Pemuda Sichuan Terjebak di Kamboja, Minta Bantuan Konsulat China Justru “Dijual”
Seorang pemuda asal Sichuan, China, mengungkap pengalaman mengerikan saat terjebak di kawasan penipuan (scam center) di Kamboja. Lebih mengejutkan lagi, setelah keluarganya meminta bantuan ke Konsulat China, informasi tersebut justru bocor ke pihak pengelola kamp penipuan, yang berujung pada penyiksaan lebih berat dan pemindahan paksa. Kasus ini kembali menyoroti dugaan keterlibatan jaringan lintas negara serta kegagalan perlindungan warga oleh Partai Komunis China (PKC).
Dijebak Lewat Media Sosial
Korban bernama Li He (nama samaran), pemuda berusia 25 tahun dari Sichuan, mengaku pada Mei tahun lalu direkrut melalui platform Douyin dengan tawaran pekerjaan “angkut barang di jalur Vietnam”. Namun, setelah keluar dari China, ia justru dibawa ke kawasan penipuan di Kamboja dan dipaksa bekerja sebagai pelaku penipuan daring.
Kekerasan Brutal dan Penyiksaan Tak Manusiawi
Li He mengungkap bahwa kekerasan di dalam kamp merupakan hal sehari-hari. Pemukulan, penyiksaan dengan setrum listrik, pemotongan jari kaki, hingga pemerkosaan massal disebutnya sebagai hukuman rutin. Ia bahkan mengaku dipaksa memakan kotoran dan minum urine.
Menurut kesaksiannya, korban yang dianggap “tidak patuh” bisa dipukuli hingga tewas, lalu dikubur secara diam-diam di sekitar area kamp.
Upaya Kabur Gagal, Disiksa Berhari-hari
Saat mencoba melarikan diri, Li He tertangkap dan dikeroyok oleh puluhan penjaga hingga tulang rusuknya patah. Dalam kondisi ketakutan ekstrem, ia diam-diam menghubungi keluarganya di China.
Keluarga kemudian meminta bantuan ke Konsulat China di Kamboja. Namun tak lama setelah itu, pihak kamp penipuan langsung mengetahui upaya tersebut.
Minta Tolong Konsulat, Justru “Dijual”
Li He mengaku setelah pihak konsulat dihubungi, dirinya malah mengalami penyiksaan lebih berat. Ia digantung dengan borgol selama beberapa hari, tidak diberi makan, dijemur di bawah matahari, lalu “dijual” ke perusahaan penipuan lain.
“Awalnya minta tolong ke kedutaan, lalu saya dijual oleh kedutaan. Polisi juga satu kelompok dengan mereka,” ungkap Li He.
Tebusan Mahal Lewat Jalur Nonresmi
Menyadari situasi semakin berbahaya, keluarga Li He terpaksa menempuh jalur nonresmi. Mereka mengumpulkan 250 ribu yuan (sekitar ratusan juta rupiah) untuk membayar “tim penyelamat” yang memiliki koneksi dengan elite lokal Kamboja.
Menurut Li He, hanya orang-orang berpengaruh seperti pejabat daerah atau elite politik yang bisa memerintahkan pembebasan korban. Tanpa uang, korban akan terus diperjualbelikan.
Pura-pura “Baik-baik Saja”
Sebelum dibebaskan, Li He dipaksa berlatih pengakuan palsu: tidak disiksa, tidak melakukan penipuan, dan baru berada di kamp selama beberapa hari. Ia juga harus lolos dari pemeriksaan internal sebelum akhirnya diserahkan ke pihak “penyelamat”.
Pada akhir Juli, Li He akhirnya berhasil keluar dari neraka penipuan tersebut dan kembali ke China melalui Laos dan Xishuangbanna.
Ribuan Warga China Masih Terjebak
Li He mengungkap bahwa dirinya ditahan di Kawasan Penipuan Baolong IV. Meski pimpinan utamanya telah pindah, kamp tersebut masih beroperasi dan bahkan terus diperluas. Diperkirakan ribuan warga China masih terjebak di sana.
Dugaan Keterlibatan Jaringan Resmi
Pengamat independen Lai Jianping menyebut bahwa kawasan penipuan di Kamboja merupakan hasil kolusi antara PKC, otoritas Kamboja, dan jaringan lintas negara lainnya.
Mantan agen China, Eric, juga pernah membongkar bahwa kelompok besar seperti Prince Group bisa beroperasi lama karena perlindungan dari pejabat tinggi keamanan China.
Pengacara HAM Wu Shaoping memperingatkan warga China di luar negeri agar tidak meminta bantuan ke kedutaan China, karena berpotensi memperburuk keadaan.
Kesimpulan
Kesaksian Li He membuka sisi gelap industri penipuan lintas negara di Asia Tenggara dan memunculkan pertanyaan serius mengenai peran serta tanggung jawab Partai Komunis China terhadap keselamatan warganya di luar negeri. Alih-alih menjadi pelindung, aparat diplomatik justru dituding memperparah penderitaan korban. Selama jaringan kekuasaan dan uang tetap berkelindan, ribuan korban lain berisiko terus terjebak tanpa jalan keluar.

0 comments