rezim ini terkonfirmasi minimal terjangkit.

Namun di sisi positif dari wabah ini, berdasarkan citra satelit yang mengamati kondisi sebelum dan pasca wabah. Kondisi udara cenderung membaik selama prosesi lock down karena terhentinya sebagian besar aktivitas produksi pabrik-pabrik di Tiongkok. Ini berarti selama ini peradaban manusia begitu massif merusak alam, yang jangka panjangnya berpotensi memusnahkan manusia itu sendiri. Wabah ini sebenarnya bisa dipandang sebagai belas kasih Sang Pencipta untuk mengingatkan manusia bahwa ada yang salah dengan arah peradaban manusia yang memuja materi dan pertumbuhan ekonomi.

Pelajaran lainnya bahwa globalisasi adalah jalan buntu dan sangat berbahaya bagi seluruh umat manusia, karena berpotensi memusnahkan umat manusia dengan sangat cepat karena konektivitas itu ibarat jalan tol menuju kematian.

Maka ide tentang every nation have self destiny dan every nation for itself menemukan relevansinya. Dan ide satu pemerintahan tunggal dunia adalah ide yang buruk karena bertentangan dengan blue print dari Tuhan. Sebuah kitab suci mengatakan, bahwa “penciptaan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk tujuan saling mengenal satu sama lain” perlu dipikirkan kembali. Karena sejatinya ide globalisasi adalah ide tentang hegemoni tunggal di dunia ini dan itu bertentangan dari ketentuan Tuhan untuk “saling mengenal satu sama lain” demi mencari kepingan puzzle kemanusian yang terserak.

Kedua, Bertujuan untuk memberi memperingatkan kepada dunia untuk melakukan social distancing dengan rezim komunis Tiongkok. Data negara-negara yang terjangkit paling parah adalah negara-negara yang mempunyai hubungan yang sangat dekat dan intim dengan komunis Tiongkok. Italia, Iran, Spanyol contoh nyatanya. Indonesia yang beberapa waktu lalu sempat menjadi banyak pertanyaan dari dunia Internasional kenapa kasus infeksi wabah belum ditemukan padahal hubungan RI dan RRT sangat intim dengan kemitraan strategis komprehensifnya. Keheranan itu akhirnya terjawab begitu 2 pasien terinfeksi diumumkan oleh Presiden Joko Widodo. Seminggu kemudian kasus infeksi melonjak dengan eksponensial, kini telah …………. Melihat potensi resiko yang mengerikan ini, pemerintah tidak menerapkan kebijakan lockdown tapi social distancing di masyarakat. Apakah ini efektif? Yang menurut hemat penulis social distancing yang seharusnya juga dilakukan adalah social distancing dengan rezim komunis Tiongkok. Warganet Indonesia sempat geram ketika wabah melanda di Indonesia ada 49 WNA Tiongkok mendarat di Morowali Sulawesi.

Ketiga, Untuk memperingatkan kepada dunia bahwa ada korelasi antara virus PKT dengan paham komunis. Mungkin orang akan mengatakan bahwa saya mengada-ada. Coba kita membuat perbandingan antara sifat pneumonia wuhan dan Komunisme. Komunisme anti agama anti Tuhan, sedangkan wabah pneumonia wuhan membuat tempat ibadah kosong melompong ditinggal umatnya karena takut terinfeksi. Orang-orang pada takut ke rumah Tuhan. Komunisme anti-tradisi, pneumonia wuhan mendisrupsi tradisi sosialisasi antar anggota masyarakat. Semula orang berjabat tangan dan saling berpelukan untuk ekspresi tradisi kerukunan, gegara pneumonia wuhan semua orang menjaga jarak dan saling curiga satu sama lain. Komunisme suku bohong dan tipu daya, pneumonia wuhan bisa mengamuļ¬‚ ase orang terinfeksi sebagai negatif dan ia bisa menularkan ke orang lain. Komunisme mempunyai sejarah membunuh yang panjang, pneumonia wuhan mungkin akan menyamai rekor membunuh gerakan komunis atau mungkin akan melampaui rekornya. Komunisme selalu berubah bentuk gerakannya, pneumonia wuhan juga ditemukan para ahli virology selalu bermutasi pada lingkungan yang berbeda. Komunisme mencerai-beraikan keluarga, pneumonia wuhan menjauhkan antar angota keluarag karena ketakutan terjangkit. Komunisme pandai membuat Stigma, pneumonia wuhan memutuskan stigma xenophobia, asian phobia dan lain-ain. Dari fakta ini tidak salah bukan untuk menamakan pneumonia wuhan sebagai virus PKT (Virus China Communist Party). Dan ini sangat masuk akal dan penting untuk catatan sejarah. Karena Rezim Komunis Tiongkok mulai gencar berpropaganda untuk mensucikan namanya dengan melakukan lempar kesalahan bahwa virus bukan dari lab senjata biologis Tiongkok tapi berasal dari Amerika Serikat. Dan lebih lucu lagi ini malah berpropaganda bahwa virus diimpor dari Indonesia.

Pneumonia wuhan belum ditemukan antivirusnya. Sebagaimana orang kuno, para ahli spiritual dan agama mengatakan ketika ada bencana, musibah dan kemalangan pasti ada banyak dosa dan kesalahan yang dilakukan. Ini adalah pandemi global, bisa jadi umat manusia secara bersama-sama telah berbuat dosa yaitu dosa mengingkari Tuhan secara global dengan secara terang-terangan atau mengagumi secara sembunyi-sembunyi komunisme itu sendiri. Barangkali dengan menyadari dosa ini, Sang Pencipta memberikan solusi atas wabah yang melanda dunia. Walaupun tempat ibadah dan rumah Tuhan ditutup sementara. Tapi sejatinya Tuhan ada didalam hati setiap hamba-hambanya. Mengakui kesalahan dan melakukan pertobatan global mungkin akan membuat banyak perbedaan dan memperoleh ampunan. Tidak mementingkan formalitas tapi langsung mengarah pada hati manusia. Membersihkan virus komunisme dari hati manusia, semoga membuka ampunan dan keberkahan dari Tuhan. Karena komunisme bukan hanya sekedar paham pemikiran atau isme tapi manifestasi nyata dari iblis. Mengikuti komunisme adalah jalan tol menuju neraka. (epochtimes)

0 comments