Perdana Menteri Inggris Kunjungi China untuk Pertama Kali dalam 8 Tahun, Rombongan Bawa Perangkat Sekali Pakai Cegah Penyadapan


Perdana Menteri Inggris melakukan kunjungan resmi ke China untuk pertama kalinya dalam delapan tahun terakhir. Demi menghindari risiko penyadapan dan pengawasan siber, seluruh delegasi Inggris hanya membawa ponsel dan laptop sekali pakai serta meninggalkan semua perangkat elektronik resmi di Inggris.

Pada kunjungan resminya ke Beijing, Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer memimpin delegasi besar yang berfokus pada kerja sama perdagangan dan keamanan. Dalam forum bisnis Inggris–China, Starmer menekankan pendekatan “mencari persamaan sambil menghormati perbedaan” sebagai dasar hubungan kedua negara.

Dalam pertemuan dengan pemimpin tertinggi China, Starmer menyatakan keinginannya membangun hubungan yang lebih matang serta memperkuat kerja sama di bidang keamanan dan perdagangan.

Ia menyebut telah ada sejumlah kemajuan konkret, termasuk penurunan tarif impor wiski Skotlandia ke China dari 10% menjadi 5%, kebijakan bebas visa 30 hari bagi warga Inggris yang masuk ke China, serta peningkatan kerja sama pertukaran informasi untuk menekan imigrasi ilegal, khususnya terkait perahu kecil dan komponen mesin.

Selain itu, perusahaan farmasi Inggris, AstraZeneca mengumumkan komitmen investasi sebesar 15 miliar dolar AS di China, menandai penguatan hubungan ekonomi kedua negara.

Meski Starmer mengatakan telah mengangkat isu hak asasi manusia secara langsung dalam pertemuan tersebut, para pengamat menilai kepentingan ekonomi tetap menjadi prioritas utama dalam pendekatan London terhadap Beijing. Hal ini terlihat dari besarnya delegasi bisnis yang ikut serta dan penandatanganan berbagai kesepakatan komersial.

Keputusan kunjungan ini mendapat kritik dari pemimpin oposisi Partai Konservatif, Kemi Badenoch. Ia menilai Inggris seharusnya lebih memprioritaskan hubungan dengan negara-negara sekutu yang khawatir terhadap meningkatnya pengaruh dan ancaman dari China.

Langkah Keamanan Ekstra Ketat

Menurut laporan media Inggris, demi mencegah penyadapan atau spionase, Starmer dan timnya tidak membawa perangkat elektronik resmi pemerintah maupun perangkat pribadi.

Mereka hanya menggunakan ponsel dan laptop sekali pakai selama berada di China. Para pejabat pendamping juga diwajibkan tidak membawa perangkat elektronik pribadi apa pun.

Mantan menteri keamanan Inggris, Tom Tugendhat, bahkan mengungkapkan bahwa rombongan pemerintah menyewa pesawat khusus non-pemerintah sebagai langkah tambahan untuk meminimalkan risiko penyadapan.

Agenda Lanjutan ke Jepang

Selama di Beijing, Starmer juga mengunjungi Kota Terlarang. Setelah dari China, ia dijadwalkan melanjutkan perjalanan ke Jepang untuk bertemu Perdana Menteri Jepang, menandai rangkaian diplomasi Asia Timur yang intens.

Kesimpulan

Kunjungan perdana menteri Inggris ke China setelah delapan tahun menandai upaya membuka babak baru hubungan ekonomi dan diplomatik kedua negara. Namun, langkah pengamanan ekstrem dengan penggunaan perangkat sekali pakai menunjukkan tingginya kekhawatiran terhadap risiko spionase siber. Di tengah peluang kerja sama ekonomi besar, kunjungan ini juga memicu perdebatan di dalam negeri Inggris mengenai keseimbangan antara kepentingan bisnis, keamanan nasional, dan nilai-nilai demokrasi.

_______________________

#InggrisChina #KunjunganPMInggris #KeirStarmer #HubunganInternasional #KeamananSiber #SpionaseDigital #PerdaganganInggrisChina #InvestasiChina #DiplomasiGlobal #BeritaDunia

0 comments