Pekerja China Kembali dari Libur, Pabrik Kosong dan Pemilik Usaha Menghilang

Para pekerja memproduksi pakaian untuk perusahaan e-commerce *fast fashion* Shein di Guangzhou, Provinsi Guangdong, Tiongkok, pada 11 Juni 2024. Jade Gao/AFP via Getty Images

Sejumlah pekerja di China dilaporkan mendapati pabrik tempat mereka bekerja telah dikosongkan setelah libur Hari Nasional pada 1–7 Oktober 2026. Mesin dan peralatan produksi dilaporkan dipindahkan, pemilik usaha sulit ditemukan, sementara sebagian pekerja mengaku belum menerima gaji selama berbulan-bulan. Situasi ini menyoroti ketidakpastian yang dihadapi pekerja di tengah tekanan terhadap sejumlah usaha kecil.

CHINA — Sejumlah pekerja di berbagai wilayah China menghadapi situasi mengejutkan setelah kembali bekerja seusai libur Hari Nasional. Mereka mendapati tempat kerja telah kehilangan mesin dan peralatan produksi, sementara pemilik atau pengelola usaha tidak lagi berada di lokasi.

Menurut laporan The Epoch Times yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, beberapa pekerja mengaku masih memiliki tunggakan gaji ketika pabrik tempat mereka bekerja tiba-tiba berhenti beroperasi. Dalam sejumlah kasus, pekerja menduga pemilik usaha memanfaatkan masa liburan untuk memindahkan peralatan dan menutup bisnis tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Laporan tersebut didasarkan pada wawancara dengan pekerja dan video yang beredar di media sosial berbahasa Mandarin. Identitas sejumlah narasumber dirahasiakan karena mereka khawatir menghadapi tindakan balasan. Klaim-klaim dalam laporan itu belum dapat diverifikasi secara independen oleh The Epoch Times.

Pabrik di Hubei Dikosongkan, Pemilik Diduga Menghilang

Di Xiaogan, Provinsi Hubei, seorang pekerja bermarga Zhao mengatakan kepada The Epoch Times pada 6 Oktober bahwa pabrik perangkat keras dan plastik tempatnya bekerja telah dipindahkan keluar dari lokasi. Ia mengaku tidak dapat menemukan pemilik usaha tersebut.

Zhao mengatakan dirinya hanya pekerja sementara dan pembayaran upah telah berulang kali ditunda.

Kasus ini menggambarkan kesulitan yang dapat dihadapi pekerja ketika perusahaan berhenti beroperasi secara mendadak, terutama jika tidak ada pemberitahuan yang jelas mengenai pembayaran gaji dan kelanjutan pekerjaan.

Bagi pekerja yang mengandalkan upah harian atau bulanan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, hilangnya pekerjaan sekaligus tertahannya gaji dapat menimbulkan tekanan ekonomi yang berat.

Pekerja Pabrik Sepatu di Fujian Menunggu Tunggakan Gaji

Situasi serupa dilaporkan terjadi di Putian, Provinsi Fujian. Seorang pekerja bermarga Dong mengatakan bahwa karyawan sebuah pabrik sepatu kecil berupaya menuntut pembayaran upah yang belum mereka terima.

Menurut Dong, para pekerja mendatangi pemilik usaha pada 3 Oktober untuk meminta kejelasan mengenai pembayaran tersebut.

Ia mengatakan pemilik pabrik mengaku tidak memiliki cukup uang dan meminta para pekerja menunggu. Dong sendiri mengaku belum menerima gaji selama lebih dari dua bulan.

Pabrik tersebut mempekerjakan beberapa puluh orang dan, menurut penuturannya, belum secara resmi menyatakan kebangkrutan. Dong juga menduga dana usaha telah dialihkan ke bisnis lain sehingga perusahaan tidak lagi memiliki cukup uang untuk membayar karyawan.

Namun, dugaan mengenai penggunaan dana tersebut berasal dari keterangan narasumber dan belum dikonfirmasi secara independen.

Lebih dari 60 Pekerja Pabrik Termos Dilaporkan Belum Digaji

Di Yongkang, Provinsi Zhejiang, seorang perempuan bermarga Sun menceritakan bahwa orang tuanya bekerja di sebuah pabrik yang memproduksi gelas atau wadah minum berinsulasi.

Menurut Sun, lebih dari 60 pekerja di pabrik tersebut dilaporkan belum menerima gaji selama tiga bulan.

Ia mengatakan pemilik pabrik telah menghilang. Selama masa liburan, orang tuanya bersama sejumlah pekerja lain bahkan berjaga di depan pintu masuk pabrik selama sekitar satu minggu karena khawatir peralatan yang masih tersisa akan dipindahkan.

Kekhawatiran tersebut menunjukkan bahwa pekerja tidak hanya menghadapi risiko kehilangan pekerjaan, tetapi juga kesulitan memperjuangkan hak mereka ketika aset perusahaan diduga mulai dipindahkan.

Apabila aset usaha sudah tidak berada di lokasi dan pemilik sulit ditemukan, proses menagih upah yang tertunggak berpotensi menjadi semakin rumit.

Usaha Kecil Lain Juga Dilaporkan Mengalami Masalah

Laporan mengenai pemilik usaha yang menghilang tidak hanya berasal dari sektor manufaktur.

Seorang perempuan bermarga Yang di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, mengatakan bahwa pemilik pusat kebugaran di daerahnya juga menghilang selama libur Hari Nasional. Usaha tersebut dilaporkan berada dalam kondisi kesulitan.

Sejumlah video yang beredar di media sosial juga memperlihatkan pekerja mengeluhkan tempat kerja yang telah dikosongkan ketika mereka kembali dari liburan. Beberapa pekerja menuduh mesin dan peralatan telah dijual atau dipindahkan tanpa penjelasan yang memadai.

Meski demikian, video dan kesaksian tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa semua usaha yang tutup mengalami persoalan yang sama. Kondisi setiap perusahaan dan alasan penghentian operasinya perlu diperiksa secara terpisah.

Ketidakpastian Ekonomi Menambah Tekanan bagi Pekerja

Rangkaian laporan tersebut memberikan gambaran mengenai risiko yang dihadapi sebagian pekerja dan pemilik usaha kecil ketika bisnis mengalami kesulitan keuangan.

Penutupan usaha yang mendadak dapat menyebabkan pekerja kehilangan sumber pendapatan, sedangkan tunggakan gaji membuat mereka semakin sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bagi usaha kecil, persoalan arus kas, kewajiban pembayaran, dan keberlanjutan kegiatan bisnis dapat menjadi faktor penting dalam menentukan kemampuan perusahaan bertahan. Namun, laporan yang tersedia belum memberikan data menyeluruh untuk mengukur seberapa luas fenomena pabrik kosong dan pemilik yang menghilang di seluruh China.

Kasus-kasus yang dilaporkan juga memperlihatkan pentingnya mekanisme perlindungan tenaga kerja, pencatatan pembayaran upah, serta akses terhadap jalur pengaduan ketika perusahaan berhenti beroperasi.

Kesimpulan

Sejumlah pekerja di China dilaporkan menghadapi masalah setelah kembali dari libur Hari Nasional pada Oktober 2026. Di beberapa wilayah, mereka mendapati pabrik telah dikosongkan, pemilik usaha sulit ditemukan, dan pembayaran gaji tertunggak selama berbulan-bulan.

Kesaksian dari Hubei, Fujian, dan Zhejiang memperlihatkan dampak langsung yang dapat dialami pekerja ketika usaha berhenti beroperasi tanpa penyelesaian kewajiban yang jelas. Namun, sejauh ini laporan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh sektor manufaktur China mengalami kondisi serupa.

Perkembangan kasus-kasus tersebut akan menjadi perhatian, terutama terkait upaya pekerja memperoleh kembali upah yang belum dibayar dan kejelasan mengenai tanggung jawab pemilik usaha setelah perusahaan berhenti beroperasi.

#China #EkonomiChina #PekerjaChina #PabrikChina #KrisisEkonomi #UpahBelumDibayar #IndustriManufaktur #BisnisChina #Pengangguran #EkonomiGlobal #BeritaInternasional #TheEpochTimes #TruthMedia

0 comments