14 Negara Berpandangan Negatif Terhadap PKT yang Sulit Mengelak

  

Dan 9 negara dengan rasio tertinggi sepanjang sejarah, lonjakan di Australia paling tinggi, disusul Inggris kemudian Amerika Serikat. rasa tidak puas pemerintah dan masyarakatnya semakin meningkat terhadap RRT. Gambar menunjukkan sederetan bendera nasional di depan Gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa, Swiss. (FABRICE COFFRINI / AFP melalui Getty Images)


YAN DAN

Baru-baru ini, hasil sebuah survei yang dilakukan terhadap 14 negara menunjukkan, mayoritas masyarakat di negara-negara tersebut berpandangan negatif terhadap RRT; dan di antaranya rasio responden pada 9 negara merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah. 

14 negara yang berpandangan negatif terhadap RRT berikut rasio respondennya adalah: Jepang (86%), Swedia (85%), Australia (81%), Denmark (75%), Korea Selatan (75%), Inggris (74%), Amerika (73%), Kanada (73%), Belanda (73%), Jerman (71%), Belgia (71%), Prancis (70%), Spanyol (63%), Italia (62%). Bisa dilihat, di negara-negara tersebut lebih dari setengah warganya berpandangan negatif terhadap RRT. 

Dan 9 negara dengan rasio tertinggi sepanjang sejarah, lonjakan di negara Australia paling tinggi, naik sebesar 24% dibandingkan dengan tahun lalu; Inggris juga naik sebesar 19%; Amerika naik sebesar 13%. Ini menandakan, negara terkuat dari semua benua, rasa tidak puas pemerintah dan masyarakatnya terhadap RRT kian hari kian meningkat. 

Rasa tidak puas terhadap RRT, sebenarnya adalah rasa tidak puas terhadap Partai Komunis Tiongkok (PKT). Hasil survei menunjukkan, masyarakat dari 14 negara tersebut menilai PKT tidak mampu mengatasi pandemi, yang mengakibatkan virus menyebar ke seluruh dunia dengan rata-rata 61% terjangkit. Selain itu, sebanyak 78% responden menyatakan, “telah kehilangan atau tidak ada lagi keyakinan” terhadap kemampuan Xi Jinping dalam mengatasi masalah internasional. 

Hanya dua hal ini saja cukup menandakan bahwa citra RRT di mata internasional telah anjlok, semua ini berkat “sang akselerator” (chief accelerator, red.). Yang lebih krusial adalah, PKT sudah tidak bisa mengelak lagi dari wabah yang mendunia tersebut, hari yang tersisa tinggal menunggu untuk diadili dan dituntut pertanggungjawabannya. Sejarah hingga hari ini, menentang komunis dan menumpas komunis sudah menjadi tren utama global. 

Hanya dalam setahun PKT telah membuat marah seluruh dunia, dari pemandangan pada peringatan “1 Oktober” yang suram dan menyedihkan tahun ini juga bisa dilihat. Ada komentar di Weibo mengatakan, “Selain Presiden Serbia Aleksandar Vučić hadir pada jamuan di Kedubes RRT dan menyampaikan ucapan selamatnya, hampir tidak ada pejabat pemerintah negara lain yang menghadiri kegiatan di Kedubes RRT”; “Hampir tidak ada pejabat dari satu negara pun menelepon untuk memberikan ucapan selamat”; dan “kondisi ini belum pernah terjadi sejak berdirinya PKT sampai sekarang”. Ini jelas-jelas merupakan ritme pemutusan hubungan negara di seluruh dunia dengan negara “lihai” ini. 

Akan tetapi, sikap negara dunia termasuk 14 negara tersebut sebelum terjangkit “virus PKT” tidaklah demikian. Pembaca yang telah membaca serial artikel berjudul “Pandemi dan PKT” di surat kabar The Epoch Times mungkin tak sulit menyadari, begitu banyak negara yang terjangkit wabah dulunya adalah negara yang mendanai PKT, yang bersimpati pada PKT, bahkan bergantung pada PKT. Mereka semua sedikit banyak telah berkontribusi dalam hal memperbesar PKT. Dalam buku “How The Specter of Communism is Ruling Our World” dijelaskan. “Inilah realita yang paling menakutkan yang sedang dihadapi oleh umat manusia - konspirasi iblis komunis untuk menghancurkan manusia hampir tercapai”. 

Yang tidak diduga dan disayangkan oleh PKT adalah, konspirasi yang nyaris tercapai tersebut mendadak berubah arah dan mengarah pada kegagalan. Hampir dalam seketika PKT kehilangan semua “teman”nya. Tapi teman yang tiba-tiba berubah dan berbalik melawan, jangan sekali-sekali mengatakan teman tersebut tidak lagi menganggap kita sebagai teman, melainkan justru harus introspeksi diri kesalahan apa yang telah kita lakukan, sehingga mengakibatkan kawan berubah menjadi lawan dan meninggalkan kita. 

Sejak setengah tahun silam, pada situs Gedung Putih telah muncul petisi yang meminta agar Presiden Trump menuntut pertanggungjawaban PKT. Disebutkan bahwa, PKT sejak awal telah berbohong mengenai pandemik, tidak hanya memanipulasi data korban terjangkit, bahkan menahan dokter yang membahas mengenai pandemi; PKT menutupi fakta pandemi, menyebabkan seluruh dunia kehilangan waktu emas dua bulan pertama mengantisipasi pandemi, sehingga harus dituntut pertanggungjawabannya. Pada waktu itu, dalam 2 minggu setelah adanya petisi, sebanyak lebih dari 70.000 orang telah merespon petisi tersebut. 

Hari ini setengah tahun kemudian, PKT hanya bisa merasa semakin takut dan tidak tenang, karena keinginan Amerika untuk menuntut PKT tidak pernah pudar atau terlupakan seiring berjalannya waktu. Melihat situasi saat ini, menuntut tanggung jawab PKT telah menjadi animo warga dari 14 negara, bahkan lebih. Ini menandakan, PKT bisa saja untuk sementara ini menutupi pandemi, namun tidak bisa menutupi sifat aslinya yang jahat. PKT melepas virus hanya akibat dari sifat jahatnya, dikepung dan dituntut seluruh dunia juga mutlak membuat sifat aslinya itu terungkap sepenuhnya. 

Selain melepaskan virus dan menutupi pandemi, sikap diplomatik PKT selama setahun ini juga membuat seluruh dunia tidak habis pikir. Ada yang mendapati, PKT “dari diplomatik rendah hati (di zaman Deng Xiaoping) berubah menjadi diplomatik pedang terhunus, diplomatik serigala perang, diplomatik penyanderaan, diplomatik menebar uang, diplomatik mafia, diplomatik pemuda marah dan lain sebagainya… cara yang ditempuh kian hari kian konyol dan hina.” Ada juga yang mengatakan, pada 1979 saat Deng Xiaoping mengadakan parade militer, lebih dari 100 negara menghadiri upacara; pada 2019 Xi Jinping mengadakan parade militer, tidak ada satu pun negara asing hadir. Kegagalan PKT dalam hal diplomatik, telah mencapai tahap rakyat tidak berani membicarakannya dan seluruh dunia mencemoohnya. 

Pepatah mengatakan, jika Langit ingin membinasakannya, pasti akan membiarkannya menggila. Jika belum menggila sampai adu kebrutalan dan hooliganisme dalam hal diplomatik, bagaimana PKT sampai pada tahap “tembok rubuh karena didorong banyak orang”! belum lama ini, Xi Jinping masih sesumbar mengatakan, “Tidak bisa tunduk pada orang yang memiliki kepalan tinju besar!” Jelas-jelas tahu kepalan tinju negara lain lebih besar, masih berani-beraninya menantang pamer otot, bukankah sama saja menantang maut? 

Tak heran jika ada yang menyindir, “Orang Amerika ada semacam ungkapan yakni: jangan mengusik beruang. Sesungguhnya ada berapa ekor beruangkah? Ada yang sedang tidur hibernasi musim dingin, ada yang berjemur dan lain sebagainya, lalu ada orang yang mengusik para beruang itu. Bukankah itu berarti mencari masalah?” Ironisnya adalah, lelucon ini benar-benar terjadi pada PKT sendiri. 

Melihat kemarin, hari ini, dan esok harinya PKT, bisa disimpulkan dengan peribahasa meludah ke atas menimpa muka sendiri. Hari-hari yang tersisa bagi PKT ini ibarat duduk di atas paku, dan penuh ketakutan; entah diberi sanksi oleh AS, atau dikepung seluruh dunia, sama sekali bukan salah orang lain. Pada dasarnya, hanya “banyak melakukan kejahatan akan menuai akibatnya” saja. 

Di dunia ini berlaku kebaikan dan kejahatan akan ada balasannya, hukum sebab akibat selalu ada. Organisasi apa pun siapa pun tidak bisa lepas dari prinsip sejati ini. Bagaimana pun PKT beralasan dan berdalih tidak akan ada gunanya, karena akibatnya adalah bukti yang paling baik. Selama puluhan tahun PKT menindas yang baik, membunuh yang tak berdosa, sejak awal akibatnya ini telah ditakdirkan. Dan sebelum “menara runtuh”, pastikan bahwa diri kita “tidak berada dekat dengan bangunan runtuh” itu, adalah pilihan paling bijak bagi masyarakat dunia. (et/sud/sun)

0 comments