Perempuan California Dituduh Jadi Mata-Mata China, Mengaku Tidak Bersalah di Pengadilan AS
Seorang perempuan California bernama Wanying Zhang mengaku tidak bersalah atas tuduhan menjadi agen rahasia China. FBI menudingnya memata-matai keluarga Presiden Taiwan Lai Ching-te di Amerika Serikat.
LOS ANGELES, TRUTH MEDIA — Seorang perempuan asal California yang dituduh menjalankan kegiatan mata-mata untuk pemerintah China menyatakan tidak bersalah dalam persidangan di pengadilan federal Los Angeles, Amerika Serikat, pada Jumat, 23 Oktober 2026.
Perempuan tersebut, Wanying Zhang (34), yang juga dikenal dengan nama Heather Zhang, merupakan agen properti yang tinggal di Irvine, Orange County, California.
Jaksa federal mendakwanya atas dugaan konspirasi dan bertindak sebagai agen pemerintah asing yang tidak terdaftar. Zhang dituduh melakukan pengawasan terhadap anggota keluarga Presiden Taiwan Lai Ching-te atas arahan pejabat pemerintah China.
Persidangan kasus tersebut dijadwalkan dimulai pada 30 November 2026 di pengadilan federal Santa Ana, California.
FBI Menangkap Tersangka di Bandara Los Angeles
Menurut otoritas federal Amerika Serikat, Zhang ditangkap oleh agen Biro Investigasi Federal (FBI) di Bandara Internasional Los Angeles pada 4 Oktober 2026, ketika hendak melakukan perjalanan menuju China.
Penangkapan tersebut dilakukan setelah penyelidik mengumpulkan bukti yang diduga menunjukkan keterlibatannya dalam kegiatan pengawasan terhadap keluarga pejabat tinggi Taiwan yang tinggal di Amerika Serikat.
Jaksa menyatakan bahwa Zhang diduga menjalankan kegiatan tersebut tanpa melaporkan statusnya sebagai agen pemerintah asing kepada otoritas Amerika Serikat, sebagaimana diwajibkan oleh hukum federal.
Apabila terbukti bersalah, Zhang dapat menghadapi hukuman penjara federal hingga 10 tahun.
Diduga Memata-matai Putra Presiden Taiwan
Berdasarkan dokumen pengadilan, Zhang diduga melakukan perjalanan ke wilayah Seattle, negara bagian Washington, pada September 2025 bersama seorang rekannya.
Tujuan perjalanan tersebut, menurut penyidik, adalah mengawasi kediaman dan aktivitas keluarga Presiden Taiwan Lai Ching-te.
FBI kemudian mengidentifikasi salah satu sasaran pengawasan sebagai Lai Ting-yu, putra Presiden Taiwan yang tinggal dan bekerja di wilayah Seattle.
Penyidik menduga Zhang mengumpulkan sejumlah informasi, termasuk foto, rekaman video, dan nomor pelat kendaraan yang berada di sekitar kediaman sasaran.
Informasi tersebut diduga kemudian dikirimkan kepada pejabat China melalui komunikasi elektronik.
Rekaman kamera keamanan di sekitar kediaman juga disebut memperlihatkan Zhang bersama rekannya berada di dalam kendaraan yang digunakan untuk melakukan pengawasan.
Dugaan Hubungan dengan Pejabat Intelijen China
Dokumen penyelidikan mengungkap bahwa Zhang pernah menempuh pendidikan di University of International Relations di Beijing, sebuah perguruan tinggi yang menurut penyidik Amerika Serikat memiliki hubungan erat dengan lembaga intelijen China.
Setelah menyelesaikan pendidikannya sekitar tahun 2014, Zhang dilaporkan tetap berkomunikasi dengan seorang mantan teman kuliah yang kemudian bekerja sebagai pejabat pemerintah China.
Melalui hubungan tersebut, Zhang diduga diperkenalkan kepada pejabat lainnya yang kemudian memberikan arahan mengenai kegiatan pengawasan di Amerika Serikat.
Menurut jaksa, Zhang melakukan perjalanan ke China pada Juni 2025 dan diduga bertemu dengan pejabat pemerintah sebelum menjalankan kegiatan pengawasan beberapa bulan kemudian.
Namun, dokumen pengaduan pidana tidak menyebutkan bahwa Zhang menerima pembayaran atau keuntungan tertentu sebagai imbalan atas kegiatan yang dituduhkan kepadanya.
Taiwan Mengecam Dugaan Operasi Intelijen China
Pemerintah Taiwan menyampaikan kecaman terhadap dugaan kegiatan pengawasan yang menargetkan keluarga Presiden Lai Ching-te.
Kantor Kepresidenan Taiwan menilai kasus tersebut sebagai bentuk dugaan represi lintas negara, yaitu tindakan intimidasi atau pengawasan yang dilakukan terhadap seseorang di luar wilayah negara asal pelakunya.
Taiwan menegaskan bahwa tindakan yang mengancam keselamatan dan kebebasan individu maupun anggota keluarganya tidak dapat dibenarkan.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri China sebelumnya menyatakan menentang tuduhan mengenai kegiatan mata-mata China yang dianggap mencemarkan nama baik negaranya.
Kasus Menambah Ketegangan Amerika Serikat, China, dan Taiwan
Kasus Zhang muncul di tengah hubungan yang sensitif antara Amerika Serikat, China, dan Taiwan.
Beijing memandang Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, sedangkan pemerintahan Taiwan menolak klaim kedaulatan tersebut.
Amerika Serikat sendiri terus meningkatkan perhatian terhadap dugaan aktivitas intelijen asing di wilayahnya, termasuk operasi yang diduga menargetkan warga, aktivis, dan tokoh yang memiliki hubungan dengan Taiwan.
Kasus ini juga menyoroti kekhawatiran mengenai kemungkinan penggunaan informasi pribadi anggota keluarga pejabat tinggi sebagai sarana tekanan politik atau intelijen.
Meski demikian, seluruh tuduhan terhadap Zhang masih harus dibuktikan melalui proses pengadilan. Pernyataan tidak bersalah yang disampaikan Zhang merupakan bagian dari hak pembelaannya dalam sistem hukum Amerika Serikat.
Kesimpulan
Pengakuan tidak bersalah Wanying Zhang di pengadilan federal Los Angeles menjadi perkembangan penting dalam kasus dugaan operasi intelijen China yang menargetkan keluarga Presiden Taiwan.
Penyelidikan FBI mengungkap dugaan pengumpulan informasi pribadi, pengawasan kediaman, dan komunikasi dengan pejabat pemerintah China.
Kasus tersebut memperlihatkan besarnya perhatian otoritas Amerika Serikat terhadap ancaman dugaan spionase dan represi lintas negara.
Persidangan yang dijadwalkan berlangsung pada 30 November 2026 akan menjadi tahap penting untuk menguji bukti yang diajukan jaksa serta pembelaan terdakwa.
Hingga adanya putusan pengadilan yang berkekuatan hukum, Zhang tetap dianggap tidak bersalah.
#TruthMedia #GlobalNews #MataMataChina #SpionaseChina #WanyingZhang #FBI #AmerikaSerikat #Taiwan #China #LaiChingTe #IntelijenChina #BeritaInternasional #BeritaDunia #HubunganChinaTaiwan #KeamananNasionalSumber berita: The Epoch Times — California Woman Accused of Working as Chinese Spy Pleads Not Guilty (24 Oktober 2026). Informasi diperiksa silang dengan laporan CBS News, Associated Press, dan California Insider.

0 comments