Taiwan Terbitkan Buku Panduan Pertahanan Sipil, Pejabat: Upaya Melawan Perang Informasi Tiongkok


Pemerintah Taiwan merilis edisi terbaru Buku Panduan Pertahanan Sipil sebagai langkah menghadapi ancaman militer dan serangan informasi dari Tiongkok. Pejabat keamanan tinggi menegaskan bahwa Beijing adalah “pembuat masalah” di kawasan dan Taiwan harus memperkuat kesiapsiagaan rakyat.


Taiwan Resmikan Buku Panduan Pertahanan Sipil untuk Tangkal Ancaman Tiongkok

Ketegangan di Selat Taiwan yang terus meningkat mendorong pemerintah Taiwan merilis edisi terbaru “Taiwan All-Out Defense Handbook” atau “Panduan Keamanan Nasional Taiwan”. Pada 21 November, Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional Taiwan, Lin Fei-fan, turun langsung membagikan buku tersebut kepada warga di Taipei sebagai bagian dari upaya penguatan kesiapsiagaan sipil.

Panduan yang dirilis sejak September itu berisi langkah penanganan bencana alam hingga prosedur keselamatan jika terjadi invasi militer oleh Tiongkok. Salah satu poin penting dalam buku tersebut adalah penegasan bahwa setiap informasi yang menyatakan Taiwan telah menyerah harus dianggap sebagai hoaks atau bagian dari perang informasi Beijing.

Warga Taiwan Merasa Tertekan oleh Ancaman Beijing

Warga Taipei, termasuk seorang perempuan bermarga Chi, menyampaikan rasa ketidaknyamanan akibat ancaman berulang dari Beijing.

“Tiongkok itu menakutkan. Mereka sudah lama mengancam Taiwan, menjadi tekanan besar bagi rakyat kami,” ujar Chi.

Pejabat Keamanan Taiwan: Beijing adalah “Troublemaker” Kawasan

Lin Fei-fan menegaskan bahwa perilaku Tiongkok adalah ancaman utama stabilitas kawasan.

“Tiongkok adalah pembuat masalah (troublemaker) dalam geopolitik regional. Kami melakukan segala cara untuk menjaga perdamaian dan stabilitas Selat Taiwan, serta mencegah perubahan sepihak terhadap status quo,” ujarnya.

Meski buku panduan tersebut memicu ketidakpuasan dari Kantor Urusan Taiwan di Beijing, Menteri Pertahanan Taiwan, Chiu Kuo-cheng, menyatakan bahwa meningkatkan literasi pertahanan rakyat adalah cara terbaik melawan operasi propaganda Tiongkok.

Ketegangan Memuncak Setelah Pernyataan PM Jepang

Situasi memanas setelah Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, pada 7 November menyatakan bahwa jika Taiwan diserang, kondisi tersebut dapat mengancam keberlangsungan Jepang, sehingga Tokyo dapat mengaktifkan hak pertahanan kolektif.

Pernyataan ini membuat Beijing bereaksi keras, dari kecaman diplomatik hingga latihan militer agresif. Sejak pertengahan November, Tiongkok menggelar rangkaian latihan militer berdekatan dengan wilayah Laut Kuning.

Lin Fei-fan menegaskan bahwa Taiwan dan Jepang memiliki posisi yang sejalan dalam menjaga stabilitas kawasan.

“Latihan militer Beijing bertujuan jelas: Ekspansi militer. Kami mengutuk keras tindakan sepihak Tiongkok yang merusak stabilitas regional, dan kami menyatakan dukungan tertinggi kepada Jepang,” katanya.

Presiden Lai Tunjukkan Dukungan Terbuka untuk Jepang

Presiden Taiwan, Lai Ching-te, baru-baru ini mengunggah foto dirinya menyantap sushi Jepang sebagai simbol dukungan terhadap Tokyo. Ia juga menyerukan agar Beijing menahan diri.

“Jangan menjadi pembuat masalah yang merusak perdamaian kawasan,” tegas Lai dalam unggahannya.


Kesimpulan

Peluncuran buku panduan pertahanan sipil oleh Taiwan menunjukkan keseriusan pemerintah dalam meningkatkan kesiapsiagaan rakyat di tengah ancaman militer dan perang informasi dari Tiongkok. Dengan dukungan terbuka Jepang dan berbagai langkah edukasi publik, Taiwan menegaskan komitmennya untuk mempertahankan stabilitas kawasan dan menolak upaya intimidasi Beijing.


#Taiwan #Tiongkok #SelatTaiwan #KeamananNasional #LinFeifan #LaiChingte #Jepang #GeopolitikAsia #BeritaInternasional #SEOnews

0 comments