CIA Rilis Panduan Aman Hubungi AS untuk Pejabat PKC, Pola Penangkapan Maduro Disebut Bisa Menjangkau Beijing


Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) kembali merilis video berbahasa Mandarin yang secara terbuka memberikan panduan teknis kepada pejabat Partai Komunis China (PKC) tentang cara aman menembus sensor internet dan menghubungi CIA. Langkah ini memicu analisis bahwa pola operasi intelijen yang berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro berpotensi diterapkan terhadap elite PKC di Beijing.


CIA Terbitkan Video Ketiga untuk Pejabat PKC

Pada 15 Januari, CIA merilis video ketiganya yang secara khusus ditujukan kepada pejabat PKC yang bersedia memberikan informasi intelijen kepada Amerika Serikat. Video berdurasi sekitar dua menit tersebut diunggah di platform X dan disajikan sepenuhnya dalam bahasa Mandarin.

Dalam video itu, CIA memaparkan sembilan langkah “kontak aman”, termasuk cara membeli perangkat komunikasi menggunakan uang tunai atau kartu hadiah tanpa identitas, memanfaatkan jaringan Wi-Fi publik, menggunakan peramban dan VPN buatan perusahaan Barat, membuat email baru, serta menghubungi CIA melalui jaringan gelap (dark web).

CIA menegaskan dalam pernyataannya bahwa pihaknya “ingin mengetahui kebenaran tentang China” dan sedang mencari individu yang mengetahui serta berani menyampaikan fakta tersebut.


Upaya Tembus Tembok Sensor China

Video tersebut juga mengingatkan calon narasumber agar tidak meninggalkan jejak digital yang dapat dilacak, bahkan menyarankan untuk keluar dari China terlebih dahulu jika kondisi memungkinkan sebelum melakukan kontak.

Insinyur jaringan komunikasi di Silicon Valley, Zhong Shan, menilai panduan yang disampaikan CIA cukup rinci dan profesional. Namun ia mengingatkan agar perangkat yang digunakan tidak berasal dari produsen China, terutama ponsel buatan Huawei, demi meminimalkan risiko pelacakan.


Kampanye Berkelanjutan CIA Menargetkan PKC

Sebelumnya, pada 1 Mei 2025, CIA telah merilis dua video Mandarin berjudul “Alasan Memilih Bekerja Sama: Menjadi Penguasa Takdir Sendiri” dan “Alasan Memilih Bekerja Sama: Menciptakan Masa Depan yang Lebih Baik”. Video tersebut menggambarkan kekecewaan pejabat PKC terhadap sistem, serta pilihan untuk bekerja sama dengan CIA demi keselamatan diri dan keluarga.

Direktur CIA John Ratcliffe menyatakan keyakinannya bahwa video-video tersebut mampu menembus “The Great Firewall” China dan menjangkau target yang diinginkan. Seorang pejabat AS bahkan menyebut, jika metode ini tidak efektif, CIA tidak akan melanjutkan produksi video serupa.


Pola Penangkapan Maduro Jadi Sorotan

Rilis video terbaru CIA ini terjadi tak lama setelah militer Amerika Serikat berhasil menangkap hidup-hidup Presiden Venezuela Nicolás Maduro, yang disebut-sebut dilakukan dengan dukungan intelijen internal. Peristiwa tersebut memicu diskusi luas di media sosial China, bahkan sebagian warganet secara terbuka menyindir agar metode serupa diterapkan terhadap pemimpin tertinggi PKC.

Beberapa pengguna internet China juga mengklaim bahwa peta daring tertentu mulai sulit menampilkan lokasi Zhongnanhai secara akurat, meski klaim ini belum diverifikasi secara independen.


Analisis: Retakan dalam Sistem PKC

Pengamat politik yang berbasis di Amerika Serikat, Tang Jingyuan, menilai bahwa kampanye CIA mencerminkan keyakinan Washington bahwa sistem PKC tengah mengalami retakan internal. Menurutnya, dalam situasi krisis kekuasaan, selalu ada elite yang mencari jalan keluar demi keselamatan pribadi.

Ia menilai dinamika ini sejalan dengan kondisi politik tingkat atas PKC yang disebut sedang mengalami persaingan kekuasaan yang intens. Dalam konteks tersebut, CIA diyakini berupaya mereplikasi model operasi intelijen yang sukses di Venezuela untuk memperluas pengaruhnya hingga ke pusat kekuasaan China.


Kesimpulan

Langkah CIA yang secara terbuka memberikan panduan teknis kepada pejabat PKC menandai eskalasi serius dalam persaingan intelijen antara Amerika Serikat dan China. Keberhasilan penangkapan Nicolás Maduro menjadi contoh nyata bagaimana operasi berbasis dukungan internal dapat dijalankan. Jika strategi ini terus diperluas, ketegangan geopolitik AS–China berpotensi memasuki fase baru, dengan medan persaingan yang semakin dalam hingga ke jantung kekuasaan Beijing.


0 comments