Gelombang Protes Meluas di Iran, Warga Robek Potret Khamenei dan Hancurkan Patung Soleimani

 


Gelombang demonstrasi besar-besaran mengguncang Iran. Rakyat turun ke jalan, merobek potret Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, menghancurkan patung Qassem Soleimani, dan menentang aparat keamanan. Di tengah penindasan brutal, tanda-tanda runtuhnya loyalitas aparat mulai bermunculan, memicu spekulasi bahwa perubahan besar di Iran semakin dekat.


Bentrokan Berdarah Pecah di Berbagai Kota

Pada Kamis (8/1), gelombang perlawanan rakyat Iran terus meluas. Aparat keamanan bahkan melepaskan tembakan ke arah massa, menyebabkan korban jiwa. Namun, di sejumlah wilayah justru terjadi fenomena polisi menolak menindak demonstran, bahkan mundur dan membubarkan diri.

Di Karaj, kota terbesar keempat Iran, bentrokan sengit antara warga dan pasukan keamanan terjadi sejak Rabu. Hingga larut malam, api masih membakar jalanan, disertai suara ledakan keras yang terus terdengar.

Video lain memperlihatkan aparat keamanan memukul demonstran dan menembaki kerumunan secara langsung, membuat suasana bak medan perang.


Polisi Berbalik Arah, Aparat Tinggalkan Pos

Situasi berbeda terlihat di Provinsi Lorestan, di mana polisi melambaikan tangan kepada demonstran lalu meninggalkan lokasi. Hingga kini, laporan tentang aparat yang menolak menindas rakyat terus bermunculan, bahkan sebagian anggota pasukan keamanan berpihak kepada pengunjuk rasa.


Simbol Rezim Dijatuhkan

Di Mashhad, kota terbesar kedua Iran, massa menurunkan bendera nasional Iran dan merobeknya menjadi dua, sambil meneriakkan slogan:

“Hancurkan bendera!”
“Hidup Raja!”

Di berbagai kota, potret Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei yang dipasang di ruang publik dicabut dan dihancurkan.

Sementara itu, patung Qassem Soleimani, mantan komandan Pasukan Quds yang tewas dalam serangan AS, ditarik massa hingga roboh dan dihancurkan, disambut sorak-sorai warga.


Demonstrasi Menyebar ke Hampir Seluruh Provinsi

Di Rasht, Iran barat laut, ribuan orang turun ke jalan sambil meneriakkan:

“Kami tidak perlu takut, kami bersatu!”

Menurut laporan US-based Human Rights Activists News Agency, hingga Rabu:

  • Protes telah berlangsung 11 hari berturut-turut
  • Menyebar ke 31 dari 34 provinsi Iran
  • Terjadi di 348 lokasi
  • Mencakup 111 kota dan 45 universitas
  • Bentuk perlawanan meliputi demonstrasi, mogok kerja, hingga penutupan toko


Puluhan Tewas, Ribuan Ditangkap

Penindasan brutal aparat Iran telah menyebabkan:

  • Sedikitnya 38 orang tewas
  • Lebih dari 2.200 orang ditangkap


Putra Mahkota Iran Serukan Perlawanan

Pada Rabu, Reza Pahlavi, putra mahkota terakhir Dinasti Pahlavi yang kini hidup di pengasingan, menyampaikan pesan melalui media sosial. Ia menyebut rezim Iran bersiap memutus akses internet, namun upaya tersebut kemungkinan gagal karena layanan Starlink milik Elon Musk telah aktif di Iran.

Reza Pahlavi menyatakan:

“Jika rezim bersikeras memutus internet, itu justru akan menjadi pemicu rakyat turun ke jalan. Dengan cara itu, kalian akan kembali memaku paku terakhir ke peti mati rezim ini. Kemenangan pasti milik kalian. Hidup Iran!”


Subsidi Gagal Redam Amarah Rakyat

Pemerintah Iran sempat mengusulkan bantuan subsidi sebesar 7 dolar AS per bulan untuk meredam kemarahan publik. Namun kebijakan tersebut justru memicu demonstrasi yang lebih besar.


Isu Serangan Militer AS–Israel Menguat

Sumber-sumber intelijen menyebut Amerika Serikat dan Israel tengah mempersiapkan serangan udara besar-besaran ke Iran. Puluhan pesawat pengisian bahan bakar dan angkut militer AS dilaporkan telah bergerak dari Amerika dan Inggris menuju Timur Tengah. Hingga kini, informasi tersebut belum dikonfirmasi secara resmi.

Menanggapi hal ini, Menteri Luar Negeri Iran menyatakan negaranya siap menghadapi serangan, namun tetap membuka peluang diplomasi.


Australia Tutup Kedutaan, India Imbau Evakuasi

Pemerintah Australia mengumumkan penutupan sementara Kedutaan Besarnya di Iran dan mendesak warga negaranya segera meninggalkan negara tersebut.
Sementara itu, India juga mengeluarkan peringatan perjalanan dan meminta warganya tidak bepergian ke Iran.


Kesimpulan

Gelombang protes nasional di Iran kini memasuki fase kritis. Dengan simbol-simbol rezim dijatuhkan, aparat mulai goyah, tekanan internasional meningkat, dan ancaman konflik regional membayangi, banyak pihak menilai perubahan besar di Iran tinggal menunggu waktu.


0 comments