Anggota Parlemen Kanada Desak Menlu Selidiki Penyerangan Praktisi Falun Gong di Depan Konsulat China Toronto
Anggota Parlemen Kanada dari Partai Konservatif, Jacob Mantle, mendesak Menteri Luar Negeri Anita Anand menyelidiki penyerangan terhadap praktisi Falun Gong di depan Konsulat China di Toronto. Ia meminta pelaku diusir dari Kanada apabila terbukti merupakan diplomat atau agen asing yang bekerja untuk Beijing.
Anggota Parlemen Kanada Desak Penyelidikan Penyerangan Falun Gong
TRUTH MEDIA — TORONTO, KANADA: Anggota Parlemen Kanada dari Partai Konservatif, Jacob Mantle, mendesak Menteri Luar Negeri Kanada Anita Anand segera menyelidiki insiden penyerangan terhadap seorang praktisi Falun Gong yang sedang melakukan aksi damai di depan Konsulat China di Toronto.
Dalam surat terbuka yang dipublikasikan melalui media sosial pada 13 Oktober 2026, Mantle meminta pemerintah Kanada mengambil tindakan tegas, termasuk mengusir pelaku apabila terbukti merupakan diplomat China atau warga negara asing yang bekerja untuk kepentingan pemerintah Beijing.
![]() |
| Anggota Parlemen dari Partai Konservatif, Jacob Mantle, mengajukan pertanyaan dalam sesi tanya jawab di House of Commons, Parliament Hill, Ottawa, pada 4 Juni 2026. The Canadian Press/Sean Kilpatrick |
Mantle menegaskan bahwa tindakan kekerasan terhadap demonstran damai tidak dapat diterima di Kanada, terlebih jika melibatkan pihak yang bertindak atas nama negara asing.
Menurutnya, tindakan intimidasi dan kekerasan oleh agen asing merupakan pelanggaran terhadap norma diplomatik internasional serta prinsip kebebasan yang dijamin dalam sistem demokrasi Kanada.
Rekaman Video Perlihatkan Penyerangan terhadap Praktisi Falun Gong
Insiden tersebut terjadi pada 22 September 2026, ketika Lina Li, seorang praktisi Falun Gong yang tinggal di wilayah Toronto, sedang menggelar kegiatan damai di trotoar umum di depan Konsulat China.
Li bersama praktisi lainnya memasang sejumlah spanduk untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai penganiayaan terhadap Falun Gong yang berlangsung di China sejak Juli 1999.
Rekaman video yang beredar memperlihatkan seorang pria mengenakan jaket dengan lambang bendera Republik Rakyat China mendekati para praktisi dan secara paksa membongkar spanduk yang mereka pasang.
A man with a Chinese flag on his jacket attacks Falun Gong practitioners peacefully protesting outside the Chinese Consulate in Toronto on Sept. 23, telling them, "I will kill you" https://t.co/PcCb07pYJK
— Omid Ghoreishi (@OGhoreishi) September 23, 2026
Pria tersebut juga melontarkan ancaman kekerasan dalam bahasa Mandarin terhadap Lina Li.
Dalam rekaman itu, pria tersebut mengancam akan menembak Li hingga tewas. Ia juga mengklaim bahwa trotoar umum tempat para praktisi berdiri merupakan wilayah China.
Pelaku bahkan mengutip Undang-Undang Anti-Pemisahan China untuk membenarkan ancamannya terhadap para praktisi.
Akibat insiden tersebut, Lina Li mengalami luka berdarah pada bagian dagu.
Rekaman yang sama juga memperlihatkan pria tersebut berusaha menendang Nora Geng, praktisi Falun Gong lainnya yang sedang merekam kejadian menggunakan telepon genggam.
Kepolisian Toronto telah mendatangi lokasi kejadian dan menyatakan bahwa insiden tersebut masih dalam penyelidikan.
Jacob Mantle Minta Pelaku Diusir Jika Terbukti Agen Beijing
Dalam suratnya kepada Menteri Luar Negeri Anita Anand, Jacob Mantle meminta pemerintah Kanada segera memastikan identitas serta kemungkinan hubungan pelaku dengan pemerintah China.
Ia menegaskan bahwa apabila penyelidikan membuktikan pelaku merupakan diplomat China atau warga negara asing yang bekerja untuk kekuatan asing, pemerintah Kanada harus mengambil langkah yang diperlukan untuk mengeluarkannya dari negara tersebut.
Mantle juga menyoroti bahwa rekaman video yang tersedia untuk publik memperlihatkan tindakan intimidasi, perusakan spanduk, dan ancaman kekerasan terhadap seorang demonstran damai.
Menurut Mantle, agen asing tidak memiliki hak ataupun kekebalan untuk mengancam atau mengintimidasi siapa pun yang berada di Kanada.
Desakan tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran mengenai kemungkinan campur tangan pemerintah asing dalam kebebasan berekspresi dan aktivitas masyarakat di Kanada.
Namun, hingga laporan ini diterbitkan, belum ada konfirmasi resmi bahwa pria yang melakukan penyerangan tersebut merupakan diplomat atau agen pemerintah China.
China Disebut sebagai Ancaman Keamanan Utama Kanada
Dalam suratnya, Mantle juga mengingatkan pernyataan Perdana Menteri Kanada Mark Carney menjelang pemilihan umum April 2025.
Saat itu, Carney menyebut China sebagai ancaman keamanan terbesar bagi Kanada.
Mantle turut merujuk laporan akhir Komisi Penyelidikan Campur Tangan Asing yang dipimpin Hakim Marie-Josée Hogue dan diterbitkan pada Januari 2025.
Laporan tersebut mengidentifikasi Beijing sebagai kekuatan asing yang paling aktif melakukan campur tangan dalam urusan Kanada.
Berdasarkan temuan tersebut, Mantle menilai Menteri Luar Negeri Kanada memiliki tanggung jawab untuk mengambil tindakan ketika muncul dugaan upaya pemerintah China melemahkan demokrasi dan kebebasan di negaranya.
Ia menekankan bahwa pemerintah Kanada harus memastikan tidak ada pihak asing yang dapat menggunakan intimidasi atau kekerasan untuk membungkam masyarakat yang menjalankan hak-hak demokratisnya.
Komunitas Falun Gong Desak Pemerintah Kanada Bertindak
Desakan Jacob Mantle muncul setelah komunitas Falun Gong di Kanada lebih dahulu meminta pemerintah mengambil tindakan atas insiden penyerangan tersebut.
Pada 28 September 2026, sejumlah praktisi Falun Gong dan pendukungnya menggelar aksi di depan gedung Global Affairs Canada di Ottawa.
Dalam kegiatan tersebut, praktisi Falun Gong Kathy Gillis membacakan pernyataan dari Falun Dafa Association of Canada (FDAC).
Organisasi itu menegaskan bahwa penyerangan di Toronto tidak dapat dipandang sebagai peristiwa yang berdiri sendiri.
Menurut FDAC, praktisi Falun Gong di Kanada selama lebih dari dua dekade telah melaporkan berbagai bentuk pelecehan, pengawasan, intimidasi, ancaman, dan serangan yang mereka kaitkan dengan kampanye penindasan Partai Komunis China (PKC).
FDAC meminta Menteri Luar Negeri Anita Anand secara terbuka mengecam penyerangan tersebut dan menyampaikan persoalan itu kepada pemerintah China.
Organisasi tersebut juga meminta pemerintah Kanada mencari klarifikasi dari perwakilan diplomatik China mengenai kemungkinan keterlibatan diplomat atau personel yang memiliki hubungan dengan konsulat.
Apabila keterlibatan tersebut terbukti, FDAC mendesak pemerintah Kanada mengambil tindakan diplomatik yang sesuai.
Dugaan Penindasan Lintas Negara Menjadi Sorotan
Kasus penyerangan praktisi Falun Gong di Toronto kembali menyoroti persoalan penindasan lintas negara atau transnational repression.
Istilah ini merujuk pada tindakan pemerintah atau pihak yang bekerja atas namanya untuk mengintimidasi, mengancam, mengawasi, atau menekan individu maupun komunitas yang berada di luar wilayah negaranya.
FDAC mendesak Menteri Luar Negeri Kanada bekerja sama dengan Menteri Keamanan Publik dan lembaga penegak hukum untuk memperkuat perlindungan terhadap kelompok masyarakat yang berisiko mengalami intimidasi dari kekuatan asing.
Menurut organisasi tersebut, pemerintah Kanada perlu memastikan bahwa warga dan penduduknya dapat menjalankan kebebasan beragama, berekspresi, dan berkumpul secara damai tanpa takut terhadap ancaman dari luar negeri.
Tuduhan mengenai kemungkinan keterlibatan negara asing dalam insiden Toronto masih memerlukan pembuktian melalui penyelidikan resmi.
Pemerintah Kanada dan Kepolisian Tanggapi Kekhawatiran
The Epoch Times melaporkan telah menghubungi Global Affairs Canada untuk meminta tanggapan mengenai surat Jacob Mantle.
Namun, hingga berita tersebut diterbitkan, kementerian belum memberikan jawaban.
Dalam tanggapan sebelumnya, Global Affairs Canada mengarahkan pertanyaan terkait insiden tersebut kepada Public Safety Canada.
Seorang juru bicara Public Safety Canada menyatakan bahwa pemerintah Kanada memandang serius setiap ancaman terhadap keselamatan dan keamanan masyarakat, termasuk ancaman yang berkaitan dengan campur tangan asing dan penindasan lintas negara.
Pemerintah juga menyatakan bahwa Kantor Koordinator Nasional Penanggulangan Campur Tangan Asing terus memimpin upaya lintas lembaga untuk meningkatkan ketahanan masyarakat melalui kerja sama dengan mitra dalam dan luar negeri.
Sementara itu, Royal Canadian Mounted Police (RCMP), kepolisian federal Kanada, sebelumnya menyampaikan bahwa mereka tidak dapat memberikan komentar publik mengenai kemungkinan penyelidikan yang sedang berlangsung.
Meski demikian, RCMP menegaskan bahwa apabila ditemukan aktivitas ilegal yang didukung oleh negara asing, pihaknya akan melakukan penyelidikan dan mengambil tindakan sesuai kewenangannya.
RCMP juga menyatakan telah mengetahui adanya aktivitas campur tangan aktor asing dari sejumlah negara dan memiliki berbagai mekanisme untuk menanganinya.
Falun Gong dan Perjuangan Kebebasan Berkeyakinan
Falun Gong, yang juga dikenal sebagai Falun Dafa, merupakan latihan kultivasi jiwa dan raga yang memadukan latihan meditasi dengan ajaran moral berdasarkan prinsip Sejati, Baik, dan Sabar.
Latihan tersebut diperkenalkan kepada masyarakat luas di China pada 1992 dan kemudian berkembang pesat.
Namun, pada Juli 1999, Partai Komunis China melancarkan kampanye penindasan terhadap Falun Gong.
Sejak saat itu, berbagai organisasi hak asasi manusia dan kelompok pendukung Falun Gong melaporkan penangkapan, penahanan, penyiksaan, serta berbagai bentuk penganiayaan terhadap praktisi di China.
Komunitas Falun Gong di berbagai negara terus menggelar kegiatan damai untuk meningkatkan kesadaran internasional mengenai penindasan tersebut.
Di Kanada, praktisi Falun Gong secara rutin mengadakan kegiatan di depan perwakilan diplomatik China, termasuk Konsulat China di Toronto.
Insiden pada 22 September 2026 menjadi perhatian luas karena rekaman video memperlihatkan seorang pria melakukan tindakan agresif terhadap praktisi yang sedang menyampaikan pesan secara damai.
Kesimpulan
Desakan anggota parlemen Kanada Jacob Mantle kepada Menteri Luar Negeri Anita Anand menandai meningkatnya perhatian politik terhadap penyerangan praktisi Falun Gong di depan Konsulat China di Toronto.
Kasus ini bukan hanya menyangkut keselamatan seorang demonstran, tetapi juga memunculkan pertanyaan mengenai perlindungan kebebasan beragama, kebebasan berekspresi, dan kemungkinan adanya penindasan lintas negara.
Mantle meminta pemerintah Kanada melakukan penyelidikan menyeluruh dan mengambil tindakan tegas apabila terbukti bahwa pelaku memiliki hubungan dengan pemerintah Beijing.
Sementara penyelidikan kepolisian masih berlangsung, komunitas Falun Gong berharap pemerintah Kanada dapat memberikan perlindungan yang lebih kuat terhadap masyarakat yang menghadapi intimidasi karena keyakinan atau pandangan mereka.
Kasus Toronto menjadi ujian bagi komitmen Kanada dalam melindungi hak asasi manusia dan memastikan bahwa kebebasan masyarakatnya tidak dapat dibungkam melalui ancaman ataupun kekerasan.
Sumber: The Epoch Times — Omid Ghoreishi, 14 Oktober 2026.
#FalunGong #FalunDafa #JacobMantle #AnitaAnand #Kanada #Toronto #KonsulatChina #PartaiKomunisChina #PKC #China #PenyeranganFalunGong #PenganiayaanFalunGong #KebebasanBeragama #HakAsasiManusia #HAM #PenindasanLintasNegara #CampurTanganAsing #PemerintahKanada #ParlemenKanada #LinaLi #NoraGeng #GlobalNews #TruthMedia



0 comments