Dubes AS untuk Tiongkok: Penutupan Shanghai Menyebabkan Banyak Pengusaha AS Hengkang dari Tiongkok

Pada 11 Juni 2022, warga Distrik Changning, Shanghai sedang mengantre untuk menjalani tes asam nukleat saat kasus wabah COVID-19 kembali meningkat. (Hector Retamal/AFP)

XIA YU

Duta besar AS untuk Tiongkok mengatakan bahwa kebijakan Nol Kasus Infeksi yang dilaksanakan secara ketat oleh otoritas, termasuk pembatasan perjalanan dan penguncian seluruh kota diperkirakan bisa berlangsung hingga tahun depan. Hal mana telah menghambat investasi AS dan Eropa di Tiongkok. Selain itu, penutupan Kota Shanghai menyebabkan banyak pengusaha Amerika Serikat meninggalkan Tiongkok.

“Asumsi jujur ​​saya adalah bahwa kita mungkin melihat kebijakan Nol Kasus akan berlanjut hingga beberapa bulan di awal tahun 2023 — itulah sinyal yang diberikan otoritas”, demikian kata Duta Besar Nicholas Burns pada sebuah acara online pada Kamis 16 Juni.

“Saya pikir kita terpaksa harus hidup dengan ini untuk waktu yang lama”, katanya di sebuah acara online di Brookings Institution.

Burns mengatakan bahwa sebagai pusat komersial dan keuangan Tiongkok, Kota Shanghai di mana banyak perusahaan AS yang beroperasi dan berbasis di sana, tetapi para pengusaha AS ini terpaksa meninggalkan Tiongkok akibat penutupan kota yang ketat.

Suatu ketika, kata Nicholas Burns bahwa 80 orang staf konsuler di kedutaan dan konsulat AS di Shanghai, dikerahkan untuk bekerja sepanjang waktu dalam rangka membantu sejumlah orang warga negara Amerika Serikat yang berada di Shanghai yang “ingin keluar dari kediaman, membutuhkan air dan makanan, serta membutuhkan perawatan medis”.

Selama penguncian Shanghai, 7 orang Marinir AS menghadapi kekurangan makanan segar, beruntung mereka mendapat bantuan dari staf konsulat AS di Shanghai.

Burns juga mengatakan bahwa hingga saat ini tidak jelas ke mana pemerintah Tiongkok yang semakin “agresif” akan membawa ekonomi Tiongkok. Dia juga mengatakan, Beijing telah mengirim pesan beragam tentang apakah akan terus menindak bidang-bidang usaha tertentu seperti teknologi.

Duta Besar menambahkan bahwa meskipun pasar Tiongkok dinilai penting bagi perusahaan asing, sehingga mereka tidak dapat sepenuhnya meninggalkan, tetapi survei dan percakapan dengan kamar dagang lokal menunjukkan bahwa perusahaan tetap tidak yakin untuk melakukan investasi lebih lanjut mengingat ketidakpastian, terutama seputar aturan perjalanan akibat wabah COVID-19.

Burns mengatakan bahwa meskipun dirinya belum melihat banyak perusahaan yang sepenuhnya meninggalkan pasar Tiongkok, tetapi dari pengamatannya dari percakapannya dengan banyak pemimpin bisnis di sana, dia percaya bahwa perusahaan AS masih ragu-ragu untuk berinvestasi di (Tiongkok) sampai mereka dapat melihat bagaimana (pihak berwenang) mengakhiri semuanya ini (Kebijakan Nol Kasus dan pembatasan kegiatan masyarakat).

Kota Shanghai adalah pusat perdagangan Tiongkok dan pelabuhan tersibuk di dunia. Lockdown ketat membuat aktivitas ekonomi Tiongkok terhenti juga mengganggu manufaktur dan perdagangan global. Kembali mewabahnya COVID-19 di Beijing baru-baru ini memicu kekhawatiran baru tentang prospek ekonomi negara tirai bambu ini. Sampai saat ini, PKT masih saja menerapkan penutupan perbatasan yang ketat dan tes asam nukleat massal.

Analis mengatakan bahwa PKT akan sulit untuk mencapai target pertumbuhan PDB resmi tahun ini jika mereka tidak bersedia membatalkan kebijakan Nol Kasus.

Burns juga mengatakan bahwa pendekatan ketat yang diterapkan PKT dalam mencegah dan mengendalikan penyebaran COVID-19, Juga telah membatasi jumlah pertemuan tatap muka antara pejabat AS dengan Tiongkok. Interaksi antar tingkat tinggi kedua negara akhir-akhir ini hanya terjadi di luar Tiongkok. Itu juga membuat anggota Kongres AS yang akan mengunjungi Tiongkok jadi tertunda.

“Jika saya memberitahukan rekan-rekan saya di Washington untuk datang ke mari, saya akan menghadapi sulit untuk meyakinkan mereka, andai saja mereka datang, mereka harus menjalani karantina selama 14 hari sebelum dapat mengadakan pertemuan. Saya bisa memaklumi jika mereka jadi enggan melakukannya”.

Dia juga mengkritik otoritas Tiongkok karena menyensor pidato bulan Mei Menteri Luar Negeri Blinken tentang kebijakan AS terhadap Tiongkok di media sosial Tiongkok, di mana Blinken mengatakan bahwa Washington mengharapkan Beijing untuk mematuhi aturan internasional. (ET/sin/sun)


0 comments