Teknologi Modern & Dewa Komunikasi


Dikelilingi oleh pantheon Dewa-Dewi Yunani, Apollo, Dewa matahari dan musik, menampilkan keahliannya bermain kecapi. (HENRY HOWARD | WIKIMEDIA COMMONS)
Mitologi Yunani memberikan wawasan tentang kecintaan kita pada teknologi

JAMES SALE

Kita menyukai teknologi yang kita ciptakan, dan hal ini tidaklah mengherankan, karena teknologi membuat hidup kita lebih mudah, lebih produktif, dan lebih aman. Tetapi dengan setiap kemajuan dalam "perkembangan" manusia, kita menemukan bahwa segala sesuatu itu tercipta dengan harga yang harus dibayar, terkadang harganya terlalu mahal — dan terkadang kita menolak untuk mengakui sampai semuanya terlambat.

Menggunakan perangkat digital masa kini tampaknya memutuskan pemahaman tentang bagaimana abad ke-20 adalah abad yang paling berdarah dalam sejarah manusia. Namun untuk skala pertumpahan darah yang terjadi, kita membutuhkan kemajuan ilmiah yang mengarahkan pada revolusi teknologi yang saat ini sedang kita jalani bersama.

Kelihatannya seaneh dalam konteks ini, psikiater Carl Jung mengatakan bahwa neurosis adalah seperti dewa yang tersinggung atau terabaikan, menurut analis Jungian (pengikut Carl Jung), James Hollis. Tentu harus ada yang bertanya, ketika kita melihat orang-orang berkeliaran di jalan berbicara pada ponselnya, mengemudi sambil mengobrol dengan ponsel, atau tidak dapat “lepas” dari ponsel, tablet, dan laptop mereka, apakah harus ada “dewa yang tersinggung”, dari perilaku neurotik ini, yang susah pasti tidak sehat, secara psikologis atau fisik.

Dewa yang tersinggung

Tapi dewa mana yang tersinggung? Siapa yang kesal? Dan mengapa? Ada 12 Dewa di Gunung Olympus yang diberitahukan oleh orang Yunani kuno kepada kita untuk menaruh perhatian khusus. Tetapi ada satu Dewa yang juga penting, kuat, dan kaya yang tidak termasuk dalam 12 Dewa tersebut, karena Ia tidak tinggal di Olympus: Hades (atau dalam bahasa Latin, Pluto, yang juga Dewa kekayaan).

Nama Hades juga telah diperluas menjadi arti kerajaan di mana dia tinggal — umumnya disebut dunia bawah karena berada di bawah tanah. Hades kaya karena semua mineral di dunia berada di bawah permukaan Bumi tempat kerajaannya berada, dan karena ia dapat menguasai semua yang hidup — maka kata “plutocrat”, sangat kaya. Kata yang lebih populer untuk Hades dalam bahasa Inggris adalah “neraka”. Ingatlah hal itu ketika kita sampai pada hubungan di antara para Dewa — dan ketika kita memahami betapa kaya para penggagas teknologi mobile dan internet ini: benar-benar orang kaya di dunia modern.

Ada dua Dewa teknologi. Yang pertama, Hephaistos (atau Vulcan dalam bahasa Latin), yang bisa kita anggap tidak relevan di sini. Karena ia adalah Dewa teknologi jadul: saat menempa, memalu senjata logam, mungkin Dia mewakili jenis industri manufaktur yang kita kenal di Barat yang sekarang tampaknya mulai jarang.

Tetapi Dewa kedua adalah Dewa yang memiliki serangkaian persamaan yang aneh dengan teknologi modern kita, komunikasi, dan bahkan perangkat seluler. Saya merujuk, tentu saja, kepada Dewa Hermes (atau Merkurius dalam bahasa Latin). Berhubung kita sedang membahas soal arti kata, merkuri sebagai elemen yang terkadang disebut "quicksilver”, yang mana akan kita lihat nanti juga penting.

Hermes dan Hermeneutika

Hermes adalah Dewa yang dunia Barat modern — dan mungkin seluruh dunia — sekarang puja, dan untuk alasan yang baik. Serial mitos klasik dari The Penguin Book menggambarkan Dia sebagai "penggerak Keilahian”. Mempertimbangkan sifat-sifatnya: Dia adalah dewa “siap berkata-kata” (komunikasi, pada hakekatnya); topi bersayapnya menandakan dia seorang musafir (dengan kata lain, dia melintasi batas); bawahannya menunjukkan bahwa dia adalah pemberita (jadi pembawa berita); dan sandal emasnya memiliki sayap, yang berarti ia bisa terbang melintasi daratan dan lautan dengan kecepatan yang menakjubkan. Sandalnya menghapus jejak kaki, jadi tidak ada yang tahu kehadirannya.

Seperti apa semua itu terdengar? Dewa dunia modern kita di mana kita dapat berkomunikasi dengan siapa saja, di mana saja, kapan saja. Kita dapat membaca berita 24 jam/7 hari dan bahkan menembus batas negara, dan kita dapat mengelilingi dunia dengan komunikasi instan. Selain itu, kita dapat secara elektronik menutupi jejak kita dengan segala cara yang cerdik.

Poin terakhir ini mengarah pada kata Hermes sendiri, yang mana kita mendapatkan frasa seperti “tertutup rapat” – yang merujuk pada rahasia yang tidak dapat terbongkar dan ditemukan — dan juga kata “hermeneutika” - yang berarti seni penafsiran tentang apa yang halus, tidak jelas, misterius, dan sulit.

Semua ini terdengar bagus dan bermanfaat, tetapi sayangnya ada dua sisi lain dari Hermes yang harus kita tuangkan dalam diskusi ini. Pertama, Hermes sering digambarkan memiliki sekantong uang — ia adalah Dewa tipu daya, Dewa keberuntungan, serta Dewanya penipu, pedagang, dan pencuri.

Selain itu, ia adalah dewa sumpah palsu: Pada hari ia dilahirkan, ia mencuri ternak Apollo dan menolak mengakui perbuatannya itu di depan wajah Apollo. Perlu diingat, Apollo bukan hanya Dewa yang kuat, tetapi juga saudara tiri Hermes. Ketika Apollo menyeretnya ke hadapan Zeus, raja para Dewa, Hermes dipaksa untuk mengakui kebohongannya —dia tidak berani melawan penguasa alam semesta.

Dewa berita palsu

Sifat-sifat negatif Hermes ini tampaknya relevan dengan yang namanya internet, perangkat seluler, dan tujuan yang mana kita temukan mereka miliki. Semakin lama, kita menjadi sadar akan penipuan, pencuri, dan sumpah palsu umum (“berita palsu”) yang dipromosikan oleh revolusi komunikasi ini, serta pembukaan beberapa area yang dalam dan gelap — perjudian, pornografi, terorisme, dan kekerasan — bahkan pada anak-anak yang belum melepas popoknya. Inilah Hermes yang sedang beraksi.

Di sini kita dapat mengomentari nama Romawi, Quicksilver. Mau seberguna apapun, quicksilver bukanlah emas. Bukan hal yang nyata, nilai yang solid dari emas; itu adalah tiruan licik dengan kecepatan dahsyat dan menarik kita. Di masa lalu, kita sudah menggunakan quicksilver, atau merkuri, sebagai obat, terutama untuk mengobati sipilis, tetapi pada akhirnya merkuri itu mematikan dan memicu kegilaan.

Ini mengarah ke sisi kedua Hermes, yaitu, gelarnya yang lain. Dia dikenal sebagai Psychopompos karena dia adalah penuntun jiwa-jiwa yang mati untuk Hades.

Kita harus memahami sesuatu yang penting untuk mendapatkan gambaran lengkap tentang apa maksudnya ini. Kerajaan Hades — Neraka — sama tidak terikatnya dengan Dewa-Dewa lain seperti halnya Olympus bagi Hades. Hades adalah tempat yang penuh kebencian; orang-orang Yunani sendiri membencinya. Achilles hampir tidak terhibur di sana ketika Odiseus bertemu dengannya dalam perjalanan “hidup” ke neraka. Para Dewa di Olympus masing-masing memiliki kebencian dan kengerian terhadap tempat itu dan tidak pernah pergi ke sana. Mengapa harus menukar ambrosia cahaya dan keabadian mereka dengan dunia kegelapan dan bayangan itu?

Siapa yang bisa pergi ke Neraka?

Hermes adalah satu-satunya Dewa yang diizinkan mengunjungi Hades. Dia adalah perantara antara raja para Dewa, Zeus, di Olympus, dan raja neraka di Hades. Dia sendiri yang bisa mengendalikan bahaya, ilusi, dan kegilaannya — mungkin karena dia sama rumitnya dengan kematian itu sendiri dan tidak bisa ditangkap atau terjebak di sana. 
Patung Hermes di bagian depan toko Yeliseyevsky, di St. Petersburg, Rusia. Hermes dianggap sebagai Dewa tipu daya, Dewa keberuntungan, dan Dewa para penipu, pedagang, dan pencuri. (KARASEV VICTOR | SHUTTERSTOCK)
Tetapi, seperti yang ditulis Jung, “Melakukan perjalanan ke Neraka berarti menjadi Neraka itu sendiri.” Bahaya menyembah Hermes berpotensi membawa kita — jiwa kita — ke Neraka itu sendiri; namun tidak seperti Dewa Hermes, begitu kita berada di sana, kita tidak dapat kembali.

Bagi saya, ini seperti dunia modern sekarang: Hermes tidak tersinggung atau diabaikan, tetapi sebaliknya, telah disembah sedemikian rupa sehingga umat manusia dalam bahaya menghilang ke neraka teknologi apokaliptik yang akan membuat pertumpahan darah abad terakhir tampak ringan. Bagaimana mungkin hal terakhir yang ingin dilakukan orang pada titik kematian bukanlah berdoa tetapi memeriksa telepon mereka sekali lagi?

Jadi, siapakah Dewa yang tersinggung atau terabaikan, selain dari ke-12 di Olympus? Jawabannya dan solusinya adalah Apollo, saudara tiri dan sahabat Hermes.

Hermes pernah membunuh kura-kura dan dari cangkangnya membuat kecapi pertama. Ketika dia memainkannya, dia memukau Apollo, dan kemudian memberikan kecapi itu sebagai hadiah kepadanya. Maka Apollo memaafkan Hermes karena mencuri ternaknya, dan mereka menjadi teman baik.

Tetapi perhatikan tautannya: Dewa komunikasi membuat teknologi yang menghasilkan musik — memang menghasilkan seni. Apollo adalah Dewa cahaya, akal, proporsi, puisi, dan penyembuhan. Inilah Dewa yang telah kita abaikan dan tersinggung: Seni kita bukanlah seni, musik kita bukan musik, dan puisi kita adalah omong kosong; tidak heran hanya ada sedikit penyembuhan di dunia.

Kita harus kembali kepada Dewa Apollo dalam pikiran bawah sadar kita jika kita ingin menyelamatkan diri dari kegilaan teknologi yang diciptakan oleh penyembahan berhala Hermes. Ini adalah tantangan untuk zaman kita sekarang. (et/nit/sun)

0 comments