Zhu Yufu Ungkap Penguntitan dan Serangan Siber PKC di Luar Negeri
Zhu Yufu, tokoh senior demokrasi China dan salah satu pendiri Partai Demokrat China, mengungkap pengalaman pribadinya menjadi sasaran penguntitan lintas negara dan serangan siber oleh PKC setelah menetap di luar negeri. Kesaksiannya memperlihatkan bagaimana represi PKC tidak berhenti di dalam negeri, tetapi meluas hingga ke dunia internasional.
Pernah Dipenjara 16 Tahun di China
Zhu Yufu merupakan salah satu pendiri Partai Demokrat China dan dikenal sebagai tokoh demokrasi senior. Ia tiga kali dipenjara oleh PKC, dengan total masa tahanan mencapai 16 tahun. Selama di penjara, ia menderita berbagai tekanan berat dan kemudian didiagnosis kanker lambung.
Pada 2024, setelah melalui berbagai pembatasan dan tekanan, PKC akhirnya mengizinkannya pergi ke Jepang untuk berobat, namun dengan syarat ketat:
- tidak boleh pergi ke Amerika Serikat,
- tidak boleh terlibat kegiatan gerakan demokrasi,
- dan tidak boleh bertemu aktivis demokrasi selama berada di Jepang.
Ancaman dan Isyarat Penguntitan di Jepang
Selama enam bulan di Jepang, menjelang masa berlaku visanya berakhir, aparat keamanan China (Guobao) mendesaknya untuk segera kembali ke Daratan China. Zhu mengungkapkan bahwa seorang aparat bahkan mengirimkan foto secara implisit sebagai ancaman.
Menurut Zhu, foto tersebut menunjukkan lokasi transit di Bandara Narita, Jepang, sebagai pesan tersirat bahwa aparat China telah berada di Jepang untuk melacak keberadaannya.
“Itu sangat jelas isyaratnya: Mereka ingin mengatakan bahwa mereka sudah mengirim orang untuk mencariku,” ujar Zhu.
Ia menegaskan bahwa pengaruh PKC di Jepang bukanlah sesuatu yang baru, melainkan hasil dari jaringan yang telah dibangun puluhan tahun.
Tiba di Amerika Serikat dengan Bantuan Pemerintah AS
Dengan bantuan pemerintah Amerika Serikat, Zhu Yufu tiba di Bandara Los Angeles pada 28 Juli 2024. Di negara yang ia sebut sebagai “tanah kebebasan”, Zhu tetap aktif menyuarakan kondisi hak asasi manusia di China.
Ia menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap rakyat China yang hidup di bawah sistem otoriter PKC.
“Bangsa kami hidup tanpa martabat, tertindas, dan dipaksa saling menyakiti. Ini menyakitkan hati. Tapi saya percaya, China masih punya masa depan,” kata Zhu.
Tekanan PKC Meski Sudah di Luar Negeri
Pada Februari 2025, Zhu mengorganisir aksi damai di depan Konsulat China untuk menyerukan pembebasan Jimmy Lai, pendiri Apple Daily Hong Kong. Namun, aparat keamanan China di Hangzhou kembali menghubunginya melalui telepon dan melarangnya ikut serta dalam aksi tersebut.
Zhu menolak tekanan itu dan menegaskan pentingnya solidaritas terhadap korban penindasan.
Serangan Siber dan Gangguan Digital
Selain tekanan langsung, Zhu juga menjadi target serangan siber terarah. Ia mengungkap bahwa akun Telegram-nya berulang kali terkena serangan malware, terutama ketika bergabung dengan grup-grup oposisi dan komunitas demokrasi.
Serangan tersebut berupa:
- spam masif,
- tautan situs pornografi,
- hingga gangguan yang membuatnya tidak bisa mengakses grup diskusi.
Menurut Zhu, metode ini bertujuan mengacaukan komunikasi dan mematahkan semangat perlawanan.
Pengalaman tentang Represi Lintas Negara Sejak di Penjara
Zhu mengungkap bahwa saat masih dipenjara di China, ia sudah mendengar langsung dari sesama narapidana—termasuk mantan tentara—tentang operasi rahasia PKC di luar negeri, termasuk dugaan pembunuhan terhadap target tertentu.
Ia menyinggung kasus historis di mana agen PKC disebut melakukan pembunuhan terhadap pihak yang dianggap membahayakan rezim.
Infiltrasi Agen PKC di Komunitas Diaspora
Setelah berada di AS, Zhu juga menyaksikan secara langsung infiltrasi PKC ke dalam komunitas aktivis demokrasi luar negeri. Ia menyoroti kasus Tang Yuanjun, seorang aktivis anti-PKC yang pada 2025 di New York mengaku bersalah karena bertindak sebagai agen ilegal PKC, memata-matai para pembangkang.
Zhu menegaskan bahwa foto-foto kegiatan aksi yang dikumpulkan agen seperti ini bukan informasi sepele, melainkan alat utama represi lintas negara untuk mengintimidasi dan menebar ketakutan.
Seruan kepada Komunitas Internasional
Zhu Yufu menilai bahwa semakin terbukanya tindakan represif PKC di luar negeri justru mencerminkan kepanikan dan mentalitas “akhir zaman” dari rezim tersebut.
Ia menyerukan agar komunitas internasional:
- lebih waspada terhadap operasi PKC,
- segera mengidentifikasi pola represi lintas negara,
- dan memutus jaringan intimidasi PKC sebelum semakin meluas.
“Jika perlu, mereka bahkan bisa menghilangkan nyawa seseorang. Karena itu, dunia internasional harus bertindak cepat untuk menghentikan tangan besi ini,” tegas Zhu.
Kesimpulan
Kesaksian Zhu Yufu membuka gambaran nyata tentang represi lintas negara yang dilakukan PKC, mulai dari penguntitan fisik, tekanan diplomatik, infiltrasi agen, hingga serangan siber. Kasus ini menunjukkan bahwa ancaman terhadap kebebasan dan hak asasi manusia tidak berhenti di dalam China, melainkan telah menjadi isu global yang menuntut perhatian serius dari masyarakat internasional.
#ZhuYufu #China #PKC #RepresiLintasNegara #HakAsasiManusia #DemokrasiChina #KeamananSiber #DiasporaChina #BeritaInternasional #HAM

0 comments