Laporan Global: 128 Jurnalis Tewas Sepanjang 2025, China Tahan Wartawan Terbanyak di Dunia
Laporan terbaru Federasi Jurnalis Internasional (IFJ) mengungkap situasi memprihatinkan kebebasan pers global sepanjang 2025. Sebanyak 128 jurnalis tewas dan ratusan lainnya dipenjara, dengan China kembali menempati posisi teratas sebagai negara yang paling banyak menahan wartawan.
128 Jurnalis Tewas, Ratusan Dipenjara di Seluruh Dunia
Federasi Jurnalis Internasional (International Federation of Journalists/IFJ) merilis laporan tahunan yang mencatat bahwa sepanjang tahun 2025, sebanyak 128 jurnalis dan pekerja media di seluruh dunia tewas. Mayoritas kematian tersebut disebabkan oleh pembunuhan yang disengaja.
Selain itu, laporan tersebut juga mencatat 533 jurnalis dipenjara, jumlah yang meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan lima tahun lalu. Data ini menunjukkan tren memburuknya kondisi kebebasan pers dan keselamatan jurnalis secara global.
China Kembali Dijuluki “Penjara Terbesar bagi Jurnalis”
Hal yang paling disorot dalam laporan IFJ adalah posisi China (Partai Komunis China/PKC) yang kembali dinobatkan sebagai “penjara terbesar bagi jurnalis di dunia”.
Disebutkan bahwa 143 jurnalis saat ini ditahan di China, termasuk di wilayah Hong Kong, yang sebelumnya dikenal memiliki kebebasan pers relatif lebih luas.
Penahanan terhadap jurnalis ini mencakup berbagai tuduhan, mulai dari “mengancam keamanan nasional”, “menyebarkan rumor”, hingga pelanggaran hukum lainnya yang kerap dinilai tidak transparan oleh komunitas internasional.
Seruan Internasional untuk Lindungi Kebebasan Pers
Sekretaris Jenderal IFJ, Anthony Bellanger, dalam pernyataannya menyerukan kepada pemerintah di seluruh dunia untuk segera mengambil tindakan nyata guna melindungi jurnalis dan pekerja media.
Ia menegaskan bahwa para pelaku kekerasan terhadap jurnalis harus diadili dan dihukum, sebagai bagian dari upaya mempertahankan kebebasan pers dan hak masyarakat atas informasi.
Kesimpulan
Laporan IFJ tahun 2025 menegaskan bahwa profesi jurnalis masih menjadi salah satu pekerjaan paling berbahaya di dunia. Tingginya angka kematian dan penahanan menunjukkan bahwa kebebasan pers terus berada di bawah ancaman serius. Dengan China kembali memimpin dalam jumlah jurnalis yang dipenjara, tekanan terhadap media independen menjadi isu global yang mendesak untuk segera ditangani oleh komunitas internasional.

0 comments