Sejumlah SMA di China Perpanjang Libur Nasional di Tengah Laporan Bunuh Diri Siswa
![]() |
| Para siswa mengantre saat hendak memasuki lokasi ujian masuk perguruan tinggi nasional tahunan, yang dikenal sebagai Gaokao, di SMA Beijing Chenjinglun pada 7 Juni 2026. Kevin Frayer/Getty Images |
Sejumlah sekolah menengah atas di Provinsi Jiangsu, China, memperpanjang libur Hari Nasional menjadi tujuh hari di tengah laporan mengenai sejumlah siswa yang meninggal setelah jatuh dari gedung. Kondisi tersebut kembali menyoroti tekanan akademik, tuntutan keluarga, persaingan pendidikan, serta terbatasnya dukungan kesehatan mental bagi pelajar di China.
Sejumlah Sekolah di Jiangsu Perpanjang Libur Menjadi Tujuh Hari
Beberapa sekolah menengah atas di Provinsi Jiangsu, China, tahun ini memperpanjang libur Hari Nasional menjadi tujuh hari. Kebijakan tersebut memicu spekulasi di tengah beredarnya laporan mengenai sejumlah siswa yang meninggal setelah jatuh dari gedung.
Menurut laporan The Epoch Times, sejumlah siswa yang diwawancarai mengungkapkan bahwa terdapat beberapa kasus kematian siswa di sekolah mereka maupun di lingkungan sekitar. Para siswa juga mengatakan bahwa pembicaraan mengenai insiden tersebut dibatasi, sementara sejumlah unggahan di internet disebut telah dihapus.
Namun, jumlah korban yang beredar di media sosial belum dapat diverifikasi secara independen, dan pemerintah China belum mengonfirmasi angka-angka tersebut secara terbuka. Para siswa yang diwawancarai juga meminta identitas mereka dirahasiakan karena khawatir terhadap kemungkinan tindakan balasan.
Libur Tujuh Hari Memicu Spekulasi
Sebuah unggahan daring yang disebut berasal dari pertemuan pendidikan setempat menyebutkan bahwa enam sekolah di Jiangsu mendapat teguran karena melanggar aturan mengenai larangan menyelenggarakan kegiatan belajar selama masa liburan.
Dalam pemberitahuan tersebut, sekolah diminta melaksanakan libur Hari Nasional selama tujuh hari secara penuh, termasuk bagi siswa kelas akhir SMA. Sekolah yang melanggar disebut dapat dikenai tindakan disipliner.
Kebijakan tersebut kemudian menimbulkan spekulasi bahwa perpanjangan libur berkaitan dengan serangkaian kematian siswa yang dilaporkan terjadi sebelumnya.
Sejumlah klaim di internet bahkan menyebut hingga 30 siswa meninggal, sementara laporan lain menyebut adanya beberapa kasus di sekolah-sekolah di Nanjing dan wilayah lainnya. Namun, angka maupun rincian tersebut belum dikonfirmasi secara resmi.
Siswa Menggambarkan Tekanan Akademik yang Berat
Seorang siswa SMA kelas akhir berusia 17 tahun di Zhenjiang, Jiangsu, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa seorang temannya baru-baru ini meninggal setelah jatuh dari sebuah gedung.
Menurut siswa tersebut, temannya sebelumnya beberapa kali mengatakan bahwa dirinya sudah tidak mampu menanggung tekanan yang dihadapi.
Ia menggambarkan rutinitas sekolah yang sangat padat. Para siswa biasanya mulai berada di sekolah sekitar pukul 07.00 dan belajar hingga pukul 21.00 atau 22.00. Ujian juga dilaksanakan secara rutin.
Siswa tersebut mengatakan bahwa tekanan tidak hanya berasal dari sekolah, tetapi juga dari keluarga dan tuntutan untuk mendapatkan nilai tinggi agar dapat masuk universitas.
Ia juga mengaku jarang melihat konselor sekolah dan menilai akses terhadap layanan kesehatan mental bagi siswa masih sangat terbatas.
Siswa lain di Jiangsu menggambarkan kondisi yang bahkan lebih panjang. Kegiatan sekolah disebut dapat dimulai sekitar pukul 05.30 dan berlangsung hingga sekitar pukul 22.00.
“Tekanannya besar bagi kami. Yang paling utama adalah kekhawatiran tidak bisa masuk universitas.”
Kasus Serupa Dilaporkan di Lianyungang
Seorang siswa SMA lainnya di Jiangsu mengatakan kepada The Epoch Times pada 5 Oktober bahwa tiga siswa di sebuah sekolah menengah pertama di Lianyungang dilaporkan meninggal setelah jatuh dari gedung sebelum libur Hari Nasional.
Menurut keterangannya, sekolah kemudian diliburkan selama tujuh hari.
Keterangan tersebut merupakan kesaksian individu dan belum dapat diverifikasi secara independen.
Laporan serupa juga muncul di media berbahasa Mandarin. The Epoch Times edisi Taiwan melaporkan adanya klaim mengenai sejumlah sekolah yang memperpanjang libur dari jadwal awal tiga atau empat hari menjadi tujuh hari. Namun, laporan tersebut juga menegaskan bahwa angka korban dan rincian kasus yang beredar di internet belum mendapatkan konfirmasi resmi.
Tekanan Tidak Hanya Terjadi di Jiangsu
Persoalan serupa dilaporkan muncul di provinsi lain.
Seorang siswa sekolah menengah pertama di Zhoukou, Provinsi Henan, mengatakan bahwa kasus bunuh diri siswa cenderung meningkat menjelang ujian masuk sekolah atau universitas.
Ia mengklaim bahwa dalam satu bulan menjelang ujian masuk universitas tahun ini, terdapat empat kasus siswa yang melompat dari gedung di lingkungan sekolahnya.
Menurut siswa tersebut, sekolah bahkan telah memasang penghalang pengaman di sejumlah gedung untuk mencegah siswa melompat.
Persaingan Pendidikan Menjadi Sorotan
Tekanan terhadap siswa China tidak hanya berasal dari ujian. Seorang mahasiswa di Nantong, Jiangsu, mengatakan bahwa siswa menghadapi berbagai jenis ujian, mulai dari ujian mingguan, bulanan, tengah semester, hingga ujian akhir.
Selain itu, terdapat pula berbagai tes kecil yang dilakukan secara rutin.
Menurutnya, sebagian sekolah secara formal tetap menyatakan libur, tetapi mendorong siswa untuk kembali ke sekolah secara “sukarela” guna belajar tambahan.
Dalam beberapa kasus, orang tua bahkan diminta menandatangani formulir persetujuan.
Kondisi tersebut dapat menciptakan tekanan sosial bagi orang tua. Mereka dapat merasa bahwa jika anak mereka tidak mengikuti kegiatan tambahan sementara siswa lain hadir, anak mereka akan tertinggal dalam persaingan akademik.
Studi Menunjukkan Masalah Kesehatan Mental yang Serius
Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2023 dalam Chinese Journal of Public Health meneliti lebih dari 20.000 siswa SMP dan SMA berusia 11 hingga 20 tahun di lima provinsi.
Penelitian tersebut melaporkan bahwa 23,54 persen responden pernah menunjukkan bentuk perilaku terkait bunuh diri, termasuk pikiran, rencana, atau percobaan bunuh diri.
Studi yang sama melaporkan tingkat deteksi depresi sebesar 19,70 persen dan kecemasan sebesar 13,97 persen.
Pemerintah China pada tahun sebelumnya juga telah memperkenalkan sejumlah langkah untuk memperkuat layanan kesehatan mental siswa, termasuk upaya mengurangi frekuensi tes rutin.
Akademisi: Penyebabnya Tidak Tunggal
Feng Chongyi, seorang profesor madya bidang studi China di University of Technology Sydney, mengatakan bahwa kasus bunuh diri siswa tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu faktor.
Ia menyoroti beberapa faktor, antara lain:
- sistem pendidikan yang berorientasi pada ujian;
- tekanan dan kontrol orang tua;
- persaingan pendidikan yang sangat ketat;
- tekanan ekonomi;
- menurunnya harapan terhadap masa depan;
- serta kurangnya dukungan spiritual dan psikologis.
Menurutnya, berbagai tekanan tersebut dapat terakumulasi dalam jangka panjang dan memengaruhi kondisi psikologis anak muda.
Ia juga mengaitkan persoalan tersebut dengan meningkatnya ketidakpastian generasi muda China terhadap masa depan, terutama di tengah persaingan mendapatkan pendidikan dan pekerjaan.
Kesimpulan
Perpanjangan libur Hari Nasional di sejumlah SMA di Jiangsu menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan laporan mengenai sejumlah kematian siswa. Namun, hubungan langsung antara perpanjangan libur dan kasus-kasus tersebut belum dapat dipastikan, sementara jumlah korban yang beredar di media sosial juga belum dikonfirmasi secara resmi.
Terlepas dari belum terverifikasinya sejumlah klaim, laporan dari para siswa dan penelitian mengenai kesehatan mental menunjukkan adanya persoalan serius terkait tekanan akademik, persaingan pendidikan, tuntutan keluarga, dan dukungan psikologis bagi generasi muda China.
Kasus ini kembali memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana sistem pendidikan dapat menyeimbangkan tuntutan prestasi akademik dengan kesehatan mental dan kesejahteraan siswa.
#China #China2026 #PendidikanChina #SiswaChina #SekolahChina #Jiangsu #KesehatanMental #PelajarChina #TekananAkademik #BunuhDiriSiswa #Pendidikan #BeritaChina #BeritaInternasional #TheEpochTimes #TruthMedia

0 comments