200 Tokoh ‘Red Second Generation’ Dilaporkan Mendesak Xi Jinping Tentukan Calon Penerus, Namun Kebenarannya Dipertanyakan
Desakan agar Xi Jinping menentukan calon penerus kembali mencuat setelah seorang analis politik mengungkap kabar bahwa lebih dari 200 tokoh "red second generation" atau keturunan elit Partai Komunis Tiongkok dikabarkan mengajukan permintaan resmi agar Xi mencari pengganti. Namun kebenaran informasi ini masih sulit diverifikasi dan dinilai sangat sensitif secara politik.
Isu mengenai siapa yang akan menjadi penerus pemimpin Tiongkok dan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Tiongkok (PKT) Xi Jinping kembali menjadi sorotan. Seorang analis politik independen, Cai Shenkun, mengungkap bahwa lebih dari 200 orang dari kalangan “red second generation”—yakni keturunan tokoh pendiri atau elit PKT—diduga telah menandatangani surat bersama untuk meminta Xi segera menentukan calon penerus.
Cai menyebut, kelompok tersebut hanya memberikan “saran” kepada Xi Jinping mengingat usianya yang kini telah melampaui 70 tahun dan hingga kini belum menunjukkan arah penunjukan penerus kekuasaan.
Meski demikian, kebenaran laporan ini belum dapat diverifikasi secara independen.
Ahli: Kemungkinan 200 Tokoh Elit Tiongkok Bersurat Secara Kolektif Sangat Kecil
Peneliti di Institut Penelitian Keamanan Pertahanan Nasional Taiwan, Gong Xiangsheng, menyatakan bahwa suara-suara yang mempertanyakan absennya calon penerus memang mungkin ada di internal PKT. Namun, ia meragukan adanya koordinasi kolektif dalam skala besar seperti yang disebutkan.
“Aliansi horizontal dalam jumlah sebesar itu akan menimbulkan kecurigaan serius bagi Xi Jinping dan dapat dianggap mengancam stabilitas kekuasaannya,” ujar Gong.
Pengamat politik Zheng Haochang juga menilai, apabila aksi semacam itu benar-benar terjadi, Xi kemungkinan akan menganggapnya sebagai bentuk tekanan politik, terlebih setelah Rapat Pleno Keempat baru saja selesai dan restrukturisasi besar dalam tubuh militer tengah berlangsung.
Xi Jinping Singkirkan Jalur Suksesi Sejak 2018
Pada tahun 2018, PKT mengamandemen konstitusi untuk menghapus batas masa jabatan presiden, membuka jalan bagi Xi untuk berkuasa tanpa batas waktu. Sejak saat itu, Xi telah meminggirkan atau menyingkirkan sejumlah figur yang sebelumnya diduga sebagai penerus, termasuk:
- Sun Zhengcai – ditangkap dan dihukum
- Hu Chunhua – tersingkir dari Politbiro pada Kongres ke-20
- Chen Min’er – kemudian dikurangi pengaruhnya
Profesor studi internasional di Universitas St. Thomas, Ye Yaoyuan, menyatakan bahwa langkah-langkah tersebut menunjukkan keinginan Xi untuk mengokohkan kekuasaannya selama mungkin.
Namun, pengamat politik Wang He memperingatkan bahwa ketiadaan penerus justru dapat memicu krisis internal besar di tubuh PKT.
“Jika Xi tidak menentukan penerus dan tiba-tiba terjadi sesuatu, partai akan menghadapi krisis besar, bahkan disintegrasi mendadak,” ujarnya.
Kesimpulan
Isu mengenai tuntutan agar Xi Jinping menentukan penerus kembali mengemuka, namun kebenaran klaim mengenai 200 ‘red second generation’ yang bersurat masih tidak dapat dipastikan. Meski demikian, para analis sepakat bahwa keengganan Xi untuk memilih penerus berpotensi melemahkan stabilitas internal PKT. Di tengah krisis ekonomi dan geopolitik yang membayangi Tiongkok, persoalan suksesi kekuasaan diperkirakan akan tetap menjadi titik sensitif dalam politik Beijing.
#XiJinping #Tiongkok #PartaiKomunisTiongkok #PolitikTiongkok #RedSecondGeneration #SuksesiKekuasaan #BeritaInternasional #IsuGlobal

0 comments