Susu Formula Bayi Ditarik Massal, Sumber Bahan Baku Telusur ke Perusahaan China


Penarikan massal susu formula bayi oleh tiga raksasa industri susu dunia pada Januari ini mengguncang pasar global. Investigasi mengungkap bahwa sumber kontaminasi bahan baku berbahaya berasal dari sebuah perusahaan publik di China, kembali memicu kekhawatiran serius terhadap keamanan pangan dan rantai pasok global.


Penarikan Global oleh Tiga Raksasa Susu Dunia

Pada Januari tahun ini, tiga perusahaan susu terbesar dunia—Nestlé, Lactalis, dan Danone—melakukan penarikan global terhadap produk susu formula bayi. Penarikan dilakukan karena produk diduga mengandung toksin Bacillus cereus (bakteri pembentuk spora lilin), yang berpotensi menyebabkan keracunan serius bahkan kematian pada anak-anak.

Menurut laporan Reuters yang mengutip Kementerian Pertanian Prancis, sumber kontaminasi berasal dari minyak asam arakidonat (Arachidonic Acid/ARA oil), salah satu bahan penting dalam susu formula bayi.


Bahan Baku ARA Berasal dari Perusahaan China

Reuters mengungkap bahwa ARA oil yang terkontaminasi tersebut diproduksi oleh perusahaan China, Jiabiyou Biotechnology (Wuhan) Co., Ltd., sebuah perusahaan bioteknologi besar yang terdaftar di bursa saham China.

Perusahaan ini merupakan pemasok utama bagi banyak perusahaan susu internasional serta produsen susu formula besar di China. Temuan ini menyoroti besarnya ketergantungan industri pangan global terhadap rantai pasok yang berpusat di China.


Nestlé Tarik Produk di Hampir 60 Negara

Sebagai perusahaan makanan dan minuman terbesar di dunia, Nestlé mengumumkan penarikan susu formula bayi di hampir 60 negara, menjadikannya salah satu aksi penarikan terbesar dalam sejarah perusahaan tersebut.

Produk yang terdampak meliputi merek:

  • SMA
  • Nestlé Beba
  • Nestlé NAN
  • Nestlé Althéra / Enfamil Sensitive

Penarikan dilakukan di Eropa, Amerika Latin, Afrika, Timur Tengah, dan kawasan Asia-Pasifik, dengan peringatan resmi telah dikeluarkan di berbagai negara.


Eropa Perketat Standar Keamanan Susu Bayi

Menanggapi kasus ini, Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA) memperketat standar batas paparan toksin Bacillus cereus dalam susu formula bayi.

EFSA menetapkan ambang batas maksimum 0,014 mikrogram per kilogram berat badan bayi. Lembaga tersebut menegaskan bahwa bayi baru lahir memiliki sistem metabolisme yang berbeda, sehingga memerlukan perlindungan ekstra terhadap zat beracun.


Kekhawatiran Lama atas Keamanan Pangan China

Kasus ini kembali menyoroti rekam jejak panjang masalah keamanan pangan di China. Publik internasional masih mengingat skandal susu formula bermelamin tahun 2008, yang menyebabkan sekitar 30 juta bayi dan anak-anak menjadi korban, dengan ribuan mengalami gangguan kesehatan serius.

Insiden terbaru ini memperkuat kekhawatiran bahwa risiko keamanan pangan tidak lagi bersifat domestik, melainkan berdampak langsung pada kesehatan global melalui rantai pasok internasional.


Dampak Global Rantai Pasok “Berbasis China”

Pengamat menilai kasus ini menjadi peringatan keras bahwa globalisasi rantai pasok yang terlalu terpusat pada satu negara membawa risiko sistemik, khususnya untuk produk sensitif seperti makanan bayi.

Ketergantungan perusahaan multinasional terhadap pemasok bahan baku dari China kini kembali menjadi sorotan tajam, baik dari sisi regulasi, transparansi, maupun pengawasan kualitas.


Kesimpulan

Penarikan massal susu formula bayi oleh Nestlé, Lactalis, dan Danone bukan hanya persoalan produk cacat, tetapi mencerminkan kerentanan serius dalam sistem pangan global. Dengan sumber kontaminasi yang ditelusuri ke perusahaan China, kasus ini menegaskan pentingnya pengawasan ketat, diversifikasi rantai pasok, dan transparansi internasional, terutama untuk produk yang menyangkut keselamatan bayi dan anak-anak.


#SusuFormula #RecallGlobal #KeamananPangan #China #Nestle #Danone #Lactalis #ARAoil #BacillusCereus #BeritaInternasional #FoodSafety#SusuFormula #RecallGlobal #KeamananPangan #China #Nestle #Danone #Lactalis #ARAoil #BacillusCereus #BeritaInternasional #FoodSafety

0 comments