Meningkatnya Kasus Anak Hilang di Tiongkok Soroti Dugaan Perdagangan Organ, Meski Negara Diawasi 7 Miliar Kamera



Laporan mengenai meningkatnya kasus anak hilang di Tiongkok kembali menuai perhatian. Meski negara tersebut dikenal memiliki sistem pengawasan kamera terbesar di dunia, banyak pihak mempertanyakan mengapa banyak kasus tidak terungkap. Beberapa aktivis HAM menuding situasi ini terkait dugaan jaringan perdagangan organ manusia yang disebut melibatkan sistem dan lembaga negara. Namun klaim ini masih memerlukan verifikasi independen.


Kasus orang hilang di Tiongkok kembali menyita perhatian publik internasional. Laporan dari sejumlah media dan aktivis hak asasi manusia (HAM) menunjukkan bahwa hanya dalam 22 hari pada Oktober, tercatat 107 orang hilang, sebagian besar adalah anak-anak, bahkan ada yang berusia 5 tahun.

Kondisi ini dianggap janggal mengingat Tiongkok merupakan negara dengan sistem pengawasan kamera (CCTV) terbesar di dunia, dengan perkiraan lebih dari 7 miliar kamera dipasang di ruang publik hingga lingkungan pemukiman.

Ketua Aliansi Pengacara HAM Tiongkok di Luar Negeri, Wu Shaoping, menyebut situasi ini sebagai anomali sosial yang serius.

“Dalam masyarakat normal, hilangnya banyak orang adalah alarm nasional. Tetapi di Tiongkok, fenomena ini dibiarkan terus terjadi,” ujarnya.

Meski Pengawasan Ketat, Banyak Kasus Tidak Terungkap

Laporan media Tiongkok sebelumnya menyebut, sekitar 200.000 anak hilang setiap tahun, namun tingkat keberhasilan menemukan kembali korban hanya sekitar 0,1%.

Menurut Wu Shaoping, sistem pengawasan seperti "Proyek Snow Bright" yang diklaim dibuat untuk keamanan publik, pada kenyataannya lebih banyak digunakan untuk memantau aktivitas masyarakat, bukan melindungi warga.

“Ini menunjukkan bahwa keselamatan manusia bukan prioritas,” katanya.

Aktivis dan Narasumber Tuduh Ada Keterkaitan dengan Perdagangan Organ

Seorang pria yang mengaku sebagai anak pejabat daerah di Jiangsu dan pernah bekerja di lingkungan sistem pemerintahan, mengungkap bahwa anak dan remaja menjadi target utama dalam perdagangan organ, karena organ tubuh mereka dianggap lebih sehat dan bernilai tinggi.

Ia menuduh bahwa praktik tersebut tidak hanya dilakukan oleh jaringan kriminal, tetapi diduga melibatkan institusi tingkat negara. Klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen.

Selama bertahun-tahun, kelompok HAM internasional dan penyelidik independen telah menuduh adanya praktik pengambilan organ secara paksa di Tiongkok, termasuk terhadap tahanan keyakinan. Pemerintah Tiongkok membantah tuduhan tersebut.

Lonjakan Transplantasi Organ Juga Menjadi Sorotan

Data dari lembaga medis Tiongkok menunjukkan peningkatan jumlah transplantasi organ secara drastis dalam dua dekade:

  • 1998: sekitar 1.049 kasus transplantasi
  • 2019: tercatat lebih dari 19.000 kasus

Penyelidik dari organisasi “World Organization to Investigate the Persecution of Falun Gong (WOIPFG)” mengklaim bahwa organ donor tersedia dalam hitungan hari hingga minggu, jauh lebih cepat dibanding negara lain, yang biasanya menunggu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

Hal inilah yang memicu spekulasi bahwa ada sistem suplai organ yang terorganisasi, meski pemerintah Tiongkok tidak pernah mengonfirmasi hal tersebut.


Kesimpulan

Kasus hilangnya anak dan remaja di Tiongkok terus menjadi perhatian, terlebih dengan adanya dugaan keterkaitan dengan jaringan perdagangan organ manusia. Meski beberapa pengacara HAM dan mantan orang dalam memberikan kesaksian, sebagian besar klaim masih memerlukan bukti dan verifikasi lebih lanjut. Namun, keberadaan sistem kamera nasional yang sangat masif namun tidak efektif dalam menangani kasus orang hilang tetap memunculkan banyak pertanyaan publik mengenai prioritas dan transparansi pemerintah dalam penanganan isu ini.


#Tiongkok #HAM #AnakHilang #PerdaganganOrgan #BeritaInternasional #InvestigasiGlobal #KeamananPublik #CCTV #ChinaNews

0 comments