Otoritas Kesehatan China Dilaporkan Mengakui Kematian Akibat Wabah Pes, Setelah Kasus Mencurigakan di Rusia

Foto tanpa keterangan waktu yang dirilis pada tahun 2019 oleh Institut Penelitian Anti-Wabah Irkutsk untuk wilayah Siberia dan Timur Jauh ini memperlihatkan para pekerja institut tersebut di dalam laboratorium. Institut Penelitian Anti-Wabah Irkutsk untuk wilayah Siberia dan Timur Jauh via AP

Kekhawatiran terhadap penyebaran penyakit pes atau plague meningkat setelah muncul laporan mengenai dugaan kasus di China menyusul kematian seorang pekerja laboratorium di Siberia, Rusia. Sejumlah kesaksian dan unggahan media sosial menyebut adanya pasien yang meninggal di China, sementara otoritas kesehatan setempat dinilai kurang terbuka mengenai informasi kasus tersebut. Hingga kini, belum ada konfirmasi independen yang memastikan terjadinya wabah pes di China.

CHINA — Kekhawatiran mengenai kemungkinan penyebaran penyakit pes di China meningkat setelah muncul laporan tentang sejumlah kasus mencurigakan yang dikaitkan dengan seorang pasien yang diduga datang dari Rusia.

Laporan The Epoch Times pada 6 November 2026 menyebutkan bahwa sejumlah informasi mengenai dugaan kasus pes beredar di media sosial China. Seorang warga di Chengdu, Provinsi Sichuan, mengaku mendapat informasi dari tenaga medis bahwa seseorang yang baru kembali dari Rusia jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Kasus tersebut disebut-sebut mungkin berkaitan dengan penyakit pes.

Namun, hingga saat ini, belum tersedia konfirmasi laboratorium independen yang membuktikan bahwa kematian tersebut disebabkan oleh penyakit pes. Informasi yang beredar juga belum cukup untuk menyimpulkan bahwa wabah telah menyebar di China.

Dugaan Kasus Muncul Setelah Kematian Pekerja Laboratorium di Rusia

Perhatian internasional terhadap penyakit pes bermula dari kematian Darya Shipilova, seorang pekerja laboratorium berusia 28 tahun di Irkutsk Anti-Plague Research Institute, Siberia, Rusia.

Shipilova dirawat di rumah sakit pada 29 September 2026 setelah mengalami pneumonia berat. Ia meninggal dunia pada 2 Oktober.

Kematian tersebut memicu kekhawatiran karena tempatnya bekerja merupakan lembaga penelitian yang menangani berbagai patogen berbahaya, termasuk bakteri penyebab penyakit pes.

Sejumlah laporan media Rusia sempat menyebut kemungkinan pneumonia pes (pneumonic plague) sebagai penyebab kematian. Akan tetapi, otoritas kesehatan Rusia menyatakan bahwa penyebab kematian belum diketahui dan hasil pemeriksaan tidak menemukan patogen berbahaya yang berkaitan dengan pekerjaannya.

Sekitar 200 orang yang pernah melakukan kontak dengan Shipilova dilaporkan menjalani pemeriksaan dan pemantauan medis.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kemudian meminta penjelasan lebih lanjut kepada pemerintah Rusia mengenai penyebab kematian tersebut dan hasil pemeriksaan laboratorium.

Warga China Mengaku Mendapat Informasi tentang Pasien yang Diduga Terinfeksi

Dalam laporan The Epoch Times, seorang warga Distrik Shuangliu, Chengdu, bermarga Sun, mengatakan bahwa ia mengunjungi klinik demam pada 11 Oktober 2026.

Menurut Sun, seorang dokter menyampaikan bahwa seseorang yang baru kembali dari Rusia jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Dokter tersebut disebut menyatakan bahwa kasus itu mungkin berkaitan dengan penyakit pes.

Sun juga mengaku mendapat pertanyaan dari petugas Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) setempat mengenai kondisi kesehatannya.

Ia menduga pertanyaan tersebut berkaitan dengan pemeriksaan gejala penyakit pes.

Meski demikian, kesaksian Sun belum merupakan bukti medis bahwa pasien yang dimaksud benar-benar meninggal akibat infeksi pes.

Ketika dikonfirmasi oleh The Epoch Times, seorang petugas CDC Distrik Shuangliu membantah bahwa pihaknya sedang melakukan penyelidikan wabah pes di wilayah tersebut.

Namun, petugas itu juga menyatakan bahwa informasi mengenai kemungkinan pasien pes, perawatan di rumah sakit, atau kematian akibat penyakit tersebut merupakan informasi rahasia resmi yang tidak dapat disampaikan kepada publik.

Pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai keterbukaan informasi kesehatan masyarakat di tengah meningkatnya kekhawatiran warga.

Klaim Dua Kematian di Shanghai dan Chongqing Belum Terverifikasi

Laporan tersebut juga menyinggung unggahan media sosial yang mengklaim bahwa dua kasus pneumonia pes fatal telah terjadi di Shanghai dan Chongqing.

Unggahan itu disebut berasal dari seseorang yang mengaku bekerja di laboratorium dengan tingkat keamanan biologis tinggi di China.

Menurut klaim tersebut, kedua pasien sebelumnya datang dari Rusia.

Namun, informasi mengenai dua kematian tersebut belum dikonfirmasi oleh otoritas kesehatan secara terbuka dan belum dapat diverifikasi secara independen.

Sejumlah unggahan serupa menyebar luas di media sosial China, memicu kekhawatiran masyarakat terhadap kemungkinan masuknya penyakit pes dari Rusia.

Di tengah situasi tersebut, seorang dokter yang bekerja di sektor pencegahan dan pengendalian penyakit di China, yang hanya disebut bermarga Feng, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa ia mengkhawatirkan kemungkinan penyebaran penyakit tersebut.

Pernyataan tersebut merupakan penilaian narasumber dan bukan hasil konfirmasi epidemiologi resmi.

WHO Belum Menemukan Bukti Penularan Berkelanjutan dari Kasus Rusia

Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan bahwa berdasarkan informasi yang diberikan pemerintah Rusia, belum ditemukan bukti adanya penularan berkelanjutan yang berkaitan dengan kematian pekerja laboratorium tersebut.

Dalam laporan situasi yang diterbitkan pada 10 Oktober 2026, WHO menjelaskan bahwa pasien dan orang-orang yang pernah melakukan kontak telah menjalani pemeriksaan terhadap berbagai patogen, termasuk bakteri penyebab pes.

Hasil pemeriksaan yang dilaporkan otoritas Rusia tidak menemukan patogen berbahaya yang menjadi perhatian.

Namun, WHO menekankan bahwa penyebab pasti kematian Shipilova masih belum diketahui. Karena tidak ada diagnosis yang terkonfirmasi, organisasi tersebut belum dapat melakukan penilaian risiko secara menyeluruh.

WHO juga menyatakan akan terus meminta informasi tambahan dari pemerintah Rusia.

Dengan demikian, kasus Rusia tersebut belum dapat dipastikan sebagai wabah pneumonia pes.

Sejumlah Wilayah China Mengeluarkan Peringatan Pencegahan

Di tengah kekhawatiran masyarakat, sejumlah otoritas daerah di China dilaporkan mengeluarkan pemberitahuan mengenai pencegahan penyakit menular.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Kota Xining, Provinsi Qinghai, misalnya, mengeluarkan pemberitahuan pada 13 Oktober 2026 yang meminta masyarakat melaporkan indikasi penyakit menular.

Pemberitahuan tersebut mencantumkan sejumlah gejala yang perlu diwaspadai, termasuk demam dan pembengkakan kelenjar getah bening yang dapat berkaitan dengan penyakit pes.

Sebelumnya, otoritas di Hulunbuir, Mongolia Dalam, juga dilaporkan mengeluarkan peringatan risiko penyakit pes pada 10 Oktober. Otoritas kesehatan di Hunan dan Guangdong turut menyampaikan pengingat mengenai pencegahan penyakit tersebut.

Namun, penerbitan peringatan pencegahan tidak otomatis berarti telah terjadi wabah atau ditemukan kasus positif di wilayah tersebut.

Langkah-langkah itu dapat merupakan bagian dari kesiapsiagaan kesehatan masyarakat untuk menghadapi kemungkinan penyakit menular.

Apa Itu Pneumonia Pes dan Bagaimana Penularannya?

Penyakit pes disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Penyakit ini dapat menyerang manusia dan hewan, terutama melalui kutu yang terinfeksi dari hewan pengerat.

Secara umum, penyakit pes memiliki tiga bentuk utama, yaitu:

  1. Pes bubonik: Bentuk yang paling umum, ditandai pembengkakan kelenjar getah bening yang terasa nyeri.
  2. Pes septikemik: Infeksi menyebar melalui aliran darah dan dapat menyebabkan kondisi yang mengancam jiwa.
  3. Pes pneumonik: Infeksi menyerang paru-paru dan merupakan bentuk yang dapat menular antarmanusia melalui percikan pernapasan saat penderita batuk.

Pes pneumonik membutuhkan penanganan medis segera karena dapat berkembang dengan cepat. Meski demikian, penyakit pes dapat diobati menggunakan antibiotik apabila diagnosis dan pengobatan dilakukan sedini mungkin.

WHO dan lembaga kesehatan internasional menekankan pentingnya deteksi dini, pemeriksaan laboratorium, pengobatan yang tepat, serta pelacakan kontak untuk mencegah penularan.

Kekhawatiran Publik Dipengaruhi Pengalaman Pandemi COVID-19

Meningkatnya kekhawatiran masyarakat China juga tidak dapat dilepaskan dari pengalaman pandemi COVID-19.

Sebagian warga masih mengingat kontroversi mengenai keterbukaan informasi pada awal kemunculan COVID-19 di Wuhan pada akhir 2019 dan awal 2020.

Pengalaman tersebut membuat sebagian masyarakat lebih sensitif terhadap kabar penyakit menular baru, terutama ketika informasi resmi terbatas atau tidak segera menjawab pertanyaan publik.

Dalam laporan The Epoch Times, sejumlah pengamat menilai kurangnya transparansi dapat memperbesar ketidakpercayaan masyarakat dan membuat rumor semakin mudah menyebar.

Namun, informasi yang belum terverifikasi tetap perlu dibedakan dari hasil pemeriksaan medis dan pengumuman resmi agar tidak menimbulkan kepanikan yang tidak perlu.

Kesimpulan

Laporan mengenai dugaan kasus penyakit pes di China setelah kematian seorang pekerja laboratorium di Siberia, Rusia, menimbulkan perhatian terhadap kesiapsiagaan kesehatan masyarakat di kawasan tersebut.

Sejumlah kesaksian warga, unggahan media sosial, dan peringatan kesehatan daerah memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan adanya kasus yang belum diungkap secara terbuka.

Namun, sampai saat ini belum ada bukti independen yang memastikan terjadinya wabah pneumonia pes di China. WHO juga belum menemukan bukti penularan berkelanjutan yang berkaitan dengan kematian pekerja laboratorium di Rusia, sementara penyebab kematiannya sendiri belum teridentifikasi secara pasti.

Keterbukaan informasi, pemeriksaan laboratorium yang dapat diverifikasi, dan komunikasi kesehatan masyarakat yang akurat menjadi sangat penting. Pengalaman pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa informasi yang jelas dan tepat waktu merupakan bagian penting dalam menjaga kepercayaan publik serta mencegah kepanikan.

#China #Rusia #WabahPes #PenyakitPes #PneumoniaPes #YersiniaPestis #WabahPenyakit #KesehatanGlobal #WHO #COVID19 #KesehatanChina #Siberia #Irkutsk #PenyakitMenular #KrisisKesehatan #BeritaChina #BeritaInternasional #TheEpochTimes #TruthMedia

Sumber dan referensi


0 comments