Washington Menghidupkan Kembali Doktrin Monroe, Mesin Perang Putin di Ambang Kehancuran


Amerika Serikat mengubah arah strategi globalnya melalui Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional (NDAA) terbaru. Washington secara terbuka menghidupkan kembali Doktrin Monroe, memusatkan fokus ke Belahan Bumi Barat, menekan pengaruh China dan Rusia di Amerika Latin, sekaligus menandai fase kritis bagi kelangsungan mesin perang Rusia.


Strategi global Amerika Serikat mengalami pergeseran besar yang tercermin jelas dalam versi terbaru Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional (NDAA). Dokumen setebal lebih dari 3.000 halaman ini dibuka dengan surat terbuka Presiden Donald Trump, yang menyatakan bahwa dalam sembilan bulan terakhir pemerintahannya telah menarik Amerika Serikat dan dunia dari “jurang bencana dan kehancuran”.

Para analis menilai inti dari undang-undang yang ditandatangani pada 18 Desember 2025 ini adalah kebangkitan kembali Doktrin Monroe, sebuah strategi klasik yang secara tegas mengalihkan fokus AS ke Belahan Bumi Barat, mencakup Amerika Utara dan Amerika Selatan.

Doktrin Monroe Versi Baru: Fokus Amerika Latin

Dalam versi modernnya, Doktrin Monroe diarahkan untuk memulihkan dominasi Amerika Serikat dan mencegah kekuatan non-Barat—khususnya Partai Komunis China (PKC) dan Rusia—mengerahkan pengaruh militer maupun strategis di kawasan tersebut.

Undang-undang ini secara eksplisit menyebutkan bahwa Washington akan mencegah “pesaing non-Barat mengerahkan pasukan atau kemampuan yang mengancam di belahan bumi kami.” Kebijakan ini dipandang sebagai koreksi atas puluhan tahun “pengabaian” AS terhadap Amerika Selatan.

Langkah tersebut secara langsung menyasar investasi besar-besaran China di Amerika Latin, yang nilainya disebut telah melampaui 200 miliar dolar AS, termasuk penguasaan sejumlah pelabuhan strategis di sekitar Kanal Panama. Pemerintahan Trump menjadikan pengambilalihan kembali pengelolaan Kanal Panama sebagai prioritas utama, sementara rezim Nicolás Maduro di Venezuela dinilai memasuki fase akhir kekuasaannya menjelang 3 Januari 2026.

Penyesuaian Penempatan Militer Global AS

NDAA juga mengisyaratkan penataan ulang penempatan militer global AS. Fokus militer diarahkan pada ancaman “paling mendesak” di Belahan Bumi Barat, sementara kehadiran di kawasan dengan kepentingan strategis yang menurun—terutama Eropa—akan dikurangi.

Selain itu, undang-undang ini mengirimkan sinyal tegas kepada sekutu Asia. Washington menekankan bahwa Amerika Serikat “tidak bisa dan tidak seharusnya” memikul tanggung jawab sendirian dalam mempertahankan First Island Chain. Negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Filipina, dan Taiwan didorong untuk meningkatkan investasi pertahanan dan mengambil peran lebih besar.

Kebijakan ini mencerminkan kelanjutan filosofi “America First”, yang menuntut pembagian beban pertahanan secara adil dan mengakhiri praktik sekutu yang hanya bergantung pada perlindungan AS.

Mesin Perang Rusia di Ujung Tanduk

Di Eropa Timur, Presiden Trump mengajukan inisiatif perdamaian, namun Vladimir Putin menolaknya. Para analis menilai keputusan Kremlin tidak lagi didorong rasionalitas ekonomi, melainkan kecemasan eksistensial untuk bertahan hidup.

Menurut model keuangan yang dikembangkan pakar dari Carnegie Center, rantai pendanaan perang Rusia diperkirakan hanya mampu bertahan 12 hingga 18 bulan lagi. Tanda-tanda kemerosotan ekonomi semakin nyata: infrastruktur sipil terbengkalai, anggaran kota dialihkan untuk perang, dan inflasi terus meningkat.

Ironisnya, meski pendapatan minyak masih mengalir, sebagian besar transaksi kini diselesaikan dalam rupee dan yuan, menyebabkan ratusan miliar mata uang non-dolar tersebut mengendap di bank Rusia dan tidak dapat digunakan secara efektif di pasar internasional.

Strategi Rekrutmen dan Bayang-Bayang Sejarah

Kunci ketahanan Putin hingga kini terletak pada sistem rekrutmen berbasis insentif finansial. Dengan kesenjangan sosial yang ekstrem, bergabung dengan militer menjadi jalan cepat bagi warga kelas bawah untuk mengubah nasib. Bonus pendaftaran mencapai 5.000–24.000 dolar AS, dengan gaji bulanan hingga 3.000 dolar AS, jauh di atas pendapatan praperang.

Namun sejarah menunjukkan pola yang berulang. Pengalihan sekitar 40% keuangan negara untuk perang berkepanjangan, disertai runtuhnya infrastruktur dan tersumbatnya pendapatan, mengingatkan pada runtuhnya Kekaisaran Rusia dan Uni Soviet—keduanya tumbang bukan karena invasi asing, melainkan krisis ekonomi internal.

Kesimpulan

Kebangkitan kembali Doktrin Monroe menandai era strategis baru Amerika Serikat, dengan fokus tajam pada Belahan Bumi Barat dan penataan ulang kekuatan global. Di saat yang sama, Rusia menghadapi tekanan ekonomi yang kian menyempitkan ruang gerak militernya. Kombinasi perubahan strategi Washington dan melemahnya fondasi ekonomi Moskow berpotensi memicu pergeseran geopolitik besar yang dampaknya akan terasa jauh melampaui musim dingin ini.


#DoktrinMonroe #AmerikaSerikat #GeopolitikGlobal #DonaldTrump #NDAA #Rusia #Putin #PerangUkraina #China #PKT #AmerikaLatin #PolitikInternasional

0 comments