Kamboja Gencar Sapu Bersih Kawasan Penipuan, Dalang Utama Masih Bebas dan Terus Beraksi
Pemerintah Kamboja terus menggencarkan operasi pemberantasan kawasan penipuan daring (scam center). Namun, sejumlah sumber mengungkap bahwa yang tertangkap mayoritas hanya pelaku lapangan, sementara para dalang utama—banyak di antaranya pebisnis asal China—masih bebas dan bahkan terus membangun kawasan penipuan baru di luar jangkauan hukum.
Operasi Besar, Ribuan Orang Ditangkap
Kamboja dalam beberapa bulan terakhir meningkatkan penindakan terhadap kawasan penipuan daring yang telah lama menjadi sorotan internasional. Namun, hasil operasi ini dinilai belum menyentuh akar masalah.
Menurut laporan Kampuchea–China Times, pada 31 Januari, polisi Kamboja menggerebek Kawasan A7 di Kota Bavet, Provinsi Svay Rieng (juga dikenal sebagai Má»™c BÃ i). Dalam operasi tersebut, aparat menangkap sekitar 2.044 warga negara asing, termasuk 78 perempuan. Dari jumlah itu, 1.792 orang merupakan warga China.
Yang Ditangkap Mayoritas Hanya “Pekerja Bawah”
Sejumlah pelaku penipuan yang mengetahui kondisi internal kawasan mengungkapkan bahwa aparat kebanyakan hanya menangkap anggota lapangan. Para pemilik dan pengendali utama jarang muncul ke permukaan.
Seorang pelaku penipuan bermarga Zhang mengatakan bahwa setelah penertiban digencarkan, banyak perusahaan penipuan telah lebih dulu memindahkan operasinya. Banyak warga China yang berhasil melarikan diri dari kawasan tersebut enggan pulang ke China karena takut menghadapi hukuman penjara.
“Sekarang razia di mana-mana. Hotel dan apartemen juga diperiksa. Di kawasan itu semuanya gelap—banyak yang meninggal. Perempuan lebih sulit pulang karena ‘nilai’ mereka tinggi. Sekarang banyak yang pindah ke Sri Lanka,” ujarnya.
Dalang Diduga Pebisnis Asal Fujian
Seorang pengusaha asal Fujian bermarga Chen (nama samaran) mengungkapkan bahwa dalang utama di balik kawasan penipuan jarang tersentuh hukum. Mereka umumnya pebisnis asal Fujian yang hidup mewah dan mengenakan barang bermerek saat kembali ke China, dengan jam tangan bernilai jutaan yuan.
“Sebagian besar bos besar dan pemegang saham tidak tertangkap. Mereka juga punya bisnis legal di luar negeri. Banyak kamar dagang ikut berinvestasi di kawasan ini. Awalnya abu-abu, lama-lama jadi hitam. Kemanusiaan hilang—menipu sesama orang China, penculikan, bahkan perdagangan organ. Ini sudah menjadi sindikat kejahatan internasional,” katanya.
Jejak Bisnis dari Warnet dan Arena Gim di China
Menurut Chen, banyak kawasan penipuan dibangun oleh pemilik asal Fujian dengan biaya sewa sangat tinggi, mencapai 40 dolar AS per meter persegi per bulan. Satu pelaku penipuan biasanya dibekali lima ponsel dan satu komputer, sehingga modal awal bisa mencapai puluhan juta yuan.
Ia mengungkapkan bahwa banyak investor sebelumnya menjalankan arena gim, pusat hiburan elektronik, dan warnet di China pada periode 2005–2012. Salah satu tokoh yang disebut, Chen Zhi, bahkan pernah bekerja sebagai manajer warnet sebelum terjun ke bisnis gelap ini.
Kawasan Baru Terus Bermunculan
Seorang pengusaha Fujian lain bermarga Zhang (nama samaran), yang pernah tertipu dan masuk kawasan penipuan sebelum berhasil melarikan diri, mengatakan bahwa harga sewa kawasan sangat fantastis—bahkan mencapai ratusan juta yuan per tahun untuk satu lantai atau unit.
“Setelah kawasan KK di Myawaddy dibom, mereka pindah ke Three Pagodas Pass. Puluhan kawasan baru dibangun—di Wan Hai, Dangyang, dan Laika. Kawasan-kawasan itu tumbuh seperti jamur. Di dalamnya ada ribuan hingga puluhan ribu orang. Konsumsinya sangat besar dan bisnisnya dimonopoli, dengan setoran komisi yang sangat tinggi,” ungkapnya.
Kesimpulan
Meski Kamboja terus menggencarkan operasi pemberantasan kawasan penipuan daring, fakta di lapangan menunjukkan bahwa penindakan belum menyentuh aktor utama. Para dalang yang diduga memiliki jaringan lintas negara masih bebas bergerak, membangun kawasan baru, dan merekrut korban—terutama dari China. Tanpa kerja sama internasional yang lebih kuat dan penindakan terhadap pemodal besar, kejahatan ini berpotensi terus berkembang dan mengancam keamanan regional.
#Kamboja #PenipuanOnline #ScamCenter #KejahatanLintasNegara #China #PKC #PerdaganganManusia #CyberCrime #AsiaTenggara #BeritaInternasional

0 comments