China Terus Alami PHK dan Pemotongan Gaji, Data Resmi PKC Dinilai Memoles Angka Pengangguran
Di tengah perlambatan ekonomi China, pemerintah di bawah Partai Komunis China (PKC) mengklaim tingkat pengangguran pemuda terus menurun. Namun, kesaksian masyarakat menunjukkan kondisi sebaliknya: PHK massal, pemotongan gaji, dan sulitnya mencari pekerjaan, terutama bagi lulusan baru dan pekerja usia di atas 35 tahun.
Data Resmi PKC Klaim Pengangguran Pemuda Menurun
Pekan lalu, otoritas China merilis data resmi yang menyebutkan bahwa tingkat pengangguran pemuda mengalami penurunan. Menurut data PKC, pada Desember tahun lalu, tingkat pengangguran pemuda usia 16–24 tahun (tidak termasuk pelajar) tercatat sebesar 16,5%, turun selama empat bulan berturut-turut.
Sementara itu, tingkat pengangguran tenaga kerja usia 25–29 tahun dilaporkan 6,9%, turun 0,3 poin persentase dibandingkan bulan sebelumnya.
Namun, banyak warga menilai angka ini tidak mencerminkan kondisi nyata di lapangan.
Manipulasi Statistik Lewat Skema Rekrutmen Kampus
Sejumlah pemuda generasi 2000-an mengungkapkan bahwa penurunan angka pengangguran lebih disebabkan oleh rekayasa statistik, terutama melalui rekrutmen kampus yang disertai subsidi pendidikan. Skema ini memungkinkan perusahaan merekrut lulusan baru bergaji rendah, sehingga secara teknis menurunkan angka pengangguran, meski kondisi kerja sangat buruk.
Liu, lulusan teknik pangan, mengaku direkrut melalui jalur kampus untuk bekerja sebagai buruh di rumah pemotongan hewan. Setelah tiga tahun, gajinya justru dipotong dari 5.600 yuan menjadi 4.000 yuan per bulan, sementara biaya sewa di Beijing mencapai 2.300 yuan.
“Lingkungan kerjanya buruk, tidak ada kenaikan gaji, malah dipotong. Saya akhirnya tidak sanggup bertahan dan memilih resign,” ujar Liu.
Dunia Medis Juga Tertekan: Perawat Bergaji Rendah
Tekanan ekonomi juga melanda sektor kesehatan. Zhang, mantan perawat di rumah sakit kelas atas (3A), mengungkap praktik perekrutan perawat murah tanpa bonus atau tunjangan.
“Gaji cuma sekitar 2.000 yuan per bulan. Dua tahun kemudian disuruh keluar, lalu diganti lulusan baru lagi. Ini benar-benar eksploitasi,” kata Zhang.
Ia mengaku terpaksa bergantung pada bantuan keluarga dan kini mempertimbangkan untuk pindah profesi.
Usia 35 Tahun ke Atas Makin Sulit Cari Kerja
Data resmi PKC menyebutkan tingkat pengangguran usia 30–59 tahun berada di 3,9%, naik 0,1 poin persentase. Namun, wawancara lapangan menunjukkan bahwa kelompok usia inilah yang paling banyak terkena PHK, dengan peluang kerja yang sangat terbatas.
Wang, mantan staf administrasi berusia 34 tahun, mengaku kesulitan membayar cicilan rumah.
“Saya cemas setiap hari, punya anak, tidak ada pemasukan, dan sulit tidur di malam hari,” ujarnya.
Li, seorang insinyur berusia 40 tahun, mengatakan sebagian besar lamaran kerjanya tidak pernah dibalas.
“Kalau terus begini, pilihannya tinggal kerja di pabrik atau jadi kurir dan sopir online,” katanya.
Warga: Pengangguran Nyata Jauh Lebih Tinggi
Secara resmi, PKC menyatakan tingkat pengangguran perkotaan China sepanjang 2025 rata-rata 5,2%. Namun, warga Jiangsu menyebutkan realitas yang jauh berbeda.
“Banyak pabrik tutup. Dari 10 orang, mungkin 5 menganggur. Angka resmi jelas dipoles,” ujar seorang warga setempat.
Kesimpulan
Meski PKC mengklaim tingkat pengangguran di China terus membaik, kesaksian masyarakat menunjukkan krisis lapangan kerja yang semakin serius. PHK massal, pemotongan gaji, eksploitasi lulusan baru, serta diskriminasi usia mencerminkan tekanan ekonomi struktural yang tidak terungkap dalam statistik resmi. Kondisi ini menimbulkan ketidakpastian besar bagi masa depan tenaga kerja China.
#China #PKC #PengangguranChina #EkonomiChina #PHKMassal #PengangguranPemuda #KrisisEkonomiChina #LapanganKerjaChina #BeritaInternasional #BeritaChina

0 comments