China Pulangkan Bos Penipuan Online Chen Zhi, Pakar Nilai Upaya Menutup Skandal Besar

Pemulangan bos sindikat penipuan daring lintas negara, Chen Zhi, dari Kamboja ke China memicu sorotan internasional. Sejumlah analis menilai langkah ini bukan sekadar penegakan hukum, melainkan upaya Beijing untuk menutup skandal besar yang melibatkan kejahatan terorganisir, pencucian uang, dan dugaan keterkaitan aparat negara.


Chen Zhi Diekstradisi dari Kamboja ke China

Pada 7 Januari, pemerintah Kamboja mengumumkan telah menangkap dan mengekstradisi Chen Zhi, ketua Prince Group (Taizi Group), ke China. Status kewarganegaraan Kamboja Chen Zhi telah dicabut sejak Desember tahun lalu.

Chen Zhi, berusia 38 tahun, berasal dari Kabupaten Lianjiang, Provinsi Fujian, China. Ia diketahui memiliki kewarganegaraan Inggris dan Kamboja.


Bangkitnya Taizi Group dan Kedekatan dengan Elite Kamboja

Chen Zhi mulai memasuki pasar properti Kamboja pada 2011, lalu secara resmi mendirikan Taizi Group pada 2015. Pada Juli 2020, ia dianugerahi gelar kehormatan “Oknha” oleh pemerintah Kamboja dan bahkan diangkat sebagai penasihat Perdana Menteri Hun Sen saat itu.

Pengamat menilai, pencapaian tersebut sulit diraih tanpa dukungan kekuatan politik besar.

Penulis kolom Epoch Times, Wang He, menyatakan bahwa:

“Di negara dengan tata kelola yang kacau seperti Kamboja, mustahil Chen Zhi bisa membangun kerajaan bisnis sebesar itu tanpa dukungan dari Partai Komunis China.”


Ditetapkan sebagai Penjahat Internasional

Pada Oktober tahun lalu, Amerika Serikat dan Inggris secara resmi menetapkan Taizi Group sebagai organisasi kriminal transnasional dan mengeluarkan surat perintah penangkapan internasional terhadap Chen Zhi.

AS bahkan menyita aset Bitcoin milik Chen Zhi senilai sekitar 15 miliar dolar AS. Negara-negara lain seperti Inggris, Singapura, Hong Kong, Taiwan, dan Thailand juga ikut membekukan aset-aset yang terkait dengannya.


Tekanan Internasional Picu Penangkapan

Mantan pengacara Beijing dan akademisi independen Lai Jianping menilai tekanan Amerika Serikat memainkan peran besar:

“AS memberikan tekanan hukum dan opini publik yang sangat kuat, memaksa Kamboja bertindak. Thailand juga turut membantu. Ini memberi efek gentar terhadap kejahatan penipuan daring internasional.”


Dugaan Keterlibatan Aparat Keamanan China

Penulis Kanada keturunan Tionghoa Sheng Xue mengungkap bahwa Chen Zhi diduga memiliki hubungan dekat dengan badan keamanan China, serta berperan sebagai agen jaringan intelijen luar negeri dan pencuci uang bagi keluarga elite kekuasaan.

Taizi Group selama bertahun-tahun dituduh terlibat dalam penipuan online, perdagangan manusia, dan perbudakan tenaga kerja, dengan dugaan bahwa aparat China menjadi mitra kejahatan yang terlibat secara mendalam.


Mengapa Tidak Diserahkan ke AS?

Menurut Wang He, keputusan Beijing untuk memulangkan Chen Zhi ke China, bukan menyerahkannya ke AS, menunjukkan motif politik yang kuat:

“Chen Zhi membawa terlalu banyak rahasia gelap—utang darah dan kejahatan besar. Partai Komunis tidak berani membiarkannya diadili secara terbuka di Barat. Menariknya pulang ke China adalah cara untuk menenggelamkan semua skandal itu.”


Kesimpulan

Ekstradisi Chen Zhi ke China bukan hanya kasus kriminal biasa, melainkan cermin kompleksitas kejahatan lintas negara yang berkelindan dengan kekuasaan politik. Langkah Beijing dinilai banyak pihak sebagai upaya mengendalikan narasi dan menutup keterlibatan pihak-pihak berpengaruh, alih-alih membuka kasus ini secara transparan di ranah internasional. Kasus Chen Zhi pun berpotensi menjadi ujian besar bagi komitmen global dalam memberantas penipuan daring dan kejahatan terorganisir.



0 comments