Apa yang Dipetik dari Kisah Seni dan Keilahian Istri Nabi Luth: Jangan Menoleh ke Belakang!

Formasi batu yang dianggap sebagai istri Nabi Luth yang telah berubah menjadi pilar garam. Terletak di situs Laut Mati, Yordania. | ELIZABETH ANISCLO | SHUTTERSTOCK

JAMES SALE

Apa yang akan kita katakan atau pikirkan setelah lockdown selesai dan pandemi ini berhasil diatasi? Seringkali, tetapi tidak selalu, kita memiliki kecenderungan untuk “melihat ke belakang”, dan seperti yang kita lakukan seringkali dengan persepsi optimis terhadap sesuatu. Sebagai contoh, setelah Perang Dunia I, dan bahkan sekarang, Inggris memiliki pandangan tentang periode sebelum perang — Era Edwardian (1901-1910) — di mana kekaisaran mereka sangat agung dan kehidupannya mewah, dan jauh tampak lebih aman. Serial televisi “Downton Abbey”, misalnya, dimulai pada titik seperti itu (tahun 1912) dan kemudian membongkar apa yang terjadi ketika peristiwa dunia mengintervensi gaya hidup yang nyaman.

Yang menarik, jika jenis kisah fiksi romantis yang berlatar sejarah ini tidak terjadi di Inggris —saya bayangkan di Amerika — setelah Perang Dunia II, karena dalam hal ini era Depresi Besar (zaman malaise, dimulai 1929) terlalu besar dan terlalu awal bagi siapa pun untuk menginginkan kembali ke masa “kejayaan” itu. Namun demikian, prinsipnya tetap bahwa kita cenderung dan ingin mengagungkan keadaan sebelumnya. Dan dalam kasus COVID-19, kita akan memiliki banyak alasan untuk ingin melihat ke belakang: karir yang hampir terpenuhi, kenaikan upah, pasar saham yang booming, perawatan kesehatan dan pendidikan sebagian besar tersedia untuk kebanyakan orang di Barat, ditambah hiburan dan sirkus ada di mana-mana untuk menghibur diri dan tersedia 24 jam seminggu (24/7)!

Namun, melakukan hal itu, menurut saya adalah kesalahan besar. Kisah yang barangkali lebih mewakili dari yang lainnya, tentang bahayanya untuk menoleh ke belakang adalah dalam kitab Kejadian, dan kisah yang sangat aneh, bahkan menurut standar Alkitab. Ceritanya mungkin murni mitos, atau mungkin benar secara harfiah; sulit untuk diketahui. Tentu saja, sejarawan Josephus mengklaim telah melihatnya, dan Al-Quran juga mendukung aktualitasnya.

Saya mengacu pada Kejadian pasal 19 dan pilar garam. Tuhan telah memutuskan untuk menghancurkan kota-kota dataran dan memperingatkan Luth dan keluarganya untuk melarikan diri dari Kota Sodom. Mereka diberi instruksi tegas untuk tidak melihat ke belakang ketika mereka melarikan diri dari api yang menghujani, tetapi istri Luth (diidentifikasi dalam tradisi Yahudi sebagai Edith) memang melihat ke belakang dan diubah menjadi tiang garam. Mengapa ini penting?

Masa lalu dan masa depan

Pada dasarnya, manusia hidup dalam tiga dimensi waktu; atau lebih tepatnya, mereka hidup dalam satu dimensi, saat ini, tetapi ketika mereka melakukannya, mereka selalu sadar akan dualitas dua lainnya — masa lalu, yang sedang surut dari mereka, dan masa depan, yang semakin dekat. Dan ketika seseorang pergi menjauh sementara yang lain datang mendekat, seharusnya tidak mengejutkan kita bahwa mereka memiliki sifat persepsi yang berbeda, atau menciptakan efek berbeda pada kesadaran manusia.

Untuk jelasnya: kita perlu memikirkan masa lalu, terutama untuk belajar darinya, yang dapat kita lakukan dengan beberapa cara. Juga, kita perlu merenungkan masa depan agar, yang paling penting, untuk menciptakannya; karena tanpa antisipasinya, kita hanya akan bereaksi dan menjadi korban keadaan, seperti halnya hewan.

Tetapi masalah mengidealkan masa lalu adalah, kita dapat dengan mudah terjebak di sana. Untuk masa lalu, cenderung semacam nostalgia rabun bagi kita semua. Sekalipun masa kanak-kanak atau masa muda kita tidak ideal, setidaknya kita masih muda saat itu, dan dengan demikian lebih bersemangat, lebih menarik, dan secara kritis, secara statistik lebih jauh dari titik akhir yang kita sebut kematian. Jadi wakil dari masa lalu adalah kelambanan yang merangsang nostalgia.

Masa depan sangat berbeda. Ketika kita merenungkan masa depan [dengan asumsi kita bukan seorang hypochondriasis (ketakutan jangka panjang dan amat sangat), atau chronophobia (ketakutan akan waktu), atau semacamnya], kita menemukan ada satu-satunya kebajikan yang tersisa di dalam kotak Pandora ketika semua yang lain telah melarikan diri: yaitu harapan. Saya memilih menggunakan kata “merenungkan” daripada “berpikir” tentang masa depan, karena saya ingin menyarankan tingkat keterlibatan yang lebih dalam dengan masa depan. Tersirat dalam kata “renungan” adalah, gagasan tentang imajinasi kita yang terlibat dengannya, dan dengan demikian membentuk dan menciptakannya.

Ada kisah terkenal tentang Roy Disney, keponakan Walt, yang saat upacara pembukaan Disney World ada beberapa eksekutif Disney mengatakan kepadanya, kira-kira, “Sungguh sangat disayangkan bahwa paman Anda tidak bisa melihat ini.” Jawaban tak terduga dari Roy adalah: “Tetapi dia telah melakukannya - dia melihatnya dalam imajinasinya (mata pikirannya), itulah sebabnya kita bisa melihatnya (secara fisik) sekarang.” Wow!

Istri Luth

Kembali pada cerita, lalu mengapa istri Luth berubah menjadi pilar garam, dan mengapa garam? Mengapa kedua poin ini penting?

Jawaban pertama sangat jelas: Dia tidak menaati perintah langsung dari Tuhan, yang harus dia patuhi seperti yang dilakukan suaminya (walaupun dengan enggan). Dalam pengertian ini, kita diingatkan akan kisah Adam dan Hawa. Dalam beberapa hal, ini hanyalah varian lain dari “larangan” yang sering dijumpai dalam cerita-cerita dongeng, yang cenderung dipecah-pecah oleh manusia dan dengan akibat yang sangat besar.

Lukisan yang berjudul “Pelarian Luth”, dibuat 1875, oleh Gustave DorĂ©. Dari ilustrasi Alkitab, Kejadian 19:26. | PUBLIC DOMAIN

Tetapi mengapa dia melanggar perintah untuk tidak melihat ke belakang? Voyeurisme, keingintahuan yang tidak wajar, ingin melihat peristiwa kehancuran total?

Mungkin, tapi saya pikir lebih mungkin bahwa alasannya terkandung dalam jawaban kedua: Mengapa pilar garam? Garam adalah zat kristal, secara kimiawi lembam, beku seperti dalam strukturnya; dan umumnya digunakan sebagai pengawet. Cara lain menjelaskan ini adalah mumifikasi produk hidup dan membuat mereka dapat dikonsumsi di masa depan. Peristiwa istri Luth yang menengok ke belakang, menyatakan penolakan untuk hidup di masa sekarang, mendambakan masa lalu, tetap terpaku secara emosional dan spiritual, dan tidak membiarkan kehidupan mengalir dan berubah, tetapi secara permanen terjebak dalam apa yang dirasakan seseorang seperti rasa aman yang sudah dimiliki.

Keinginan akan keselamatan ini, untuk kenyamanan apa yang dimiliki seseorang, adalah semacam leitmotif (tema yang berulang di situasi tertentu) dalam sejarah Israel. Dua contohnya adalah ini: Beberapa abad kemudian, ia muncul pada saat yang kritis ketika Musa dan Harun (Bilangan, pasal 14) diancam (dengan kematian dengan dilempari batu) oleh orang-orang yang berpikir lebih baik untuk kembali ke perbudakan di Mesir daripada maju ke takdir besar yang Tuhan janjikan kepada mereka.

Kita ingat bahwa manna (nama makanan) itu sendiri adalah roti harian bangsa Israel, bukan produk yang untuk disimpan; jika disimpan melebihi satu hari, roti akan busuk dan berjamur (Keluaran, pasal 16). Dan dalam Perjanjian Baru ada satu penyebutan tentang istri Luth dalam Lukas, pasal 17. Sangat menyenangkan, ini adalah Yesus yang memperingatkan murid-muridnya bahwa akhir zaman akan datang dengan tiba-tiba, secara tak terduga, dan kembali seperti yang dilakukan oleh istri Luth, akan berakibat fatal. Yang menarik, Yesus secara eksplisit menyatakan bahwa mereka yang berusaha menyelamatkan harta benda atau hidup mereka akan kehilangan semua. Artinya, jelas.

Ada sebuah baris dalam “Macbeth” karya Shakespeare di mana Hecate, pelindung para penyihir, mengatakan: “Dan Anda semua tahu, keamanan / Adalah musuh utama manusia.” Dorongan untuk mencapai keamanan total (yang selalu merupakan sesuatu yang kita miliki kemarin) berarti dengan kata lain, tetap berada di masa lalu akan menghambat kita semua.

Jadi sekarang, penting bagi kita semua untuk tidak melihat ke belakang terlalu banyak. Ya, kita telah memiliki beberapa pengalaman baik, hal-hal baik telah terjadi (dan juga buruk), dan ada prestasi yang bisa dibanggakan oleh umat manusia. Tetapi untuk maju, kita perlu memiliki orientasi masa depan, perspektif imajinatif tentang apa yang mungkin terjadi. Dengan cara ini, kita harus menghindari pilar-pilar garam yang hidup. (et/tam/sun)
James Sale adalah pengusaha Inggris yang memiliki perusahaan Motivational Maps Ltd., yang beroperasi di 14 negara. Dia menulis lebih dari 40 buku tentang manajemen dan pendidikan dari penerbit internasional seperti Macmillan, Pearson, dan Routledge. Sebagai seorang penyair, ia memenangkan hadiah pertama dalam kompetisi The Society of Classical Poets’ 2017 dan berbicara dalam simposium pertama yang diadakan di Princeton Club New York.

0 comments