Laporan: PKC Gunakan Situs Berita Palsu Bergaya Media Barat untuk Serang Falun Gong


Lembaga riset media sosial berbasis di New York, Graphika, merilis laporan terbaru yang menyebut puluhan situs berita palsu terkait perusahaan China digunakan untuk menyebarkan propaganda pro-PKC dan menyerang Falun Gong. Situs-situs tersebut menyamar sebagai media arus utama Barat guna memengaruhi opini publik internasional.


Puluhan Situs Tiruan Media Ternama

Menurut laporan dari Graphika, sejak 2020 hingga 2025 sejumlah perusahaan hubungan masyarakat dan pemasaran asal China diduga membuat puluhan situs berita palsu.

Situs-situs tersebut meniru tampilan dan identitas media ternama internasional, seperti:

  • The New York Times
  • The Wall Street Journal
  • Los Angeles Times
  • The Guardian

Selain memuat konten komersial dan narasi pro-PKC, situs-situs tersebut juga menerbitkan artikel bernada negatif terhadap Falun Gong.


Target: Falun Gong dan Shen Yun

Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah kelompok spiritual yang berlandaskan prinsip “Sejati, Baik, Sabar” dan telah lama menjadi sasaran penindasan oleh pemerintah China.

Laporan tersebut juga menyinggung serangan terhadap Shen Yun Performing Arts, kelompok seni tari klasik China yang didirikan praktisi Falun Gong pada 2006 dan berbasis di New York. Selama bertahun-tahun, pertunjukan Shen Yun kerap menjadi target tekanan dan kampanye negatif.

Direktur Eksekutif Falun Dafa Information Center, Levi Browde, menyatakan bahwa strategi ini sejalan dengan kampanye yang lebih luas terhadap praktisi Falun Gong di luar negeri.

Dalam pernyataannya, ia menilai operasi tersebut bukan sekadar penyebaran informasi palsu, tetapi bagian dari pola pengaruh terkoordinasi untuk menyusup ke ekosistem informasi Barat melalui merek “berita” palsu.


Jaringan Akun Media Sosial Palsu

Laporan Graphika juga mengungkap bahwa banyak akun media sosial palsu digunakan untuk menyebarkan artikel dan menyerang Falun Gong serta Shen Yun. Sebagian besar akun tersebut memiliki sangat sedikit pengikut, mengindikasikan operasi yang terkoordinasi dan tidak organik.

Fenomena ini sebelumnya juga telah menjadi perhatian komunitas keamanan siber.

Pada 2022, perusahaan keamanan siber Mandiant, anak usaha dari Google, menemukan lebih dari 70 situs media palsu yang memiliki pola serupa.

Sementara itu, lembaga riset Prancis Institute for Strategic Research (IRSEM) dalam laporan 2025 juga menyebut adanya jaringan luas situs multibahasa yang meniru media sah untuk menjangkau audiens asing.


Kesimpulan

Laporan Graphika menambah daftar kekhawatiran terkait operasi pengaruh digital lintas negara. Dengan menyamar sebagai media kredibel, jaringan situs dan akun palsu tersebut diduga bertujuan membentuk opini publik internasional sekaligus mendiskreditkan kelompok tertentu. Di tengah meningkatnya perang informasi global, temuan ini memperkuat urgensi literasi media dan pengawasan terhadap kampanye disinformasi terkoordinasi.


#PKC #China #Disinformasi #FakeNews #FalunGong #ShenYun #Graphika #KeamananSiber #PropagandaDigital #BeritaInternasional

0 comments