Legenda Kuno Tentang WABAH

Kaisar Wen dari Dinasti Sui (581-619 Masehi), merupakan pendiri dan kaisar pertama Dinasti Sui. | WIKIPEDIA

XIAO HUI

Dalam budaya tradisional Tiongkok, orang-orang menghormati berbagai Dewa, seperti Dewa sungai, Dewa gunung, Dewa petir, Dewa tanah, dan lain-lain.

Diyakini bahwa para Dewa bertanggung jawab atas segala sesuatu di surga dan di bumi, dan kisah-kisah legendaris tentang mereka telah diturunkan dari generasi ke generasi. Banyak orang juga telah melihat keberadaan Dewa dalam mimpi mereka atau dalam kehidupan nyata.

Kaisar Wen dari Sui menghadapi Dewa Wabah

Catatan rakyat tentang Dewa Wabah dimulai pada Dinasti Sui (581-619 Masehi) di Tiongkok. Menurut catatan “San Jiao Yuan, Liu Sou Shen Da Quan” (berdasarkan publikasi seorang Taoist, mengatakan buku tersebut ditulis saat Dinasti Ming, yang mengumpulkan berbagai legenda tentang orang-orang suci dan Dewa dalam kepercayaan Konfusianisme, Buddha, dan Taoisme, dan menawarkan beberapa referensi berharga untuk studi tentang teologi dan Dewa-Dewa rakyat di masa Tiongkok kuno), pada bulan keenam pemerintahan Kaisar Wen dari Dinasti Sui, lima sosok raksasa muncul di udara, tingginya sekitar 9 meter hingga 15 meter di atas tanah. Mereka mengenakan jubah dalam lima warna dan masing-masing memegang satu atau dua benda di tangan mereka, termasuk sendok besar dan kendi, tas kulit dan pedang, kipas, palu, dan sebuah perapian.

“Siapakah para Dewa ini?! Apa yang Mereka lakukan di sini?” Kaisar yang kaget bertanya kepada Sekretaris seniornya Zhang Juren.

“Mereka adalah lima Dewa yang diperintah oleh Kaisar Langit di Surga, dan mereka bertanggung jawab atas tulah (wabah) di musim yang berbeda,” jawab Zhang Juren, “Kita sekarang berada dalam wabah yang tak terhindarkan.”

Memang, wabah dahsyat menghancurkan negeri itu pada akhir tahun, dan banyak orang meninggal sebagai akibatnya.

Kaisar Wen segera merenungkan dirinya dan memperbaiki kesalahannya dalam pemerintahan. Dia juga memerintahkan para pelayannya untuk membangun sebuah kuil untuk beribadah dan mempersembahkan sesaji kepada lima Dewa Wabah tersebut.

Tradisi ini berlanjut hingga Dinasti Tang dan Song, dengan kepercayaan umum bahwa lima Dewa Wabah dikirim oleh Kaisar Langit untuk menyebarkan tulah atau wabah di dunia manusia sebagai bentuk hukuman atas kesalahan manusia.

Keluarga Guan Shiren terhindar dari wabah

Guan Shiren (1045-1109 Masehi), seorang pejabat senior pengadilan di era Song Utara juga mengalami perjumpaan dengan para Dewa Wabah ketika ia masih menjadi seorang pelajar. Mereka mengatakan kepadanya bahwa mereka akan menyebarkan wabah pada Tahun Baru Imlek, tetapi keluarganya akan terhindar dari bahaya.

Dewa-Dewa Wabah juga menjelaskan kepadanya mengapa keluarganya aman: “Tiga generasi keluarga Guan telah melakukan banyak perbuatan baik dan mengumpulkan banyak kebajikan. Mereka selalu berusaha untuk menghentikan orang lain melakukan hal-hal buruk dan memuji mereka yang melakukan perbuatan baik. Karena itu mereka akan terhindar selama wabah.”

Keluarga Guan memang tetap aman dan sehat sepanjang terjadinya wabah.

Tulah (wabah) memiliki mata

Budaya tradisional Tiongkok percaya bahwa ketika moralitas manusia telah memburuk sampai batas tertentu, Langit akan menghukum manusia dengan bencana sebagai peringatan untuk menghentikan mereka agar tidak semakin tergelincir.

Berbagai catatan wabah di zaman kuno menunjukkan bahwa orang-orang yang baik dengan moralitas tinggi biasanya tetap aman dan bahagia, sedangkan orang-orang yang tidak memiliki hati nurani dan rusak secara moral akan bertemu dengan hukuman mereka. Justru atas dasar kausalitas seperti itulah, orang kadang-kadang mengatakan bahwa “wabah memiliki mata”.

Seperti kata pepatah kuno: “Orang-orang yang melakukan hal-hal baik akan diberkati oleh Surga, sementara orang-orang yang melakukan hal-hal buruk akan menderita hukuman.” (et/mhi/sun)

0 comments