China Kembali Dilanda Wabah Rhinovirus, Beragam Virus Menyebar Bersamaan, Kematian Mendadak Meningkat Tajam


Menjelang Tahun Baru Imlek, China kembali menghadapi lonjakan kasus rhinovirus atau virus hidung. Penyebaran bersamaan berbagai virus pernapasan memicu peningkatan kematian mendadak di berbagai wilayah, termasuk pada anak-anak dan usia muda.


Wabah Virus Bertumpuk Jelang Tahun Baru Imlek

Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, China kembali menghadapi situasi kesehatan yang mengkhawatirkan. Sejumlah virus pernapasan dilaporkan menyebar secara bersamaan di berbagai wilayah, tanpa memandang usia, sementara angka kematian mendadak terus meningkat.

Dalam beberapa pekan terakhir, berbagai daerah di China melaporkan lonjakan tajam kasus rhinovirus—dikenal juga sebagai virus hidung. Provinsi-provinsi di wilayah selatan dilaporkan mengalami kondisi paling serius.

Meski bukan virus baru, rhinovirus memiliki karakteristik yang berbeda dari virus influenza. Virus ini memiliki jalur penularan lebih luas, belum memiliki obat khusus maupun vaksin, sehingga menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan masyarakat.


Data Resmi: Anak-anak dan Lansia Paling Rentan

Pada 9 Januari, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) China mengumumkan bahwa tingkat positif rhinovirus di beberapa provinsi selatan bahkan telah melampaui virus pernapasan syncytial (RSV), dan berada tepat di bawah influenza.

Kelompok anak-anak dan lansia disebut memiliki risiko tertinggi untuk terinfeksi.

Menurut laporan medis, rhinovirus merupakan salah satu virus pernapasan paling umum, namun juga sangat tangguh. Virus ini tidak hanya menyebar melalui droplet udara, tetapi juga mampu bertahan pada suhu ruangan dan menempel di permukaan benda seperti gagang pintu, peralatan makan, dan mainan. Seseorang dapat terinfeksi setelah menyentuh benda tersebut lalu menyentuh hidung atau mulut.

Hingga kini, belum tersedia obat spesifik maupun vaksin untuk mengatasi infeksi rhinovirus.


Influenza, RSV, hingga COVID-19 Diduga Menyebar Bersamaan

Sejak Oktober tahun lalu, China juga dilanda wabah influenza tipe A (H3N2) yang parah. Banyak warga mengaku mengalami infeksi berulang hingga sulit membedakan jenis virus yang menyerang tubuh mereka.

Sejumlah warga bahkan melaporkan meningkatnya kematian mendadak, tidak hanya di kalangan lansia, tetapi juga pada usia muda.

Warga Taiyuan, Provinsi Shanxi, bermarga Zhao, mengatakan:
“Situasinya sangat serius. Banyak remaja dan anak-anak yang terinfeksi, dan tingkat kematian mendadak juga meningkat. Anak muda yang meninggal tidak sedikit.”

Sementara itu, seorang perias jenazah di Provinsi Anhui, bermarga Liu, mengungkapkan:

“Banyak yang meninggal karena sakit, serangan jantung dan stroke meningkat. Yang mengejutkan, banyak juga usia muda—bahkan yang berusia awal 30-an.”


Rumah Sakit Penuh, Kasus Anak Memburuk Sangat Cepat

Menurut laporan nasional CDC China yang dirilis 8 Januari, pada minggu pertama tahun 2026, tiga patogen utama pada kasus mirip flu di rumah sakit sentinel adalah:

  1. Virus influenza
  2. Virus pernapasan syncytial (RSV)
  3. Rhinovirus

Namun, Wakil Direktur Departemen Pernapasan dan Perawatan Intensif Rumah Sakit Paru Shanghai, Dr. Hu Yang, menyatakan bahwa secara klinis ditemukan peningkatan infeksi RSV, serta kasus infeksi ganda influenza A dan COVID-19.

Hal ini memicu kecurigaan publik bahwa pihak berwenang masih menutupi kondisi sebenarnya dari penyebaran COVID-19.

Seorang warga Shanghai mengatakan bahwa banyak rumah sakit komunitas tetap buka setiap hari selama sepekan penuh karena lonjakan pasien, namun secara resmi penyakit tersebut hanya disebut sebagai “flu” atau “pilek biasa”.


Kasus Fatal pada Anak Picu Kekhawatiran Nasional

Media Daratan China sebelumnya melaporkan sejumlah kasus anak dengan kondisi yang memburuk sangat cepat:

  • Seorang anak laki-laki 3 tahun di Puyang, Henan, meninggal hanya satu hari setelah demam.
  • Seorang anak perempuan 7 tahun di Zhengzhou mengalami “paru-paru putih” dalam hitungan jam dan koma berkepanjangan.

Di banyak daerah, unit gawat darurat anak dilaporkan kewalahan. Seorang dokter menyebut harus menangani hingga 700 pemeriksaan darah dalam satu malam.


Pakar AS: COVID-19 Tidak Pernah Benar-Benar Pergi

Ahli virologi asal Amerika Serikat, Dr. Lin Xiaoxu, menegaskan bahwa COVID-19 kemungkinan besar masih terus menyebar secara diam-diam di China.

“Virus influenza memang terlihat paling dominan, tetapi COVID-19 tidak pernah benar-benar hilang. Selain itu, masih ada RSV dan virus pernapasan lain yang menyebar bersamaan. Kasus paru-paru putih harus diwaspadai sebagai kemungkinan infeksi COVID-19 bersamaan.”


Kesimpulan

Lonjakan kasus rhinovirus di China, yang terjadi bersamaan dengan influenza, RSV, dan dugaan penyebaran COVID-19, menunjukkan situasi kesehatan masyarakat yang semakin kompleks dan mengkhawatirkan. Penyebaran multipel virus, keterbatasan pengobatan, serta laporan kematian mendadak—termasuk pada usia muda—memicu pertanyaan serius mengenai transparansi informasi dan kesiapan sistem kesehatan. Tanpa langkah mitigasi yang jelas dan keterbukaan data, risiko krisis kesehatan yang lebih besar masih terus membayangi.


#China #WabahVirus #Rhinovirus #VirusHidung #Influenza #RSV #COVID19 #KesehatanGlobal #KematianMendadak #BeritaInternasional #KrisisKesehatan

0 comments