Beijing Gelar Parade Militer 3 September: Rakyat Mengeluh, Biaya Fantastis, Ekonomi Merosot
Beijing – Di tengah sorotan dunia internasional, rezim Tiongkok menggelar parade militer besar-besaran pada 3 September lalu. Namun di balik kemegahan acara tersebut, banyak keluhan muncul dari warga Beijing yang menilai parade ini membebani rakyat, menghamburkan biaya, dan menimbulkan keresahan sosial.
Dari rekaman video parade, langit Beijing tampak muram, sama suramnya dengan wajah Xi Jinping. Pengamanan yang diterapkan pun disebut-sebut sebagai yang paling ketat dalam sejarah, membuat kota Beijing layaknya markas militer dengan penjagaan ketat di setiap sudut jalan.
Biaya Fantastis Capai Ratusan Miliar Yuan
Menurut berbagai laporan, parade ini menelan biaya sedikitnya 360 miliar yuan (setara lebih dari Rp770 triliun). Dana tersebut mencakup pelatihan personel, pengembangan peralatan militer, renovasi lokasi, jamuan diplomatik, promosi media, hingga biaya keamanan.
Seorang intelektual Tiongkok, Mr. Zhang, mengatakan:
“Parade ini hanya membebani rakyat. Banyak warga Beijing dipaksa meninggalkan kota atau dikurung di rumah. Bahkan rumah sakit pun dibatasi operasionalnya. Parade ini tidak ada manfaatnya bagi rakyat, justru memperlihatkan kelemahan pemerintah.”
Warga Mengeluh: Kota Lumpuh, Sinyal Komunikasi Dibatasi
Warga bernama Mr. Fu menuturkan, jalan-jalan di Beijing ditutup, akses transportasi terganggu, bahkan sinyal komunikasi publik tidak gratis seperti biasanya. “Setiap persimpangan dijaga ketat aparat bersenjata, kota seperti terkepung,” ujarnya.
Di sisi lain, muncul laporan mengenai sejumlah warga yang ditangkap atau hilang menjelang parade, hanya karena menyuarakan kritik di media sosial. Beberapa di antaranya bahkan langsung dijatuhi hukuman penahanan 10 hari.
Dampak Ekonomi Negatif
Parade yang diharapkan menunjukkan kekuatan justru berdampak buruk pada ekonomi. Sehari setelah acara, indeks saham 沪深300 anjlok 2,1%, indeks 科创板50 turun 6,2%, mencatatkan penurunan harian terbesar dalam 5 bulan terakhir. Anehnya, sektor industri pertahanan yang seharusnya diuntungkan justru menjadi penurun utama.
“Setelah parade, saham-saham militer langsung merah semua. Itu artinya rakyat sadar parade ini lebih banyak pamer daripada substansi, sementara kondisi ekonomi sedang sulit,” kata Mr. Fu.
Sorotan Internasional
Tidak hanya rakyat Tiongkok, media internasional juga menyoroti parade ini.
- The Times (Inggris) menyebut Tiananmen sebagai “tempat terbaik bagi diktator untuk berkumpul,” mengingat sejarah kelam pembantaian mahasiswa tahun 1989.
- Sydney Morning Herald (Australia) mempertanyakan apakah parade ini benar-benar menunjukkan kekuatan atau sekadar pencitraan, sekaligus menandai semakin eratnya hubungan antarrezim otoriter.
Bahkan, siaran CCTV Tiongkok sempat menayangkan percakapan Xi Jinping dan Vladimir Putin tentang transplantasi organ dan harapan hidup hingga 150 tahun, yang memicu kontroversi luas. Warga menilai pernyataan itu sangat ironis, mengingat rakyat kini menghadapi kesulitan ekonomi, sulit menikah, sulit membeli rumah, hingga enggan memiliki anak.
Parade Penuh Kontroversi
Alih-alih menunjukkan kekuatan, parade 3 September di Beijing justru memperlihatkan sisi rapuh pemerintahan Xi Jinping. Dengan biaya raksasa, pengamanan super ketat, dan dampak negatif pada ekonomi, masyarakat menilai acara ini hanyalah pertunjukan mewah yang membebani rakyat.
#ParadeBeijing #XiJinping #Tiongkok #BeijingParade #EkonomiChina #MiliterChina #BeritaInternasional #BeritaChina #Beijing #ParadeMiliter

0 comments