Ayah Juara Olimpiade Liu Meixian Ungkap Dugaan Represi Lintas Negara oleh PKC


Kesuksesan atlet seluncur indah Amerika Serikat, Liu Meixian, meraih dua medali emas di Olimpiade Musim Dingin Milan, turut menyorot latar belakang keluarganya. Dalam wawancara eksklusif, sang ayah, Liu Jun—mantan aktivis mahasiswa 1989 yang kini menjadi pengacara di AS—mengungkap pengalaman panjangnya menghadapi dugaan pengawasan dan intimidasi lintas negara oleh PKC.


Bersinar di Milan, Latar Belakang Keluarga Jadi Sorotan

Pada Olimpiade Musim Dingin di Milan tahun ini, atlet keturunan Tionghoa yang mewakili Amerika Serikat, Liu Meixian, tampil hampir sempurna dan meraih emas nomor tunggal putri serta emas beregu. Prestasinya menjadikannya pusat perhatian publik internasional.

Seiring sorotan tersebut, masa lalu ayahnya, Liu Jun, kembali menjadi perhatian media arus utama di Amerika Serikat.


Mantan Aktivis 1989 yang Melarikan Diri ke AS

Liu Jun mengungkapkan bahwa dirinya adalah salah satu aktivis mahasiswa dalam gerakan pro-demokrasi 1989 di Guangzhou. Setelah peristiwa penindasan pada 4 Juni 1989, ia masuk dalam daftar buronan otoritas China dan kemudian melarikan diri ke Amerika Serikat melalui jalur penyelamatan yang dikenal sebagai “Operasi Yellowbird”.

“Saya melarikan diri dari China setelah peristiwa 4 Juni dan datang ke Amerika tanpa uang sepeser pun. Saya memulai dari nol dan membangun karier hingga menjadi pengacara di sini,” ujarnya.

Di Amerika, Liu Jun memulai kembali hidupnya dan aktif menyuarakan isu hak asasi manusia di China.


Aktivisme dan Tekanan yang Berlanjut

Liu Jun mengatakan bahwa sejak dekade 1990-an, ia telah menjadi target pendekatan dan pemantauan oleh pihak-pihak yang diduga terkait PKC di luar negeri. Ia tetap aktif mengorganisasi berbagai kegiatan, termasuk aksi di depan konsulat China, untuk menyoroti kondisi hak asasi manusia.

“Jika kita memiliki kebebasan berbicara di Amerika, kita seharusnya peduli pada rakyat China dan kondisi HAM di sana,” katanya.

Menurutnya, dugaan tekanan lintas negara mencapai puncaknya menjelang Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022, saat putrinya bersiap mewakili Amerika Serikat.

Ia mengklaim bahwa seseorang yang diduga terkait aparat luar negeri China sempat menyamar sebagai staf Komite Olimpiade AS dan mencoba meminta data pribadi, termasuk paspor dirinya dan putrinya. Setelah ia menolak, muncul nada ancaman.

Tak lama kemudian, ia mengaku mendapat peringatan dari FBI bahwa dirinya dan putrinya berada dalam pengawasan pihak tertentu yang terkait Beijing.


“Ancaman Tidak Akan Membuat Saya Diam”

Meski menghadapi tekanan, Liu Jun menyatakan tidak gentar.

“Ancaman tidak akan ada artinya bagi saya. Saya tidak takut,” tegasnya.

Ia juga menyerukan agar pemerintah China menghentikan tekanan terhadap komunitas Falun Gong di luar negeri. Menurutnya, intimidasi tidak akan membungkam pihak-pihak yang terus menyuarakan keyakinan atau pandangan mereka.

Liu Jun mengatakan bahwa sejak 1989, ia telah menerima kemungkinan risiko terburuk atas sikapnya.

“Saat itu saya sudah berpikir, bahkan jika saya mati, saya tidak menyesal. Saya merasa telah melakukan sesuatu yang bermakna.”


Kesimpulan

Prestasi gemilang Liu Meixian di panggung Olimpiade tidak hanya menjadi kebanggaan olahraga Amerika Serikat, tetapi juga membuka kembali perbincangan tentang sejarah politik keluarganya. Pengakuan Liu Jun mengenai dugaan pengawasan dan intimidasi lintas negara menambah dimensi baru dalam diskursus global terkait kebebasan berekspresi, hak asasi manusia, dan hubungan antara Amerika Serikat dan China.


#LiuMeixian #OlimpiadeMusimDingin #China #PKC #HakAsasiManusia #RepresiTransnasional #FalunGong #HubunganASChina #Aktivis1989 #BeritaInternasional

0 comments