Perang Rusia–Ukraina Hampir Empat Tahun, Ukraina Klaim Rebut 400 Km² Wilayah dalam Sebulan


Menjelang genap empat tahun invasi Rusia ke Ukraina, militer Ukraina mengumumkan keberhasilan merebut kembali sekitar 400 kilometer persegi wilayah di front selatan hanya dalam bulan Februari. Klaim ini mencolok di tengah laporan lambatnya kemajuan pasukan Rusia dan tekanan ekonomi Moskow akibat sanksi internasional.


Serangan Drone di Odesa, Korban Sipil Berjatuhan

Sehari menjelang peringatan empat tahun perang, wilayah selatan Ukraina kembali diguncang serangan drone Rusia. Di kawasan Odesa, dua warga sipil dilaporkan tewas dan tiga lainnya luka-luka.

Seorang warga Odesa, Lyudmyla, mengatakan setahun terakhir menjadi periode paling berat dalam hidupnya.

“Pemadaman listrik, cuaca dingin, dan serangan yang semakin sering terjadi. Itu hanya sebagian dari penderitaan kami,” ujarnya.


Ukraina Klaim Rebut 400 Km² dan Delapan Permukiman

Panglima tertinggi militer Ukraina, Oleksandr Syrskyi, pada Senin menyatakan bahwa sejak akhir Januari, pasukan Ukraina telah merebut kembali sekitar 400 kilometer persegi wilayah, termasuk delapan permukiman.

Keberhasilan tersebut disebut terjadi di wilayah tenggara sekitar Dnipropetrovsk. Capaian ini dinilai kontras dengan laju ofensif Rusia yang disebut lambat dan berbiaya tinggi di garis depan.

Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan bahwa Rusia tidak lagi membuat kemajuan signifikan di garis depan, sementara ekonomi Rusia tertekan oleh sanksi dan beban perang.


Serangan ke Infrastruktur Energi Rusia

Selain di medan darat, Ukraina juga terus menargetkan fasilitas energi Rusia untuk melemahkan kemampuan ekonomi perang Moskow.

Dalam serangan terbaru pada Minggu malam, fasilitas penyimpanan minyak di jalur pipa Druzhba pipeline dilaporkan terbakar hebat. Pipa tersebut merupakan jalur vital pengiriman minyak Rusia ke Eropa Timur dan berjarak sekitar 1.200 kilometer dari garis depan.

Sejak 27 Januari, aliran minyak Rusia ke Hongaria dan Slovakia disebut terganggu. Kedua negara itu bahkan mengancam akan menghentikan pasokan listrik ke Ukraina jika distribusi minyak tidak dipulihkan.


Uni Eropa Terbelah Soal Sanksi Baru

Uni Eropa berencana meluncurkan paket sanksi ke-20 terhadap Rusia bertepatan dengan peringatan empat tahun perang. Namun, langkah tersebut mendapat penolakan dari Hongaria.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mengatakan bahwa meski belum ada kemajuan, upaya mendorong sanksi tambahan akan terus dilakukan.


Zelenskyy: Tidak Akan Korbankan Wilayah demi Gencatan Senjata

Dalam wawancara dengan BBC, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menegaskan bahwa Ukraina tidak akan menyerahkan wilayah demi mencapai gencatan senjata.

Ia bahkan menyebut Presiden Rusia Vladimir Putin telah memicu “Perang Dunia Ketiga”, dan satu-satunya jalan untuk menghentikan agresi adalah melalui tekanan militer dan ekonomi yang berkelanjutan terhadap Moskow.


Dukungan Internasional Terus Mengalir

Akhir pekan lalu, aksi solidaritas untuk Ukraina digelar di berbagai negara, termasuk Kanada, Turki, Italia, dan Hongaria. Para demonstran menyerukan penghentian perang dan mendesak Rusia menghentikan agresi.


Kesimpulan

Menjelang empat tahun invasi, perang Rusia–Ukraina masih jauh dari kata usai. Klaim keberhasilan militer Ukraina dalam merebut kembali wilayah signifikan memberi dorongan moral baru, namun serangan drone dan pertempuran terus berlangsung. Di sisi lain, dinamika geopolitik—termasuk perdebatan sanksi Uni Eropa dan ketegangan energi di Eropa Timur—menunjukkan bahwa konflik ini tetap menjadi pusat pertarungan politik dan ekonomi global.


#RusiaUkraina #PerangRusiaUkraina #Zelenskyy #Putin #SanksiRusia #UniEropa #Druzhba #GeopolitikGlobal #BeritaInternasional #KonflikEropa

0 comments