Sudah Sejak Lama Jerman Membuat Perhitungan dengan Eks-NAZI, Kapan Akan Membuat Perhitungan dengan Virus PKT?

Pada 4 September 2019, menjelang kunjungan Kanselir Merkel ke Tiongkok, tokoh demokrasi Hong Kong bersama partai politik Jerman mendesak Merkel agar menyampaikan masalah Hong Kong kepada PKT. Akan tetapi pernyataan Merkel sangat mengecewakan mereka. (Getty Images)

YAN DAN

Baru-baru ini media massa PKT (Partai Komunis Tiongkok) memuat sebuah berita dari Jerman. Pada 23 Juli lalu, Pengadilan Wilayah Hamburg menjatuhkan vonis terhadap seorang eks-NAZI berusia 93 tahun. Karena di usia 17 tahun, terdakwa pernah menjadi penjaga kamp konsentrasi di suatu tempat, yang mengakibatkan 5.232 orang Yahudi dibantai.

Seperti disebutkan pada media massa PKT tersebut, “Jerman membuat perhitungan dengan para eks-NAZI itu berlangsung sangat lama”. Walaupun mereka hanya berperan sebagai pembantu di rezim diktator Hitler, walau mereka kini telah tua renta, pihak pengadilan Jerman tetap menelusurinya, mengadili dan membuat perhitungan. Pada 2017, Kejaksaan Hannover Jerman menolak permohonan penangguhan atas hukuman dari seorang mantan perwira NAZI yang berusia 96 tahun, dan memerintahkannya untuk harus dijebloskan ke dalam penjara dengan masa tahanan 4 tahun. Hingga kini, kejaksaan berbagai tingkatan di Jerman masih melakukan investigasi atas 14 kasus kamp konsentrasi NAZI lainnya.

Sebagai media massa corong yang masih berada di bawah sebuah tirani totaliter, media massa PKT ini belum mampu menyebutkan, keadilan hukum masih eksis di Jerman bukan hanya karena berlandaskan pada sistem demokrasi Barat “pemisahan trias kekuasaan”, terlebih lagi bersumber pada pemahaman yang jernih seluruh masyarakat atas kejahatan yang dilakukan NAZI.

Bahkan Kanselir Merkel yang berasal dari Jerman Timur pada ajang terbuka juga kerap menekankan betapa pentingnya menilik kembali sejarah ini, juga pernah secara tegas mengatakan, “Warga Jerman dari generasi ke generasi harus berulang kali menyatakan secara jelas, selama ada keberanian, ada keberanian rakyat, setiap orang dapat menjamin paham rasisme dan paham anti-Yahudi tidak akan bisa terwujud”. Ia bahkan menilai, terhadap kejahatan anti-kemanusiaan yang dilakukan oleh NAZI, Jerman mengemban “tanggung jawab abadi”. Karena kaum oposisi dari atas sampai ke bawah sampai ke kalangan rakyat merefleksikan tuntas, menentang dan mengadili NAZI, sehingga membuat Jerman ibarat sebuah prasasti yang abadi, selama lebih dari setengah abad, selalu menjadi tolak ukur bagi peradaban Eropa dan dipuji oleh seluruh dunia.

Akan tetapi, iblis yang licik tak akan selalu memperlihatkan diri dengan wujud seperti ini, bangsa yang beradab dan baik juga mungkin bisa dibodohi dan ditipu oleh iblis. Setelah merobek cadar NAZI, Jerman tidak begitu memperhatikan, ada semacam ideologi yang lebih jahat daripada NAZI sudah mulai beredar di negara ini, dan perlahan membentuk iklimnya, itulah racun jahat komunisme.

Walaupun Tembok Berlin telah runtuh, Jerman Timur telah terbebas dari totaliter komunis, namun “penerus komunisme” yang menyatakan setia pada setan justru menunggu peluang dan menyaru, serta berencana menyusup lebih lanjut di Jerman dan mengacaukan negeri itu pasca Jerman Bersatu.

Sebenarnya dalam pidato terbukanya Hitler juga pernah mengutarakan, NAZI dan komunisme juga sosialisme ibarat setali tiga uang, karakter jahatnya tidak jauh berbeda. Dalam sebuah rekaman gambar hitam putih, pada suatu rapat perwakilan partai dengan lantang dan emosional mengatakan, “Mungkin sebagian di antara kalian, tidak suka dengan pertemuan antar kamerad secara resmi seperti ini, dan lebih mendambakan menjadi seorang nasional-sosialisme negara yang berani, yang bertempur di saat yang paling sulit”.

Ia secara jelas menyebutkan, “Partai Pekerja nasional sosialisme (Nazi) adalah pilar Jerman”; “karena mereka semua adalah ras Jerman yang paling unggul, mereka dapat dengan bangga menyatakan, wewenang kepemimpinan negara dan rakyat, warga Jerman harus dengan penuh kesadaran tunduk pada kepemimpinan mereka”. Ia juga menyatakan, “Suatu hari nanti, semua orang Jerman yang berdiri tegak akan menjadi anggota nasional sosialis”; “dan para elit itu, adalah kalian semua, anggota NAZI!”

Kata-kata ini terdengar menakutkan. Ternyata dalam pemahaman Hitler, NAZI adalah segelintir elit di antara begitu banyak penganut sosialisme. Pasca PD-II Jerman terus berusaha mengadili para “elit” NAZI ini, tapi telah membuat lebih banyak “penganut nasional sosialis” tersebut menyusup masuk ke berbagai bidang di Jerman, bahkan sampai ke dalam ranah politik, membuat ideologi komunisme yang sama jahatnya dengan NAZI dapat terus mengancam, bahkan mengacaukan negara yang mendambakan perdamaian, demokrasi dan kebebasan ini. Inilah faktor krusial mengapa para politisi Jerman tidak kenal lelah berusaha mengambil hati PKT.

Jika bukan karena para penganut “nasional sosialis” di mata Hitler itu sudah menguasai seluruh masyarakat Jerman, maka negara ini pun tidak mungkin selama puluhan tahun berturut-turut memilih pemimpin negara yang dekat dengan tirani totaliter PKT. Jerman yang demokrasi, bebas dan beradab itu bisa memiliki hubungan yang begitu erat dan dalam dengan PKT yang diktator, otoriter, dan tirani, penyebabnya hanya ada satu, yakni paham ideologi kedua negara tersebut sangat mirip satu sama lain.

Masalahnya adalah, para “nasional sosialis” di Jerman ini beserta para politisinya apakah sudah benar-benar memahami apa itu “paham komunis” yang sebenarnya? Di dalam “Manifesto Komunis” Marx sejak awal telah menjelaskan, bahwa komunis adalah “suatu roh jahat yang bergentayangan di Eropa”. Apalagi, Marx sendiri juga merupakan seorang pengikut setan. Di dalam “The Black Book of Communism” yang diterbitkan di Prancis pada November 1997 secara rinci telah dirangkum “berbagai penindasan berskala besar, pembantaian, kematian, kelaparan serta pelanggaran HAM lainnya yang terjadi di berbagai negara komunis di seluruh dunia”.

Selain itu, di dalam buku “The Specter of Communism is Ruling Our World” telah secara jelas disebutkan, “NAZI membantai orang Yahudi hanya dengan pembunuhan itu sebagai tujuannya, tetapi partai komunis membunuh bukan sebagai tujuan dasarnya, melainkan sebuah cara”; “partai komunis menggunakan metode membunuh”, “tidak hanya memusnahkan tubuh fisik orang saja, melainkan ingin memusnahkan jiwa seseorang”. Dengan kata lain, komunisme adalah ideologi iblis.

Karena ada dukungan kuat dari ideologi iblis seperti inilah, pasca terjadinya peristiwa Pembantaian Tiananmen sekalipun, Kanselir Kohl tetap secara aktif dengan profil tinggi berkunjung ke Tiongkok, ia bahkan secara khusus menginspeksi pasukan PLA yang menjaga Beijing. Seperti dikatakan surat kabar Jerman “Die Tageszeitung”, Kohl telah “membersihkan nama baik si pembunuh”. Dan kanselir sesudahnya yakni Gerhard Schröder bahkan selama tujuh tahun kepemimpinannya telah berkunjung sebanyak enam kali ke Tiongkok. Walaupun pada 1999 ketika Jiang Zemin secara terbuka menganiaya Falun Gong, seakan tidak terjadi apa pun, Schröder secara antusias datang ke Tiongkok mencari hubungan kerjasama.

Sampai sekarang PKT masih menutupi pandemi dan telah mencelakakan seluruh dunia, Jerman pun tidak luput dari imbas virus PKT. Seluruh dunia beramai-ramai memilih memutuskan hubungan dengan PKT, sedangkan Kanselir Merkel sepertinya masih mabuk akibat bius pemikat sukma PKT “menukarkan HAM dengan ekonomi”, dan sulit untuk tersadar kembali.

Pada September 2019 adalah ke-12 kalinya Merkel berkunjung ke Tiongkok, ia pergi ke Wuhan Union Hospital. Rumah sakit ini adalah “markas besar” tempat PKT melakukan perampasan organ tubuh praktisi Falun Gong dalam kondisi hidup, para dokter di sini pernah mengakui, mereka melakukan operasi cangkok organ dengan menggunakan organ tubuh yang berasal dari tubuh para praktisi Falun Gong.

Di situs resmi rumah sakit ini, hingga sekarang masih terpampang 7 rumah sakit kerjasama dari Jerman, dan hal ini merupakan aib bagi Jerman sendiri maupun bagi kalangan transplantasi organ di Jerman. Kejahatan perampasan organ oleh PKT yang telah berlangsung selama dua dekade ini telah terus menerus terungkap, suara protes dan kecaman dari seluruh dunia tidak pernah berhenti, kalangan medis dan politik Jerman tidak mungkin tidak tahu menahu soal kejadian ini. Merkel berkunjung ke sebuah rumah sakit yang dicap kejahatan “perampasan organ” seperti ini, sungguh tidak bisa dipercaya.

Selama beberapa dekade, tiga orang kanselir Jerman semakin menjadi-jadi pro terhadap PKT, makin tidak bisa membedakan kebaikan atau kejahatan, kebenaran atau kesalahan, mendekat pada iblis, mungkinkah ini dapat mendatangkan kemakmuran dan masa depan yang indah bagi Jerman? Setelah membersihkan NAZI, apakah lantas rakyat Jerman sudah bisa tidur dengan tenang?

Saat ini, menengok ke seluruh dunia dengan mudah terlihat setiap negara bahkan setiap orang tengah tak berdaya di hadapan virus yang aneh dan jahat ini. Sebelum vaksin dan penawarnya belum ditemukan, manusia mungkin masih bisa mencari resep mujarab dari sisi spiritual. Seperti ketika istilah “virus PKT” ini tampak dalam pandangan, kita semua dapat berpikir, apa hubungan PKT dengan virus ini.

Selama setengah tahun terakhir ini, lewat tren perkembangan pandemi ini, berbagai negara di dunia sudah bisa membuktikan, virus ini “datang menyasar partai komunis”; “virus ini menyasar negara, kota, organisasi, dan juga orang yang berhubungan dekat dengan PKT”. Di tengah sejarah yang begitu genting ini, negara mana pun, juga Jerman tengah menghadapi pilihan yang sangat penting. Kapan memutus hubungan dengan PKT, bersihkan racun komunis secara tuntas, adalah momen yang krusial bagi Jerman untuk dapat melangkah menuju hari depan yang cerah.(et/sud/sun)

Video Reverinsi:



0 comments