PKC Gunakan Dokumen Palsu Amerika untuk Serangan Siber Global, Pejabat Banyak Negara Jadi Korban


Sebuah laporan terbaru perusahaan keamanan siber internasional mengungkap bahwa kelompok peretas berlatar belakang PKC memalsukan "briefing diplomatik Amerika Serikat" untuk melancarkan serangan siber terarah terhadap pejabat pemerintah di berbagai negara. Serangan ini dinilai sangat canggih, terencana, dan berpotensi mengancam keamanan nasional banyak negara.


Dokumen Palsu Bertajuk Amerika Jadi Senjata Serangan Siber

Perusahaan keamanan siber Dream Security merilis laporan yang mengungkap operasi peretasan besar yang terjadi antara akhir Desember 2025 hingga pertengahan Januari 2026. Operasi ini dikendalikan oleh kelompok peretas PKC yang dikenal sebagai Mustang Panda (野马熊猫).

Kelompok ini memanfaatkan kepercayaan tinggi para diplomat dan pejabat pemerintah terhadap dokumen resmi Amerika Serikat. Mereka memalsukan berbagai "briefing diplomatik AS" yang tampak sangat meyakinkan, lengkap dengan format, bahasa, dan topik geopolitik terkini.

Saat korban membuka dokumen tersebut, sistem mereka diam-diam terinfeksi malware PlugX versi modifikasi, sebuah trojan yang telah lama digunakan PKC dalam operasi spionase siber.


Target Spesifik: Pejabat Bernilai Tinggi

Materi umpan yang digunakan mencakup dokumen sensitif seperti:

  • Pemberitahuan pemilu parlemen Kosovo
  • Laporan pertemuan Komite Kemitraan Piagam AS–Adriatik
  • Briefing diplomatik hubungan Amerika Serikat–Kamboja

Peneliti keamanan siber dari Institut Pertahanan Taiwan, Hsieh Pei-hsueh, menjelaskan bahwa serangan ini bersifat sangat terarah.

“Peretas dengan sangat presisi memanfaatkan ketakutan target akan ketinggalan informasi penting. Ini bukan serangan acak, melainkan operasi yang menyasar target bernilai tinggi,” ujarnya.


Banyak Korban Terinfeksi, Skala Masih Misterius

CEO Dream Security, Shalev Hulio, mengungkap bahwa serangan ini telah menginfeksi “jumlah korban yang cukup besar”. Namun, hingga kini belum dapat dipastikan siapa saja korban sebenarnya dan seberapa luas penyebaran serangan tersebut.

Hulio menegaskan bahwa peretas PKC merupakan salah satu yang paling berpengalaman di dunia.

“Mereka sangat mahir bersembunyi dan mampu beroperasi lama di bawah radar tanpa terdeteksi,” katanya.


Ancaman Serius terhadap Diplomasi dan Keamanan Nasional

Menurut Hsieh Pei-hsueh, tujuan utama serangan ini adalah mencuri informasi strategis seperti posisi negosiasi, penilaian terhadap sekutu, dan arah kebijakan luar negeri.

Jika komputer seorang diplomat berhasil ditembus, seluruh komunikasi internal dan strategi diplomatik dapat jatuh ke tangan Beijing. Informasi tersebut juga dapat digunakan sebagai pintu masuk untuk menyerang jaringan lain melalui kontak korban.


Citra Negara Rusak, Dunia Diminta Waspada

Akademisi dari Universitas Chung Yuan, Liu Wen-bin, menilai bahwa keterlibatan langsung negara dalam serangan siber seperti ini merupakan pukulan besar terhadap reputasi internasional.

“Ini menunjukkan bahwa PKC tidak akan berhenti mencuri rahasia dunia. Negara-negara Barat harus menjadikan kasus ini sebagai peringatan serius bagi seluruh aparatur negara,” ujarnya.


Kesimpulan

Kasus pemalsuan dokumen diplomatik Amerika oleh peretas PKC menegaskan bahwa serangan siber kini telah menjadi alat utama spionase dan perang informasi lintas negara. Dengan menyasar pejabat bernilai tinggi dan memanfaatkan kepercayaan terhadap institusi Amerika Serikat, PKC menunjukkan tingkat kecanggihan yang mengkhawatirkan. Dunia internasional dituntut untuk meningkatkan kewaspadaan, memperkuat keamanan digital, dan menyadari bahwa ancaman siber kini sama berbahayanya dengan ancaman militer konvensional.


#SeranganSiber #HackerChina #PKC #KeamananSiber #CyberEspionage #MustangPanda #DokumenPalsu #AncamanDigital #SpionaseSiber #BeritaGlobal

0 comments