China Gelar Latihan Militer Besar-besaran di Sekitar Taiwan, Negara Barat Kecam Keras
Militer China menggelar latihan gabungan berskala besar dengan tembakan langsung di sekitar Taiwan, memicu kecaman keras dari negara-negara Barat. Para pakar menilai manuver ini lebih bertujuan untuk menekan Taiwan dan menguji reaksi Amerika Serikat serta Jepang, bukan sebagai tanda perang segera.
Latihan Militer China di Lima Zona Laut dan Udara Sekitar Taiwan
Pada 29 Desember, Komando Teater Timur Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) secara mendadak mengumumkan pelaksanaan latihan militer gabungan berskala besar di lima wilayah laut dan udara di sekitar Taiwan.
Latihan tersebut melibatkan Angkatan Laut, Angkatan Udara, serta Pasukan Roket, termasuk serangan jarak jauh terpadu dan latihan tembakan langsung.
Kementerian Pertahanan Taiwan menyatakan bahwa hingga 30 Desember pukul 06.00, terdeteksi 130 pesawat militer China serta 22 kapal Angkatan Laut dan kapal penjaga pantai beroperasi di sekitar wilayah Taiwan.
Taiwan Tingkatkan Kesiapsiagaan Militer
Menanggapi situasi tersebut, militer Taiwan langsung melakukan pemantauan ketat dan mengaktifkan latihan kesiapsiagaan tempur.
Peneliti Madya Institut Riset Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Kung Hsiang-sheng, menilai bahwa meskipun cakupan latihan tembakan langsung kali ini diperluas, risiko bentrokan langsung masih relatif terkendali.
“Latihan semacam ini bukan yang pertama kali dilakukan. Meski skalanya diperbesar, belum sampai pada tingkat yang memicu bentrokan langsung lintas selat,” ujarnya.
Uji Reaksi AS–Jepang, Bukan Sinyal Perang Langsung
Latihan ini berlangsung tak lama setelah pemerintahan Presiden AS Donald Trump menyetujui paket penjualan senjata ke Taiwan senilai lebih dari 11 miliar dolar AS, sehingga dipandang sebagai sinyal politik dan militer yang kuat kepada Amerika Serikat dan Jepang.
Wakil Rektor Universitas Kainan, Chen Wen-chia, mengatakan latihan ini lebih realistis dibanding sebelumnya dan memang meningkatkan risiko, namun bukan indikasi perang dalam waktu dekat.
“Tujuan utamanya adalah menekan Taiwan, memberi penjelasan ke dalam negeri, dan menguji reaksi Amerika Serikat serta Jepang. Risiko meningkat, tetapi niat perang belum tinggi. Bahaya sebenarnya adalah jika kondisi seperti ini terus berulang, maka kecelakaan militer bisa terjadi kapan saja,” jelasnya.
Kecaman Negara Barat dan Sikap Amerika Serikat
Latihan militer China tersebut menuai kecaman keras dari Inggris, Prancis, Jerman, dan Uni Eropa, yang menilai aksi Beijing telah meningkatkan ketegangan dan risiko eskalasi di Selat Taiwan. Jepang juga menyampaikan keprihatinan serius.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak terlalu khawatir. Ia menilai pemimpin China tidak akan melampaui “garis merah”.
Menurut Chen Wen-chia, pernyataan Trump menunjukkan bahwa China saat ini belum siap menghadapi perang skala penuh, baik dari sisi militer, ekonomi, maupun kemampuan menghadapi sanksi internasional.
Aktivitas Militer China Mulai Menurun
Hingga 31 Desember, pihak China belum secara resmi mengumumkan berakhirnya latihan. Namun, pejabat Penjaga Pantai Taiwan mengungkapkan bahwa kapal-kapal penjaga pantai China mulai perlahan meninggalkan perairan sekitar Taiwan, dan jumlah pesawat serta kapal militer yang melakukan gangguan juga menurun signifikan.
Kesimpulan
Latihan militer besar-besaran China di sekitar Taiwan kembali meningkatkan ketegangan kawasan dan memicu reaksi keras dari komunitas internasional. Meski belum mengarah pada konflik terbuka, para analis memperingatkan bahwa intensitas manuver semacam ini meningkatkan risiko salah perhitungan. Bagi Taiwan, penguatan kemampuan pertahanan dan pencegahan tetap menjadi kunci untuk menjaga stabilitas kawasan.

0 comments