Dokumenter China Soroti Pusat Penipuan di Burma, Sejumlah Pihak Ungkap Dugaan Keterkaitan dengan PKC
Media pemerintah China menayangkan dokumenter mengenai operasi pemberantasan pusat penipuan telekomunikasi di wilayah utara Burma atau Myanmar. Namun, di tengah kampanye tersebut, sejumlah penyelidikan internasional dan kesaksian mantan intelijen China menyoroti dugaan adanya hubungan antara sebagian jaringan penipuan di Asia Tenggara dengan pejabat atau aparat keamanan China. Kasus ini juga memperlihatkan keterkaitan antara penipuan daring, perdagangan manusia, kerja paksa, dan jaringan kejahatan transnasional.
China Tayangkan Dokumenter tentang Pusat Penipuan di Burma
Media pemerintah China, CCTV, menayangkan dokumenter mengenai pemberantasan jaringan penipuan telekomunikasi di wilayah utara Burma pada 5–7 Oktober 2026.
Dokumenter tersebut diproduksi bersama Kementerian Keamanan Publik China dan menampilkan operasi terhadap sejumlah kompleks yang digunakan untuk menjalankan penipuan daring.
Media pemerintah China menyatakan bahwa aparat keamanan dan sejumlah departemen terkait telah bekerja sama memberantas kejahatan yang berkaitan dengan warga negara China di kawasan tersebut. Pemerintah China juga mengklaim bahwa kelompok kriminal yang dikenal sebagai “empat keluarga besar” di wilayah utara Burma telah diberantas.
Namun, laporan The Epoch Times menyoroti pertanyaan yang lebih luas: apakah sebagian jaringan pusat penipuan tersebut hanya merupakan operasi kriminal independen, atau terdapat hubungan dengan jaringan keamanan dan kepentingan politik China.
Korban Perdagangan Manusia Dipaksa Menjalankan Penipuan
Dokumenter tersebut menampilkan seorang pria bermarga Tang yang mengatakan bahwa dirinya diperdagangkan ke sebuah kompleks penipuan di Negara Bagian Wa, Burma, pada 2021.
Tang mengatakan dirinya dipaksa menjalankan penipuan telekomunikasi. Setelah dianggap tidak mencapai target, ia dipaksa menandatangani perjanjian utang sebesar 70.000 yuan atau sekitar US$10.441.
Ia kemudian beberapa kali dijual kepada kelompok kriminal lain dan mengalami kekerasan fisik.
Dalam kesaksiannya, Tang mengaku bahwa setelah mengalami luka parah dan tidak mampu berjalan, kelompok kriminal tersebut menawarkan untuk mengambil ginjalnya sebagai pembayaran utang.
Menurut Tang, setelah ditemukan penerima yang cocok, salah satu ginjalnya kemudian diambil melalui operasi. Kesaksian tersebut ditampilkan dalam dokumenter yang disiarkan media pemerintah China.
Kasus tersebut menggambarkan bagaimana pusat penipuan di Asia Tenggara tidak hanya berkaitan dengan kerugian finansial, tetapi juga dapat melibatkan perdagangan manusia, penyekapan, kerja paksa, kekerasan, dan bentuk eksploitasi lainnya.
Puluhan Ribu Orang Telah Dipulangkan dari Myanmar
Masalah pusat penipuan di kawasan tersebut telah menjadi perhatian internasional.
Laporan tahunan Congressional-Executive Commission on China (CECC) mencatat bahwa pemerintah China dalam beberapa tahun terakhir meningkatkan tindakan terhadap jaringan penipuan yang beroperasi di Asia Tenggara.
Menurut laporan tersebut, lebih dari 67.000 orang didakwa di China terkait penipuan telekomunikasi antara Januari dan November 2024. Selain itu, lebih dari 40.000 orang yang diduga terlibat dalam operasi penipuan lintas batas di wilayah utara Burma telah dipulangkan ke China.
CECC juga mencatat bahwa warga negara dari sedikitnya 40 negara telah menjadi sasaran perekrutan jaringan pusat penipuan di Asia Tenggara. Sebagian korban dijanjikan pekerjaan dengan gaji tinggi dan kemudian dipaksa menjalankan operasi penipuan.
Dugaan Keterkaitan dengan Aparat Keamanan China
Di balik pemberantasan pusat penipuan tersebut, muncul tuduhan mengenai hubungan antara sejumlah jaringan kriminal dengan aparat keamanan China.
Salah satu nama yang menjadi sorotan adalah She Zhijiang, pendiri Asia-Pacific New City, yang juga dikenal sebagai Yatai New City, di Myawaddy, Burma.
Setelah ditangkap di Thailand pada 2022, She mengatakan dalam wawancara dengan media internasional ketika berada di penjara bahwa dirinya pernah direkrut sebagai agen intelijen oleh personel Kementerian Keamanan Negara China di Filipina pada akhir 2016.
Klaim tersebut merupakan kesaksian dari She dan bukan bukti independen bahwa seluruh pusat penipuan di Burma berada di bawah kendali pemerintah China.
Namun, laporan CECC 2025 mencatat bahwa proyek Asia-Pacific New City sebelumnya mendapatkan dukungan dari pejabat PKC dan perusahaan yang didanai China. Proyek tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu pusat kejahatan transnasional, perdagangan manusia, dan penipuan siber di Asia Tenggara.
Kasus Prince Group di Kamboja
Keterkaitan antara pusat penipuan, kerja paksa, dan jaringan bisnis juga terlihat dalam kasus Prince Group di Kamboja.
Pendiri Prince Group, Chen Zhi, menjadi salah satu tokoh utama dalam kasus tersebut. Departemen Kehakiman Amerika Serikat pada Oktober 2025 mendakwa Chen atas dugaan menjalankan kompleks penipuan berbasis kerja paksa di Kamboja.
Menurut DOJ, para pekerja yang diperdagangkan ditempatkan di kompleks yang dijaga ketat dan dipaksa menjalankan skema penipuan investasi mata uang kripto. Para korban disebut mengalami ancaman kekerasan dan kondisi kerja paksa.
Jaksa AS juga menuduh bahwa Prince Group menggunakan pengaruh politik di sejumlah negara untuk melindungi operasi kriminalnya dan memberikan suap kepada pejabat agar mendapatkan informasi mengenai operasi penegakan hukum.
Chen kemudian diekstradisi dari Kamboja ke China pada awal 2026.
Tuduhan Hubungan dengan Kementerian Keamanan Negara China
Dalam kasus Prince Group, dokumen Departemen Kehakiman AS menyebut adanya hubungan antara Chen dan para eksekutif senior kelompok tersebut dengan Kementerian Keamanan Publik dan Kementerian Keamanan Negara China.
DOJ menyatakan bahwa Chen mengungkapkan kepada pihak lain mengenai kerja samanya dengan Kementerian Keamanan Negara China untuk mendapatkan informasi intelijen mengenai operasi penegakan hukum.
The Epoch Times juga mengutip seorang mantan mata-mata China yang membelot ke Australia dan menggunakan nama samaran “Eric”. Ia menuduh bahwa Prince Group merupakan salah satu proksi operasi rahasia PKC di Kamboja dan Asia Tenggara.
Menurut Eric, dirinya pernah melihat pejabat aparat keamanan China dari Beijing dan Chongqing mengadakan pertemuan di sebuah klub milik Chen Zhi di Kamboja. Ia menuduh pertemuan tersebut berkaitan dengan rencana penculikan seorang kartunis China yang tinggal di pengasingan.
Tuduhan Eric tersebut merupakan kesaksian sumber yang dikutip media dan tidak berarti telah terbukti di pengadilan.
Amerika Serikat Sita Aset Kripto Senilai Miliaran Dolar
Kasus Prince Group juga menjadi perhatian besar pemerintah Amerika Serikat.
Pada Oktober 2025, Departemen Kehakiman AS mengumumkan dakwaan terhadap Chen Zhi serta gugatan penyitaan sekitar 127.271 Bitcoin, yang pada saat itu bernilai sekitar US$15 miliar.
Menurut DOJ, aset tersebut diduga merupakan hasil atau instrumen dari skema penipuan dan pencucian uang yang dijalankan jaringan Prince Group.
DOJ menyebut operasi tersebut sebagai salah satu tindakan penyitaan terbesar dalam sejarah lembaga tersebut.
Chen menghadapi ancaman hukuman maksimal 40 tahun penjara apabila terbukti bersalah. Namun, Departemen Kehakiman AS menegaskan bahwa dakwaan merupakan tuduhan dan terdakwa dianggap tidak bersalah sampai terbukti bersalah di pengadilan.
Pusat Penipuan Asia Tenggara Menjadi Masalah Global
Kasus Burma dan Kamboja menunjukkan bahwa industri penipuan daring di Asia Tenggara telah berkembang menjadi persoalan lintas negara.
Jaringan tersebut menggunakan berbagai metode, termasuk:
- penipuan investasi mata uang kripto;
- penipuan hubungan atau pig butchering;
- penipuan melalui media sosial;
- pencucian uang;
- perdagangan manusia;
- kerja paksa;
- penyekapan dan kekerasan terhadap pekerja.
Dalam banyak kasus, orang-orang yang bekerja di pusat penipuan juga merupakan korban. Mereka direkrut dengan janji pekerjaan yang menggiurkan, kemudian dibawa ke kompleks tertutup dan dipaksa melakukan penipuan terhadap korban di berbagai negara.
Menurut DOJ, jaringan Prince Group misalnya menggunakan pekerja yang diperdagangkan untuk menjalankan penipuan investasi kripto terhadap korban di seluruh dunia.
Mengapa Dokumenter China Menjadi Sorotan?
Dokumenter CCTV menjadi menarik karena pemerintah China kini secara terbuka menunjukkan operasi pemberantasan jaringan penipuan di Burma.
Di satu sisi, Beijing berusaha memperlihatkan dirinya sebagai pihak yang memerangi kejahatan lintas batas dan melindungi warga negara China.
Namun di sisi lain, sejumlah penyelidikan internasional, laporan pemerintah asing, serta kesaksian individu menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana jaringan kriminal tertentu memiliki hubungan dengan pejabat, perusahaan, atau aparat keamanan China.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar mengenai pusat penipuan di Burma. Pertanyaan yang lebih besar adalah bagaimana jaringan kejahatan transnasional dapat berkembang selama bertahun-tahun, memperoleh akses terhadap modal dan perlindungan, serta beroperasi di beberapa negara.
Kesimpulan
Dokumenter pemerintah China mengenai pemberantasan pusat penipuan di Burma menunjukkan bahwa Beijing semakin menaruh perhatian terhadap kejahatan siber dan jaringan penipuan yang beroperasi di Asia Tenggara.
Namun, pada saat yang sama, sejumlah laporan internasional dan kesaksian mantan pejabat intelijen China menyoroti dugaan hubungan antara sebagian jaringan kriminal dengan kepentingan atau aparat keamanan China.
Kasus Asia-Pacific New City dan Prince Group memperlihatkan kompleksitas persoalan tersebut. Pusat penipuan bukan hanya tempat berlangsungnya kejahatan finansial, tetapi juga dapat menjadi lokasi perdagangan manusia, kerja paksa, kekerasan, pencucian uang, dan kejahatan lintas negara.
Meski demikian, tidak tepat menyimpulkan bahwa seluruh pusat penipuan di Myanmar atau Kamboja dikendalikan oleh PKC atau pemerintah China. Sejumlah tuduhan mengenai hubungan tersebut masih berasal dari kesaksian individu atau dokumen penegakan hukum yang memuat tuduhan terhadap pihak tertentu.
Yang jelas, skala jaringan penipuan di Asia Tenggara telah menjadi persoalan internasional yang membutuhkan kerja sama penegakan hukum lintas negara.
#China #China2026 #Myanmar #Burma #PusatPenipuan #ScamCenter #PenipuanOnline #PenipuanKripto #CyberCrime #PerdaganganManusia #KerjaPaksa #PKC #PartaiKomunisChina #CCP #PrinceGroup #ChenZhi #AsiaTenggara #KejahatanTransnasional #BeritaChina #BeritaInternasional #TruthMedia

0 comments