Rusia Uji Coba Torpedo Nuklir “Poseidon”, Perang Ukraina Kian Memanas



Ketegangan antara Rusia dan Ukraina kembali meningkat setelah Presiden Vladimir Putin mengumumkan uji coba sukses torpedo nuklir bertenaga super, Poseidon — senjata bawah laut yang diklaim mampu memicu gelombang radioaktif dahsyat. Di sisi lain, Presiden Donald Trump menyerukan agar Putin menghentikan perang dan menunda semua uji rudal. Pertempuran di garis depan Ukraina tetap sengit, memperlihatkan perang yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.


GlobalNews - Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan bahwa negaranya telah berhasil menguji coba torpedo nuklir bertenaga tinggi “Poseidon”, sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi militer dan memberi sinyal ancaman kepada Amerika Serikat dan Eropa.

Uji coba ini dilakukan hanya sepekan setelah peluncuran rudal jelajah nuklir “Burevestnik” (atau Skyfall), menandakan peningkatan signifikan dalam pengembangan senjata nuklir strategis Rusia.

Putin menyebut bahwa kekuatan Poseidon bahkan melampaui rudal antarbenua tercanggih Rusia, RS-28 “Sarmat”, yang oleh NATO dijuluki Satan II.

“Poseidon memiliki daya ledak yang jauh lebih besar daripada Sarmat,” kata Putin.


Poseidon: Senjata Laut Terdahsyat Dunia

Menurut para analis militer, torpedo Poseidon merupakan gabungan antara torpedo dan drone bawah laut. Ia mampu membawa hulu ledak nuklir berdaya tinggi, memiliki jangkauan hingga 10.000 kilometer, dan mampu melaju 185 km per jam di bawah laut.

Senjata ini dirancang untuk menyerang kota-kota pantai dan pangkalan militer laut, dengan potensi menciptakan gelombang radioaktif raksasa yang dapat menghancurkan seluruh wilayah pesisir.

Jika benar-benar dikerahkan, Poseidon akan menjadi senjata penghancur massal paling mematikan dalam sejarah modern.


Trump Desak Putin Akhiri Perang Ukraina

Menanggapi uji coba senjata nuklir tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengimbau Putin agar mengakhiri perang Ukraina dan menghentikan eskalasi militer yang bisa mengancam perdamaian global.

“Perang yang seharusnya selesai dalam satu minggu kini hampir memasuki tahun keempat. Putin seharusnya menghentikan perang, bukan menguji rudal,” ujar Trump pada 27 Oktober 2025.

Namun, analis menilai bahwa Putin justru berusaha menegaskan posisinya dengan melanjutkan uji coba senjata nuklir dan menunjukkan bahwa Rusia tidak akan tunduk pada tekanan Barat.


Situasi Perang di Garis Depan: Serangan Balasan Tak Berhenti

Di medan perang, konflik terus berkecamuk. Pada hari yang sama, pasukan Rusia melancarkan serangan udara ke sebuah rumah sakit anak di Kherson, Ukraina selatan. Serangan besar-besaran juga terjadi di Red Army City, Donetsk, di mana pertempuran disebut “paling sengit” oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

“Pertempuran di Red Army City sangat intens, kekuatan militer Rusia terkonsentrasi di sana,” ujar Zelensky.

Sebagai respons, Ukraina meluncurkan serangan drone terhadap beberapa fasilitas energi di Rusia, termasuk di sekitar Moskow. Serangan tersebut mengacaukan lalu lintas udara nasional Rusia dan menunjukkan kemampuan Ukraina untuk menyerang jauh di dalam wilayah musuh.

Zelensky menegaskan bahwa ia dan para sekutu tengah menyusun rencana operasi jarak jauh yang efektif untuk memaksa Rusia mengakhiri perang.

Sementara itu, utusan khusus Putin, Kirill Dmitriev, menyatakan bahwa perang Ukraina diperkirakan akan berakhir dalam satu tahun ke depan, meski banyak pihak meragukan prediksi tersebut.


Kesimpulan

Uji coba torpedo nuklir Poseidon menandai eskalasi baru dalam ketegangan global antara Rusia dan negara-negara Barat. Di tengah desakan internasional untuk menghentikan perang, langkah Putin justru memperlihatkan ambisi militer Rusia yang tak surut. Dengan pertempuran di Ukraina yang semakin brutal dan senjata pemusnah massal kini memasuki arena, dunia menghadapi bayangan konflik yang semakin berbahaya dan tidak terduga.


#Rusia #Ukraina #VladimirPutin #Poseidon #TorpedoNuklir #DonaldTrump #PerangUkraina #Kherson #Donetsk #Zelensky #TruthMedia #PerangDunia #APEC2025 #BeritaInternasional

0 comments