Putra Mahkota Iran di Pengasingan: Lebih dari 150 Ribu Aparat Ingin Lepas dari Rezim

Gelombang protes besar yang melanda Iran selama hampir satu bulan memunculkan klaim mengejutkan dari Putra Mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi. Foto: NOPO (Niru-ye Vijheh-ye Pasdaran-e Valaayat) adalah unit pasukan khusus kontra-terorisme elit di bawah komando Kepolisian Iran (FARAJA/NAJA). Mereka bertugas menangani situasi krisis tingkat tinggi seperti penyanderaan, sabotase, dan operasi penangkapan berbahaya.

Gelombang protes besar yang melanda Iran selama hampir satu bulan memunculkan klaim mengejutkan dari Putra Mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi. Dalam wawancara dengan media Amerika, ia menyebut lebih dari 150 ribu personel militer dan pejabat pemerintah ingin meninggalkan rezim, sementara jumlah korban tewas diperkirakan telah melampaui 20 ribu orang.

Protes Iran Disebut “Revolusi Sejati”

Putra Mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, menyatakan bahwa gelombang protes kali ini berbeda dari aksi-aksi sebelumnya. Menurutnya, rakyat Iran turun ke jalan karena sudah benar-benar muak terhadap rezim yang berkuasa.

Ia menegaskan bahwa protes ini bukan sekadar kelanjutan dari gerakan lama, melainkan sebuah awal baru yang bersifat revolusioner.

Klaim Korban Tewas Capai Puluhan Ribu

Dalam wawancara dengan CNN, Pahlavi mengungkapkan estimasi korban jiwa yang jauh lebih besar dibandingkan laporan resmi. Berdasarkan informasi dari dalam negeri, ia menyebut jumlah korban tewas di seluruh Iran kemungkinan telah melebihi 20 ribu orang.

Ia mengungkapkan bahwa hanya di ibu kota Teheran saja, jumlah korban tewas diduga telah mencapai lebih dari 15 ribu orang. Informasi tersebut ia peroleh dari kontak internal, termasuk para tahanan politik.

Pemerintah dan Militer Disebut Terbelah

Pahlavi juga membocorkan adanya perpecahan serius di dalam tubuh pemerintahan dan militer Iran. Ia mengklaim sedikitnya 150 ribu personel dari kalangan militer, paramiliter, polisi, birokrat sipil, pejabat pemerintah, hingga diplomat, ingin melepaskan diri dari rezim.

Menurutnya, banyak dari mereka menolak masuk kerja, bahkan memilih membelot.

Platform Oposisi Terus Dibanji Pendukung

Pada Juli tahun lalu, Pahlavi mengatakan kepada majalah Politico bahwa sekitar 50 ribu pejabat militer dan pemerintahan telah bergabung dengan platform oposisi yang ia dirikan. Jumlah tersebut kini terus bertambah secara signifikan.

Ia menyebut bahwa hanya dalam dua hari sebelum pemerintah memutus jaringan internet, lebih dari 100 ribu orang kembali mendaftarkan diri untuk bergabung dengan platform oposisi tersebut.

Iran Putus Internet Selama Tiga Pekan

Pemerintah Iran dilaporkan telah memutus akses internet selama hampir tiga minggu guna membatasi arus informasi. Meski demikian, kabar mengenai situasi di dalam negeri tetap berhasil menembus ke dunia luar melalui jalur-jalur tidak resmi.

Langkah pemutusan komunikasi ini dinilai sebagai upaya rezim untuk menutupi skala penindasan dan jumlah korban sebenarnya.

AS Pantau Ketat Situasi Iran

Dua pekan lalu, Reza Pahlavi dilaporkan melakukan pertemuan rahasia dengan utusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Steven Witkoff. Pemerintah AS disebut memantau perkembangan di Iran dengan sangat serius.

Washington baru-baru ini mengirimkan gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln ke kawasan Timur Tengah, serta menjatuhkan sanksi terhadap “armada bayangan” guna memutus sumber pendanaan rezim Iran.

Kesimpulan

Pernyataan Putra Mahkota Iran di pengasingan mengindikasikan bahwa rezim Iran tengah menghadapi tekanan internal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan korban tewas yang diduga mencapai puluhan ribu orang dan gelombang pembelotan besar-besaran dari aparat negara, stabilitas pemerintahan Iran berada di titik kritis. Perkembangan ini berpotensi membawa perubahan besar dalam peta politik Iran dan kawasan Timur Tengah.


#IranProtes #RezaPahlavi #RevolusiIran #KrisisIran #ProtesIran #HakAsasiManusia #PolitikTimurTengah #RezimIran #GeopolitikGlobal

0 comments