Kekacauan Ekonomi China Picu Gelombang Penutupan Stasiun Ekspedisi, Pengelola Ramai-ramai Mundur
Stasiun ekspedisi atau express delivery station di China yang sempat dijuluki “mesin cetak uang komunitas” kini justru kolaps massal. Di tengah musim puncak pengiriman akhir tahun, ribuan gerai menghadapi penutupan dan gelombang penjualan paksa. Perlambatan ekonomi dan persaingan industri yang semakin brutal disebut sebagai penyebab utama kehancuran bisnis ini.
Musim Ramai Justru Jadi Awal Keruntuhan
Menjelang akhir tahun, biasanya industri logistik China memasuki masa tersibuk. Namun, situasi kali ini berbanding terbalik. Di berbagai platform daring seperti Xiaohongshu, Xianyu, dan 58.com, ribuan iklan penjualan dan pengalihan kepemilikan stasiun ekspedisi bermunculan. Banyak yang mencantumkan kata “dijual cepat”, tetapi tetap tak laku meski harga sudah diturunkan berkali-kali.
Fenomena ini mencerminkan tekanan berat yang dialami para pelaku usaha kecil di sektor logistik akar rumput.
Modal Puluhan Juta, Rugi dalam Hitungan Bulan
Seorang mantan pengelola berinisial Cheng Si (nama samaran) mengaku membeli sebuah stasiun ekspedisi pada September 2025 dengan modal hampir 60 ribu yuan. Namun realitas bisnis jauh dari harapan.
“Kalau memang semenguntungkan itu, siapa yang mau menjualnya?” ujarnya. Dalam waktu kurang dari tiga bulan, ia terpaksa melepas usahanya dengan harga sekitar 20 ribu yuan, menanggung kerugian besar.
Jam Kerja Panjang, Untung Nyaris Nol
Seorang blogger Daratan China, Wang, mengungkapkan bahwa pengelola stasiun ekspedisi bekerja tanpa hari libur, dengan jam kerja lebih dari 14 jam per hari, termasuk akhir pekan dan hari libur nasional.
Menurutnya, persaingan antarperusahaan ekspedisi memaksa tarif jasa ditekan ekstrem. Saat ini, ada perusahaan yang hanya membayar 0,3 yuan per paket, membuat margin keuntungan hampir lenyap. Pengelola juga tidak memiliki kendali untuk menaikkan harga.
Denda dan Penalti Jadi Beban Mematikan
Pada masa kejayaan, satu paket bisa menghasilkan 1,5 yuan. Kini turun drastis menjadi 0,35–0,7 yuan. Lebih parah lagi, sistem denda yang ketat membuat banyak stasiun tak sanggup bertahan.
Satu keluhan pelanggan bisa berujung denda 50 yuan, sementara pengaduan lanjutan mencapai 200 yuan. Bahkan satu ulasan buruk bisa menghapus penghasilan setengah bulan. Beberapa pengelola mengaku total denda mencapai lebih dari 70% pendapatan.
Dampak Perlambatan Ekonomi China
Ketua Aliansi Pengacara HAM China di Luar Negeri, Wu Shaoping, menilai keruntuhan stasiun ekspedisi tak lepas dari melemahnya ekonomi nasional.
Pendapatan masyarakat turun, konsumsi melemah, restoran dan toko ritel tutup massal, pusat perbelanjaan sepi. Penurunan daya beli ini ikut menghantam sektor logistik yang selama ini bertumpu pada pertumbuhan e-commerce.
Ekspansi Liar dan “Perang Harga” Mematikan
Industri stasiun ekspedisi berkembang pesat karena ambang masuk rendah. Jumlahnya melonjak dari kurang dari 50 ribu unit pada 2019 menjadi lebih dari 400 ribu unit pada 2022, hampir menjangkau semua kawasan permukiman.
Namun ekspansi liar ini memicu persaingan “neijuan” (involusi) — perang harga brutal antar pelaku usaha. Beberapa kasus bahkan melibatkan sabotase, seperti pengiriman barang terlarang ke stasiun pesaing untuk memicu sanksi.
Data Suram: Setengah Rugi, Empat dari Sepuluh Siap Tutup
Data industri menunjukkan bahwa lebih dari 50% stasiun ekspedisi merugi pada 2025. Saat ini, sekitar 40% pengelola bersiap mundur, sementara 60% lainnya bertahan dengan kesulitan. Fenomena ini disebut sebagai “gelombang kebangkrutan industri pertama 2026” dan “eksodus terburuk”.
Analisis Ekonom: Masalah Model Bisnis, Bukan Hilangnya Permintaan
Ekonom Amerika, Davy J. Wong menilai krisis ini bukan kejadian sesaat, melainkan kegagalan struktural model bisnis stasiun ekspedisi dalam kondisi ekonomi melambat.
Ia menyebut tiga penyebab utama:
- Pendapatan terus tertekan akibat tarif rendah dan biaya yang dialihkan ke tingkat paling bawah.
- Biaya tetap meningkat (sewa, listrik, tenaga kerja) tanpa dukungan skala usaha.
- Ekspektasi konsumen tak turun, meski konsumsi melemah, sehingga margin keuntungan semakin terjepit.
Menurutnya, ini adalah proses “pembersihan industri”, bukan kehancuran total sistem logistik.
Kesimpulan
Gelombang penutupan stasiun ekspedisi di China menjadi cerminan nyata tekanan ekonomi dan kegagalan model bisnis berbasis margin tipis. Kombinasi perlambatan ekonomi, persaingan tidak sehat, dan sistem penalti ekstrem telah mendorong ribuan pengelola ke jurang kebangkrutan. Fenomena ini menandai babak baru restrukturisasi industri logistik China, sekaligus memperlihatkan dampak nyata krisis ekonomi terhadap usaha kecil dan menengah.

0 comments