AS Tawarkan Hadiah hingga US$10 Juta untuk Informasi tentang Warga China yang Dituduh Mencuri Riset COVID-19
![]() |
| Dalam ilustrasi foto ini, seorang peretas sedang mengetik pada papan tik komputer pada 13 Mei 2025. Oleksii Pydsosonnii/The Epoch Times |
Pemerintah Amerika Serikat menawarkan hadiah hingga US$10 juta bagi siapa pun yang memiliki informasi mengenai Zhang Yu, warga negara China yang dituduh terlibat dalam operasi peretasan untuk mencuri penelitian COVID-19 dari universitas dan ilmuwan Amerika. Zhang diduga bekerja atas arahan badan intelijen China dan hingga kini masih buron.
WASHINGTON, AS — Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menawarkan hadiah hingga US$10 juta melalui program Rewards for Justice untuk memperoleh informasi yang dapat membantu mengidentifikasi atau menemukan Zhang Yu, warga negara China yang dituduh terlibat dalam operasi spionase siber terhadap lembaga penelitian dan organisasi di Amerika Serikat.
Menurut otoritas AS, Zhang merupakan direktur Shanghai Firetech Information Science and Technology Co. dan diduga melakukan aktivitas peretasan atas arahan Kementerian Keamanan Negara China (Ministry of State Security atau MSS), melalui Biro Keamanan Negara Shanghai.
Pengumuman hadiah tersebut juga dipublikasikan oleh Divisi Siber FBI pada 7 Oktober 2026. Zhang hingga kini masih belum ditangkap. Pemerintah AS meminta masyarakat yang memiliki informasi mengenai Zhang, rekan-rekannya, atau aktivitas siber yang dituduhkan kepadanya untuk menyampaikannya melalui program Rewards for Justice. Sumber: Departemen Luar Negeri AS
Zhang Yu Diduga Menargetkan Penelitian Vaksin dan Pengobatan COVID-19
Berdasarkan dakwaan federal Amerika Serikat, Zhang Yu dan Xu Zewei diduga terlibat dalam operasi peretasan antara Februari 2020 hingga Juni 2021. Operasi tersebut disebut berlangsung ketika para ilmuwan di berbagai universitas Amerika sedang melakukan penelitian mengenai vaksin, pengobatan, dan pengujian COVID-19.
Jaksa AS menuduh para terdakwa menargetkan universitas, ahli imunologi, serta ahli virologi untuk memperoleh akses tanpa izin ke data penelitian dan komunikasi elektronik mereka.
Dalam salah satu kasus yang diuraikan dalam dokumen dakwaan, para peretas diduga mencuri beberapa gigabita data dari sebuah universitas di Amerika Serikat. Mereka juga dituduh berupaya mengakses akun surat elektronik milik para peneliti untuk mendapatkan informasi sensitif.
Otoritas AS menyatakan bahwa operasi tersebut diduga dilakukan dengan arahan pejabat intelijen China. Namun, tuduhan terhadap Zhang masih harus dibuktikan melalui proses hukum.
Diduga Terlibat dalam Kampanye Peretasan HAFNIUM
Selain dugaan pencurian penelitian COVID-19, Zhang dan Xu juga dituduh terlibat dalam kampanye peretasan yang dikenal dengan nama HAFNIUM.
Pada 2021, kelompok peretas tersebut mengeksploitasi celah keamanan pada Microsoft Exchange Server, perangkat lunak yang digunakan organisasi untuk mengelola komunikasi melalui surat elektronik.
Menurut Departemen Kehakiman AS, kampanye HAFNIUM menyebabkan ribuan sistem komputer di berbagai negara terdampak. Dalam operasi yang lebih luas tersebut, lebih dari 12.700 organisasi di Amerika Serikat dilaporkan menjadi korban kompromi sistem.
Angka tersebut merujuk pada keseluruhan operasi HAFNIUM yang disebut otoritas AS, bukan hanya dugaan pencurian penelitian COVID-19 oleh Zhang dan Xu.
Penyusupan ke server surat elektronik berpotensi membuka akses terhadap komunikasi rahasia, dokumen internal, serta informasi sensitif milik organisasi yang menjadi sasaran.
Departemen Kehakiman AS menyatakan bahwa jaringan perusahaan teknologi swasta dan kontraktor di China diduga digunakan untuk melaksanakan aktivitas peretasan sekaligus menyamarkan keterlibatan pemerintah. Sumber: Departemen Kehakiman AS
Rekan Terdakwa, Xu Zewei, Telah Diekstradisi ke Amerika Serikat
Sementara Zhang Yu masih buron, Xu Zewei telah ditangkap oleh aparat Italia pada Juli 2025 atas permintaan Amerika Serikat. Xu kemudian diekstradisi ke AS pada 25 April 2026 untuk menghadapi dakwaan federal.
Xu menghadapi dakwaan yang mencakup penipuan melalui komunikasi elektronik, akses tanpa izin ke komputer yang dilindungi, perusakan komputer, serta pencurian identitas yang diperberat.
Dalam proses ekstradisi di Italia, Xu membantah tuduhan peretasan dan menyatakan bahwa dirinya merupakan korban salah identifikasi, menurut laporan yang diterbitkan The Epoch Times.
Kasus ini merupakan bagian dari upaya penegak hukum AS untuk menindak dugaan operasi siber yang menargetkan informasi penelitian, komunikasi elektronik, dan sistem komputer organisasi Amerika.
AS Menawarkan Hadiah untuk Informasi tentang Zhang Yu
Program Rewards for Justice Departemen Luar Negeri AS menawarkan hadiah hingga US$10 juta untuk informasi yang memenuhi persyaratan program terkait Zhang Yu dan aktivitas siber yang dituduhkan kepadanya.
Pemerintah AS menyatakan bahwa informasi yang dicari mencakup keterangan yang dapat membantu mengidentifikasi atau menemukan Zhang, serta informasi tentang rekan-rekannya dan aktivitas siber yang diduga mereka lakukan.
Program tersebut menyediakan saluran pelaporan aman berbasis jaringan Tor. Orang yang memberikan informasi juga mungkin memenuhi syarat untuk memperoleh bantuan relokasi, sesuai ketentuan program.
Informasi resmi mengenai tawaran hadiah dapat diperiksa melalui situs Rewards for Justice.
Kesimpulan
Tawaran hadiah hingga US$10 juta untuk informasi mengenai Zhang Yu menunjukkan bahwa pemerintah Amerika Serikat masih mengejar pihak-pihak yang diduga terlibat dalam operasi peretasan terhadap universitas, peneliti, dan organisasi Amerika.
Kasus ini berawal dari dugaan pencurian data penelitian COVID-19 pada 2020 dan kemudian dikaitkan dengan kampanye peretasan HAFNIUM pada 2021. Sementara Xu Zewei telah diekstradisi ke Amerika Serikat untuk menghadapi proses hukum, Zhang masih belum ditemukan.
Meski demikian, tuduhan terhadap Zhang harus dibedakan dari fakta yang telah diputuskan pengadilan. Perkembangan kasus selanjutnya akan bergantung pada penyelidikan dan proses hukum yang berlangsung di Amerika Serikat.
#AmerikaSerikat #China #ZhangYu #COVID19 #PencurianRiset #SpionaseSiber #PeretasanSiber #HAFNIUM #FBI #DepartemenKehakimanAS #KeamananSiber #TheEpochTimes #BeritaInternasional #TruthMedia

0 comments